Selasa, Januari 13, 2026

Semesta yang Terbuat dari Cerita: Menuju Narasi Baru Hubungan Manusia dan Bumi

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Noel Gough dalam artikelnya Narrative and Nature: Unsustainable Fictions in Environmental Education (2014) mengajak kita untuk merenungkan kembali landasan filosofis dan linguistik dalam pendidikan lingkungan yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran objektif. Gough membuka argumennya dengan sebuah pemikiran radikal bahwa kita sebenarnya hidup berdasarkan “fiksi-fiksi pilihan”.

Pandangan kita terhadap realitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan sangat dikondisikan oleh posisi kita dalam ruang dan waktu. Dalam konteks ini, pendidikan lingkungan hidup itu sendiri sebenarnya berutang eksistensi pada interpretasi tertentu terhadap realitas yang sering kali tidak kita pertanyakan. Melalui kacamata poststrukturalisme, Gough berargumen bahwa banyak persepsi yang kita ajarkan saat ini sebenarnya merupakan fiksi yang tidak berkelanjutan atau unsustainable fictions.

Salah satu poin paling mencerahkan dalam artikel ini adalah analisis mendalam mengenai bagaimana tata bahasa atau gramatika membentuk interpretasi lingkungan kita. Gough menggunakan contoh perbedaan antara penutur bahasa Inggris dan bahasa Yolngu, masyarakat adat di Arnhem Land, Australia. Ketika melihat foto kano di pantai, penutur bahasa Inggris cenderung berkata, “Kano-kano itu tergeletak di pantai”. Dalam struktur ini, kano adalah subjek yang terpisah di dalam ruang, sementara lokasinya hanya menjadi predikat.

Sebaliknya, dalam bahasa Yolngu, subjek kalimatnya adalah hubungan spasial itu sendiri atau “keberadaan-di-atas-pantai”. Bagi orang Yolngu, dunia dimulai sebagai satu kesatuan yang saling terkait, dan bahasa mereka berfokus pada hubungan-hubungan tersebut, bukan pada objek yang terisolasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pembentuk cerita atau fiksi yang menentukan bagaimana kita memahami lingkungan.

Gough kemudian menyoroti bagaimana pendidikan lingkungan sering kali terjebak dalam “detasemen instrumental”. Banyak narasi formal dalam pendidikan lingkungan, seperti kebijakan kurikulum dan buku teks, sebenarnya mereproduksi disfungsi struktural masyarakat Barat. Narasi ini sering kali didasarkan pada metanarasi sains modern yang menekankan pemisahan antara fakta objektif dan nilai subjektif.

Akibatnya, bumi sering kali digambarkan hanya sebagai objek bernilai instrumental—seperti gudang sumber daya, laboratorium penelitian, atau tempat rekreasi. Gough memperingatkan bahwa krisis lingkungan global sebagian besar merupakan konsekuensi dari budaya masyarakat industri Barat yang menganggap alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi demi kepentingan manusia. Kita telah menumbuhkan pikiran yang merasa “tumbuh di atas alam” dan terpisah dari tubuh biologis kita sendiri.

Kritik tajam juga diarahkan pada penggunaan teori sistem yang sangat populer dalam pendidikan lingkungan. Meskipun teori sistem sering kali dimaksudkan untuk menjadi pendekatan yang holistik, dalam praktiknya teori ini justru bekerja secara atomistik. Teori sistem cenderung mengobjektifkan kualitas lingkungan, memberinya nama seperti siklus biogeokimia atau input dan output, dan mengukurnya seolah-olah kategori-kategori tersebut merepresentasikan dunia apa adanya.

Gough menyebut ini sebagai fiksi yang tidak berkelanjutan karena memperlakukan lingkungan layaknya mesin atau sistem sibernetik. Masalahnya, ketika kita menganggap masalah lingkungan sebagai kerusakan mesin, muncul implikasi bahwa masalah tersebut bisa diselesaikan dengan sekadar mengotak-atik bagian-bagiannya secara teknis. Padahal, alam bukanlah objek dan tentu saja bukan mesin.

