Rabu, April 24, 2024

Selamat Jalan Pak Jakob

Petrus Richard Sianturi
Petrus Richard Sianturi
Lulusan Seminari Wacana Bhakti, Jakarta, dan Fakultas Hukum Unika Parahyangan, Bandung.

Hampir sembilan tahun lalu, kebetulan saya sedang duduk di baris paling depan, guru pendidikan kewarganegaraan menantang apakah saya berani untuk mengirimkan esai ke Kementerian Hukum dan HAM. Ada satu lomba esai nasional untuk anak-anak SMA yang temanya sekitar peran anak muda dan hak asasi manusia.

Waktu itu, buku yang sedang saya baca berjudul “Bersyukur dan Menggugat Diri” oleh Jakob Oetama. Di dalam buku ini, seingat saya, ada artikel beliau tentang “masalah bangsa”. Dan tanpa cari-cari sumber lain, artikel itulah yang saya jadikan sumber utama esai yang akhirnya saya kirimkan pada lomba itu.

Saya tidak ingat persis apa keseluruhan isi artikelnya, tetapi, seperti artikel-artikel beliau yang pernah saya baca, penekanan tentang isu kemanusiaan tidak bisa dilepaskan. Karena pada waktu itu kegelisahaan utama saya adalah tentang implementasi ujian nasional, yang saya konstruksikan telah melanggar hak-hak asasi siswa, penjabaran Pak Jakob amat berarti.

Esai saya, yang awalnya sekadar kegelisahan pribadi, akhirnya bisa menampilkan penjabaran lebih lengkap bagaimana konsep ujian nasional adalah juga isu kemanusiaan. Sebagaimana saya ikuti pola Pak Jakob-meskipun tentu, Pak Jakob tidak menulis spesifik tentang ujian nasional ujian nasional-saya konstruksikan lebih pada isu kemanusiaan daripada sekadar isu hak dan kewajiban,

Saya benar-benar menikmati keluasan dan insights dari tulisan-tulisan Pak Jakob. Saya mengkoleksi beberapa buku yang beliau tulis sendiri, biografi tentangnya atau kumpulan tulisan tentang pribadinya. Tulisan-tulisan Pak Jakob, jauh dari pembahasan rumit, njelimet dan tanpa arah.

Pak Jakob, sebatas yang saya pahami, lebih senang menuliskan apa masalah yang nyata-nyata terjadi di depan mata kita dan mengusulkan dengan bijak apa yang mungkin kita lakukan untuk mengatasinya. Dari masalah pendidikan, politik, pers, bisnis sampai keberagaman, saya betul-betul menikmatinya, sampai sekarang.

Itu juga yang kemudian saya sadari, dari beberapa media koran yang rutin saya baca, koran Kompas adalah favorit saya. Lewat koran ini, saya memulai hari dengan berita-berita dengan penulisan dan pembahasan bermutu. Saya difasilitasi untuk memahami dan bukan diajak untuk menghakimi suatu fakta atau kejadian di masyarakat. Koran Kompas telah menemani pagi saya, sekurang-kurangnya 12 tahun, sejak saya tinggal di Seminari. Dan semakin ke sini, semakin saya mencintai koran ini, meski saya harus jujur, selain karena kualitas bagusnya, tetapi juga karena sosok Pak Jakob itu sendiri.

Bagi seorang muda seperti saya, Pak Jakob adalah juga sosok yang, dengan laku hidupnya, memberikan inspirasi tentang komitmen dan keberpihakan. Dalam biografinya, perjuangan beliau mempertahankan Kompas dan idealismenya, meski dengan segala macam tantangan (apalagi sepanjang masa orde baru), seolah memberikan pesan bahwa betapapun sulitnya, selama kita tahu apa yang benar yang kita sedang perjuangkan, setiap jalan yang mungkin dan tanpa pelanggaran harus tetap ditempuh. Namun, agar semua dapat berjalan dengan baik, perlu diingat, prinsip boleh kuat, tetapi cara menjalankan prinsip tetap lentur (fortiter in re, suaviter in modo).

