Rabu, April 21, 2021

Seni dan Absennya Kemanusiaan [Catatan Kecil untuk Irma Hidayana]

Konflik Sabda Raja dan Kesantunan Wong Jogja

Tidak bisa dipungkiri, Sabda Raja dimanfaatkan oknum-oknum untuk berkonflik. Bedanya, konflik orang-orang Jogja tidak vandalis. Konflik Jogja terlihat santun dan karenanya tidak menarik untuk dikonsumsi. Mulanya,...

Siapa yang Sah Mewakili Teknokrat? [Catatan untuk Goenawan Mohamad]

Pada 25 September 1971, ketika majalah Tempo baru terbit pada tahun pertama, dan usia rezim Soeharto masih seumur jagung, jurnalis dan sastrawan muda Goenawan...

“Muslim Ngefriend” dan Generasi Medsos

  Fenomena pemahaman keagamaan yang ekslusif dan cenderung radikal sudah masuk ke dunia pendidikan. Sekolah-sekolah (khususnya SLTA) dan kampus-kampus ternama di tanah air—termasuk di dalamnya...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...
Avatar
Zaenal Muttaqien
Sedang studi S2 di Faculté de lettres, langues, arts, et sciences humaines, Université de Valenciennes, Perancis.

Günther von Hagens (tengah) dan salah satu karyanya, “The Plastinator”.

Jika mau berterus terang, sebenarnya tidak ada yang “istimewa” dalam acara Makan Mayit suguhan Natasha Gabriella Tontey tempo hari. Meskipun begitu, riak-riak imajiner yang sengaja dikonstruksi di media sosial ternyata berhasil menarik perhatian, salah satunya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise. Tanggapan negatif terhadapnya tentu bukanlah sesuatu yang ganjil.

Mencoba memaksakan perbandingkan evaluatif, dalam sudut pandang sains dan etika sebagai payung publik (Irma Hidayana, Makan Mayit: Soal Manusia dalam Karya Seni), juga bukan merupakan sebuah hal yang mengagetkan lagi. Karena, sejatinya, penjabaran analisa dari kedua bidang tersebut akan bersifat oposisi terhadap karya seni. Ibarat sebuah warna, tumpuan perbandingan itu cenderung akan hitam kontra putih.

Keberadaan Letupan Karya Seni
Seni merupakan suatu bidang yang berada di tengah tarikan liat antara keilahian dan kebudayaan, antara yang sakral dan yang profan. Ia pun bisa dianggap sebagai percampuran yang khas antara unik, distingtif, dan paradoks secara bersamaan. Sususan batas ketat apakah suatu karya masuk dalam kategori seni atau bukan seni pun dipandang relatif. Elemen-elemen penilaian atasnya tergantung pada konvensi budaya yang berlaku.

Karya seniman Prancis Gustave Courbet L’origine du monde (1866) tentu bukanlah suatu karya yang mencerminkan nilai-nilai ketimuran. Nuansa erotisme dan kevulgaran yang dicitrakan di sana mesti berlawanan (berseberangan) dengan sudut pandang kepercayaan atau agama tertentu. Akan tetapi, bagi sebagian besar orang Barat, karya lukis tersebut dianggap bisa menunjukan “aura” keotentikan melebihi referen aslinya.

Karakteristik karya seni pada zaman Suharto nampaknya juga berkaitan dengan konsep pembahasan budaya yang berlaku. Konsensus artistik yang berjalan saat itu kentara sekali tidak sesuai bagi lukisan representatif Joko Pekik Pawang Kesurupan (2012). Unsur politis metaforik yang ada di dalamnya mampu menunjukkan kebobrokan hukum di Indonesia yang hilang kesadaran dalam fungsi dan perannya sebagai Lembaga Peradilan. Sebagaimana diperlihatkan di sana, tindak pidana korupsi tidak mempedulikan bentuk makanan apakah ia (masih) bernyawa ataupun tidak.

Pada zaman Orde Baru, dua pola sebaran kesenian yang muncul ke permukaan adalah karya yang those for dan those against (Heryanto, 2008). Karya seni versi pemerintah sebagai legitimasi kulural melawan karya yang diabsenkan dalam kritik sosial dan politik. Alasannya jelas, meminimalisasi potensi-potensi yang dapat mengganggu stabilitas negara.

Kembali ke lukisan dan figur Joko Pekik. Seandainya Presiden Suharto masih memimpin, mungkin ia akan menindak kembali seniman “Satu Miliar” tersebut. Sebab, Joko Pekik tetap memegang teguh idealismenya melalui karya yang mengkritik tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang tidak pro-rakyat.

Di zaman milenium yang serba cepat dan terbuka, munculnya kegandrungan seniman dalam membuat sebuah karya yang anti-keindahan memang tengah membelit disiplin estetika. Pergeseran mazhab itu terlihat pada term eksplorasi “sensasi” yang ingin didapatkan. Misalnya, karya Chris Burden (menembak diri sendiri), Carolee Schneeman (memasukkan sesuatu ke dalam area vitalnya), dan Günther von Hagens (objektifikasi deretan mayat). Kalaupun mau jujur, manifestasi karya para seniman tersebut, walaupun lebih menantang sekaligus menegangkan, mencerminkan pemisah dirinya dari kosakata seni aliran realisme, (post) impressionisme, fauvisme, dan lain sebagainya.