Lebih jauh lagi, dominasi teori sistem ini telah mendistorsi pemahaman kita tentang rasionalitas. Dalam banyak kurikulum, teori sistem dianggap sebagai satu-satunya cara berpikir rasional tentang lingkungan. Gough mengutip Harold Brown yang menyatakan bahwa mengidentifikasi rasionalitas dengan logika algoritma atau mesin adalah hal yang aneh, karena itu berarti hanya menganggap rasional tindakan-tindakan manusia yang sebenarnya bisa dilakukan tanpa kehadiran manusia itu sendiri. Inilah inti dari tantangan yang dihadapi pendidikan lingkungan: bagaimana kita bisa beralih dari detasemen ilmiah menuju keterlibatan yang mendalam atau intractable involvement dengan alam.

Sejarah menunjukkan bahwa sebelum era modern, manusia memiliki hubungan yang jauh lebih dekat dengan bumi melalui metafora kekerabatan seperti “Ibu Pertiwi” atau melihat alam sebagai teks yang suci. Namun, revolusi ilmiah abad ke-17 yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Robert Boyle, dan Isaac Newton mengubah narasi tersebut menjadi pandangan mekanistik. Alam tidak lagi dianggap sebagai ibu, melainkan sebagai mesin atau bahkan “pelacur” yang harus ditaklukkan dan dibongkar rahasianya demi kemajuan kapitalisme. Penamaan ini bukan sekadar label, melainkan cara kita mengorganisir upaya adaptasi, penggunaan sumber daya, dan transformasi proses alam.

- Advertisement -

Menghadapi krisis ini, Gough menawarkan tiga pendekatan konstruktif melalui pemikiran poststruktural. Pertama, kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap teks-teks utama dalam pendidikan lingkungan, seperti laporan Our Common Future dari komisi Brundtland. Meskipun laporan tersebut dianggap sangat penting, Gough berargumen bahwa bahasanya masih dipenuhi dengan asumsi strukturalistik yang menekankan kontrol, efisiensi, dan manajemen instrumental. Peserta didik perlu diajak untuk menganalisis bagaimana bahasa teks tersebut membentuk makna dan mengeksplorasi perspektif politik, ekonomi, dan linguistik yang tersembunyi di baliknya.

Kedua, kita harus menjadi kritikus sosial yang mampu membongkar mitos-mitos yang mendominasi budaya kita sendiri. Di Australia, terdapat mitos yang menyamakan identitas nasional dengan lanskap unik yang liar dan kosong. Padahal, benua tersebut telah dihuni selama 40.000 tahun oleh masyarakat Aborigin yang memiliki budaya spiritual dan ekonomi berkelanjutan. Mitos “tanah kosong” ini sebenarnya adalah fiksi yang mengabaikan sejarah dan hanya berfungsi sebagai pelarian bagi masyarakat perkotaan dari masalah-masalah sosial di lingkungan mereka sendiri. Lanskap akhirnya hanya menjadi ruang budaya lain untuk dikolonisasi oleh konsumerisme.

Ketiga, dan mungkin yang paling penting, adalah menciptakan kembali bahasa dan mitos yang mengedepankan kekerabatan kita dengan alam. Kita perlu menyanyikan dunia ke dalam keberadaan melalui kondisi kehidupan modern dan industri. Inspirasi dapat diambil dari simbol-simbol awelye masyarakat adat yang menunjukkan bagaimana manusia adalah bagian tak terpisahkan dari tanah. Meskipun kita tidak boleh sekadar mencaplok metanarasi budaya lain, kita bisa belajar untuk mengembangkan simbol, citra, dan metafora baru dari berbagai bidang seperti teori kaos, bioteknologi, atau bahkan budaya populer.

Sebagai penutup, Gough mengingatkan bahwa alam semesta ini sebenarnya tidak hanya tersusun dari atom, melainkan tersusun dari cerita. Tanggung jawab pendidikan lingkungan adalah mengidentifikasi cerita-cerita yang berkelanjutan dan menyebarluaskannya. Kita harus memiliki keberanian untuk meragukan metanarasi lama yang bersifat mekanistik dan merusak. Dengan mengakui bahwa kita selalu terlibat secara mendalam dengan alam, kita dapat menemukan atau menciptakan fiksi berkelanjutan yang dapat menjadi dasar bagi kehidupan kita di masa depan.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.