Keberpihakan Pak Jakob jelas untuk saya: penghargaan terhadap kemanusiaan, lalu termasuk di dalamnya kepada “wong cilik”, orang tertindas. Ini tergambar jelas dari jurnalisme Kompas sebagaimana saya pahami. Kompas selalu menyajikan berita bahkan tentang sesuatu yang mungkin tidak ditangkap penting oleh media atau koran yang lain. Saya yakin, peran dan konsistensi Pak Jakob tidak bisa dilepaskan dari hal ini. Saya tentu tidak bisa merincinya, tetapi siapapun pembaca Kompas yang rutin, bisa merasakan ini. Kalimatnya jelas, “menghibur yang papa, mengingatkan yang mapan”.

Beberapa kali, saya terpikir tentang bagaimana caranya dapat menemui Pak Jakob secara langsung. Ada satu jalan yang mungkin, yaitu dengan mengikuti misa di salah satu gereja di Jakarta Selatan.

Kabarnya, beliau masih rajin mengikuti misa di gereja itu. Pernah juga terpikir untuk meminta bantuan teman, melalui ayahnya yang bekerja di bawah Pak Jakob, untuk membantu apakah mungkin saya menemui beliau. Tetapi keduanya belum pernah jadi saya lakukan dan mungkin mulai sekarang akan jadi penyesalan saya yang sulit terbayar. Meskipun begitu, melalui buku-bukunya saya pastilah salah satu yang sudah bisa mengenal beliau. Betulah kata pepatah Latin, scripta manent verba volant (tulisan tetap tinggal, kata-kata hilang bersama angin).

Pak Jakob harus juga saya akui sebagai sosok yang menumbuhkan minat saya membaca dan kemudian diikuti dengan minat dalam menulis (meskipun tidak pada minat jurnalistiknya). Pak Jakob, apalagi setelah membaca biografinya “Syukur Tiada Akhir” yang disusun St. Sularto tentang bagaimana Kompas dan semua lini bisnisnya dibangun, adalah juga inspirasi saya untuk menyadari betapa pentingnya isu literasi di Indonesia harus terus diperjuangkan secara kolektif (“samenbudeling van alle krachten”, sebagaimana Pak Jakob mengutip Bung Karno).

Dengan masih banyaknya pekerjaan rumah di dunia literasi, Pak Jakob, sekurang-kurangnya untuk saya, telah menumbuhkan asa tentang masa depan literasi Indonesia yang cerah, manakala terus diperjuangkan bersama (“semua berawal dari cita-cita besar, bukan kuatnya modal”). Saya yakin, haruslah lebih banyak anak muda yang harus “mengenal” beliau.

Di sampul belakang buku yang saya jadikan rujukan esai itu ditulis, “hidup ini seolah-olah sebagai kebetulan-kebetulan, tetapi bagi saya itulah providentia Dei, itulah penyelenggaraan Allah”. Kalimat ini tanda kerendahan hati yang jelas dari Pak Jakob dan, lagi-lagi, inspirasi sekaligus teladan yang sangat bernilai. Pak Jakob tidak membiarkan kehidupannya sendiri membuatnya lupa pada hubungannya dengan Allah-nya. Pak Jakob tahu, apa yang telah dilakukannya selama ini, boleh jadi kelihatan sebagai serangkaian kebetulan, tetapi beliau selalu sadar, Allah berperan utama dalam sekian perjalanan panjang itu.

Pak Jakob adalah inspirasi dan untuk saya, beliau akan selalu menjadi inspirasi. Beliau memang telah beralih dari dunia ini, tetapi untuk saya, karya, komitmen dan perjuangannya akan selalu teringat.

Selamat jalan Pak Jakob. Beristirahatlah dalam damai.

Petrus Richard Sianturi
Petrus Richard Sianturi
Lulusan Seminari Wacana Bhakti, Jakarta, dan Fakultas Hukum Unika Parahyangan, Bandung.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.