Merujuk kepada hasil kerja gabungan Tontey dan Footurama pada Sabtu (25/02/2017) di Jakarta, acara Makan Mayit secara nyata mendemonstrasikan kecenderungan penelusuran sensasi harfiah di atas. Sajian karya seni yang dipersembahkannya dinilai sebagai eksperimen fantasi kanibal yang mau dibumikan ke khalayak umum (dunia timur).

Bahkan, menurut Joko Anwar, sutradara film Pintu Terlarang (2009), eksperimen hidangan makan malam itu bersifat edukatif. Tujuannya, untuk membuka pikiran orang atas fenomena yang dirasa masih asing. Meminjam kacamata kritikus besar abad ini, Clement Greenberg dalam Art and Culture (1961), karya seni Tontey secara ekplisit melambangkan perlawanan terhadap kiblat penilaian berupa standar umum keindahan seni.

Tontey mencoba bermain-main sendiri dengan medium yang ia pilih berdasarkan abstraksi pemikiran yang berbeda dengan orang lain. Dengan begitu, secara spontan orang pasti akan merasa pilu apabila melihat jamuan kudapan berbentuk otak, wadah bonek bayi dan sup air susu ibu yang tersaji di meja makan. Hal itu terlihat lebih banyaknya komentar miring daripada apresiasi karyanya.

Karya Seni Sebagai Interupsi
Ketika situasi dan kondisi memudarnya makna keindahan dalam dunia kesenian, karya seni masih tetap menyimpan kecakapan untuk membawa segala bentuk interupsi. Walau kadang sosoknya tidak lagi akrab dengan dasar estetika (dekoratif), karya seni sanggup membuat sebuah kritik tanpa kompromi. Hal itu dapat ditemukan, misalnya, pada penyelenggaraan acara “Documenta 10” (dX) tahun 1997 di Kassel, Jerman.

Berdasarkan ide agenda looking back into the future, Direktur acara Catherine David meminta para seniman untuk berhenti sejenak melihat kembali kultur yang dibentuk oleh kemajuan teknologi dan sains. Terutama sekali akibat serius yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I dan II. Ia pun menambahkan bahwa tembok peradaban modern seolah-olah melupakan sejarah yang terjadi saat itu. Kesimpulannya, tendensi yang dibangun pada zaman sekarang adalah peminggiran nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu seniman peserta “Documenta 10” asal Brasil, Tunga, menuturkan bahwa melalui karya Inside out, upside down (1994-97), ia berusaha mengetengahkan sisi kemanusiaan di tengah rendahnya harga nyawa manusia di dunia modern. Dalam bentuk parodi pertunjukan, ia mengilustrasikan kejahatan fisik yang dilakukan oleh individu dan ilmu pengetahuan (nuklir).
Andaikan saja tema retrospektif di atas ditengok oleh Tontey, acara Makan Mayit sedianya mempunyai konteks yang sangat tegas dan luas.

Kontekstualisasi itu dapat ditarik umpamanya pada simbolisme yang dipilih, yakni cetakan dan boneka bayi. Simbol-simbol tersebut bisa diartikan sebagai perwujudan kritik pada tingkat kekerasan dan pencabutan nyawa anak-anak yang semakin meningkat di Indonesia.

Berdasarkan laporan kerja Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2012 saja, kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat sebanyak 87.6% dan 17.9 %. Sedangkan yang terjadi di lingkungan keluarga sebanyak 91% anak menjadi korban kekerasan. Jumlah persentase itu tersebar ke dalam 9 provinsi.

Selaku aktivis kesetaraan gender dan musisi yang jadi peserta acara Makan Mayit, Kartika Jahja semestinya sadar dan mafhum atas realitas di atas. Ia pun sebetulnya bisa menyampaikan bahwa tindak kekerasan pada anak-anak setara dengan kenyataan yang terjadi pada perempuan. Bukan malah tenggelam sepenuhnya pada kesan fantasi kanibal yang ditimbulkan oleh acara tersebut.

Bukankah satu poin fokus kebudayaan adalah merepresentasikan dan merefleksikan realitas yang terjadi di sekitar kita?

Mungkin alangkah baiknya mengingat sejenak acara Menafsir Munir, Melawan Lupa (2/12/2012) yang dihadiri oleh Butet Kertaradjasa, Goenawan Mohamad, dan Joko Pekik. Selain merepresentasikan kasus Munir yang belum diselesaikan juga, acara tersebut merefleksikan absennya keseriusan negara dalam memproses kasus kerusuhan Mei 1998 (aktivis, etnis tionghoa), Tanjung Priok, Talang Sari, dan lain-lain.

Avatar
Zaenal Muttaqien
Sedang studi S2 di Faculté de lettres, langues, arts, et sciences humaines, Université de Valenciennes, Perancis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.