Sabtu, Mei 15, 2021

Raisa dan Hal-hal Lain yang Perlu Kita Bicarakan

Apa yang Diperkuat oleh Obat Kuat? Patriarki!

Perkosaan, katanya, disebabkan oleh syahwat yang tak dikekang. Maka, untuk mencegahnya, sumbernya perlu diputus. Entah pelakunya dikebiri. Entah wanita tak boleh tampil terlalu bahenol...

Tata Kelola Mekkah yang Berantakan

11 September 2015, sebuah crane jatuh di Masjidil Haram menimpa ratusan jamaah yang berada tepat di sekitar crane tersebut. Badai dari cuaca tak bersahabat merontokkan crane dari posisinya. Crane runtuh menimpa para...

Ada Apa dengan Identitas dan Kebhinekaan? 

Kini kembali mencuat leksikon mayoritas dan minoritas di Indonesia. Dari fenomena itu tiba-tiba kita dipaksa berpikir atau bertindak masuk ke dalam himpunan mayoritas atau...

Aksi Bela Islam ala Muslim Jakarta vs “Kafir” New York

Sejak akhir tahun 2016 lalu, berlangsung aksi massa berjilid-jilid di Indonesia, yang bertajuk Aksi Bela Islam. Menurut saya, ini merupakan pencapaian gemilang umat Muslim...
Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

Penyanyi Raisa pamer kemesraan dengan sang kekasih.

RAISA adalah milik kita, sebagaimana Dian Sastro. Mereka telah menjadi milik publik sejak menjadi figur publik itu sendiri. Tidak berlebihan jika kemudian ada seloroh tentang “Hari Patah Hati” yang merebak seiring pemberitaan mengenai seorang laki-laki yang melamar Raisa. Nama laki-laki itu tak usah kita sebut-sebut lagi, lah. Buat apa? Hanya akan menambah lara hati yang patah.

Andai setiap waktu ada hiburan seperti ini niscaya kita bisa sejenak melupakan ketegangan sosial yang marak di berbagai unggahan akun-akun media sosial. Saya pribadi masih konsisten untuk tidak perlu sakit hati pada akun-akun media sosial. Mereka hanya akun, bukan manusia–meski penggeraknya manusia, jika bukan bot. Jadi, jika Anda “berperang” di media sosial, tak perlu benar-benar marah.

Kehidupan di dunia nyata saja fana, apalagi kehidupan di dunia maya. Ketika ngopi di kediaman Gus Islah pada waktu jeda Halaqah Internasional Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Tambak Beras, saya dan Gus Rizal Wijaya tenang-tenang saja membicarakan Raisa. Bagi kami, Raisa hidup di dunia maya. Dilamar atau tidak dilamar oleh laki-laki itu, ia tidak tersentuh oleh kami, juga oleh Banser.

“Lebih baik Sampeyan pastikan kepada Gus Yaqut, kapan jaket Banser akan Sampeyan terima. Saya sih dulu beli di koperasi, bahkan sampai dua kali, dan semuanya lepas dari tangan karena selalu diminta orang,” kata Gus Rizal. Tanpa menunda waktu, saya langsung tanya kepada Ketua GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas, via Whatsapp. Ia menjawab,”Santai. Banser tak pernah ingkar janji.”

Tentu saja saya percaya Gus Yaqut, walaupun kita tidak bisa pukul rata setiap perkataan dalam ruang-ruang teknologi komunikasi saat ini bisa dipercaya. Kita bahkan tidak benar-benar tahu siapa yang mengetik di Whatsapp itu, kan? Kita pernah mendapati seseorang berapologi “kepencet” atau “salah kirim” atau “Whatsapp saya dibajak teman” ketika keanehan tiba-tiba muncul di chat-room.

Teknologi memang mengalami kemajuan, namun peradaban ternyata mengalami kemunduran. Lihatlah, orang-orang bisa seenaknya mengunggah foto-foto korban kecelakaan yang berdarah-darah atau bahkan jenazah, gambar yang seram, meme yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, ujaran kebencian dan permusuhan, dan suntingan foto yang menjadi jauh berbeda dari aslinya.

Teknologi komunikasi berhasil membuat yang jauh menjadi dekat, tapi sekaligus membuat yang dekat menjadi jauh. Anak dan orangtua memang terbantu dalam berkomunikasi–terutama bagi orangtua yang bekerja, atau terpisah jarak–tapi teknologi komunikasi ini juga memancing kita ngobrol sambil terus menatap gawai ketika bertemu muka. Update status dan comment menjadi sebegitu penting.

Ketika siskamling telah digantikan oleh portal dan satpam komplek, saat dolanan bocah sudah tersisihkan oleh aneka games, tatkala kehadiran pun kini bisa diakali dengan video-call, bahkan takziah dianggap sah-sah saja diwakilkan pada meme karangan bunga, dan lain-lain, dan lain-lain, rasa-rasanya kita perlu untuk membicarakan kembali hal-hal mengenai manusia dan kemanusiaan kita sendiri.

Belum lagi kegaduhan-kegaduhan yang terus terjadi di media sosial, sampai saling hina dan saling hujat, bahkan di antara orang-orang yang tidak pernah saling bertemu, apalagi saling mengenal, stamina batin kita menjadi semakin letih. (O ya, maaf, maksud saya bukan orang-orang, tapi akun-akun). Apalagi jika ada “bukti” berupa unggahan yang telah kena capture, maka jadilah itu dosa abadi.

Sebagaimana dalam kehidupan dunia yang fana, tema-tema percakapan di dunia maya juga absurd. Mudah luntur, mudah berubah, sekaligus mudah solid. Namun, masyarakat di dunia maya bisa lebih tega dalam membubuhkan stempel. Seolah tidak memberi peluang pada akun siapa pun untuk mengubah jalan hidup. Riwayat unggahan menjadi rekam jejak yang kekal, bahkan meski sudah dihapus.

Namun, jangan coba-coba membawa masalah dalam kehidupan pribadi ke media sosial jika tak cukup siap untuk dijadikan sekadar bahan obrolan sesaat. Selebihnya, akun-akun akan kembali kepada fitrahnya yang maya: menyukai tema baru, menjadikannya trending topic, sekaligus menyimpan jejak unggahan untuk sewaktu-waktu dijadikan bahan gesek. Raisa pun takkan luput dari itu.

Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.