Senin, Januari 5, 2026

Satu Harapan dan Berjuta Cara: Jejak Tradisi Penyambutan Tahun Baru di Berbagai Belahan Dunia

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Sementara sebagian besar penduduk bumi memilih untuk melebur dalam dentum musik pesta dan gemerlap kembang api yang mewarnai langit, ada belahan dunia lain yang merayakan pergantian tahun dengan cara yang jauh lebih intim, berakar pada warisan leluhur dan filosofi mendalam. Di Spanyol, transisi waktu bukan sekadar pesta, melainkan sebuah ritual keberuntungan cepat. Di sana, masyarakat berkumpul dengan saku penuh buah anggur; tepat saat lonceng berdentang di tengah malam, mereka harus menelan 12 butir anggur secara maraton—satu butir untuk mewakili satu bulan di tahun mendatang. Ini adalah perlombaan melawan waktu yang penuh tawa sekaligus ketegangan, di mana satu kunyahan yang terlewat dipercaya bisa membawa awan mendung bagi bulan yang bersangkutan.

Bergeser ke utara menuju Denmark, kasih sayang justru ditunjukkan dengan cara yang unik dan bising: menghancurkan piring. Warga Denmark sengaja menyimpan piring-piring tua sepanjang tahun untuk kemudian dilemparkan ke ambang pintu rumah sahabat dan keluarga mereka. Semakin tinggi tumpukan pecahan keramik yang ditemukan seseorang di depan pintunya pada pagi hari, semakin besar pula bukti bahwa ia dicintai dan dikelilingi oleh banyak teman setia.

Di belahan bumi lain, Jepang memilih jalan ketenangan yang meditatif. Alih-alih suara terompet, udara Jepang bergetar oleh suara lonceng kuil yang berdentang khidmat sebanyak 108 kali. Tradisi Joya no Kane ini bukan sekadar bunyi-bunyian, melainkan prosesi penyucian jiwa untuk menghapus 108 jenis nafsu duniawi yang membebani manusia, memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk melangkah ke tahun baru dengan hati yang jernih. Sementara itu, di pesisir pantai Brasil, jutaan orang menciptakan “lautan manusia” berwarna putih. Mereka mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol harapan akan kedamaian abadi, sembari melompati deburan ombak sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu bagi masa depan yang lebih cerah.

Fenomena ini membuktikan bahwa meski dipisahkan oleh samudera dan perbedaan budaya, setiap manusia memiliki kerinduan yang sama. Di balik setiap anggur yang dikunyah dengan terburu-buru, piring yang pecah berantakan, hingga dentang lonceng yang tenang, tersimpan doa yang serupa: sebuah harapan agar tahun yang akan datang berjalan lebih baik, lebih tenang, dan penuh dengan keberkahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setiap benua memiliki iramanya sendiri, namun tujuannya tetap satu—merayakan kesempatan untuk memulai kembali.

Melintasi benua menuju Eropa Utara, tepatnya di Denmark, suasana pergantian tahun berubah menjadi sebuah simfoni kebisingan yang unik. Alih-alih menghindari kekacauan, warga Denmark justru merayakannya dengan menghancurkan piring-piring tua yang telah mereka simpan dengan sengaja sepanjang tahun. Ritual ini dilakukan dengan cara melemparkan piring tersebut ke depan pintu rumah orang-orang tersayang. Bagi mereka, tumpukan pecahan keramik di depan pintu bukanlah simbol sampah atau kemarahan, melainkan sebuah medali kehormatan sosial. Semakin tinggi gundukan pecahan piring yang ditemukan seseorang saat membuka pintu di pagi pertama tahun baru, semakin besar pula bukti bahwa ia memiliki jaringan pertemanan yang luas dan dicintai oleh banyak orang dalam hidupnya.

Berpindah jauh ke Timur, Jepang menawarkan kontras yang begitu dramatis dengan suasana yang penuh ketenangan dan kontemplasi. Di saat dunia luar mungkin sibuk dengan keriuhan, kuil-kuil Buddha di seluruh penjuru negeri matahari terbit ini membunyikan lonceng besar mereka sebanyak 108 kali dalam ritual yang disebut Joya no Kane. Setiap dentangan yang menggema ke langit malam membawa misi sakral: menghapus 108 jenis nafsu duniawi dan dosa manusia—seperti keserakahan, amarah, hingga rasa cemburu yang membelenggu. Dalam keheningan yang khidmat, masyarakat berdiri terpaku, membiarkan getaran suara lonceng menyapu beban batin mereka. Ini adalah prosesi penyucian jiwa kolektif, sebuah upaya untuk melangkah melewati gerbang tahun baru dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

Sementara itu, di pesisir Brasil, malam pergantian tahun berubah menjadi pemandangan yang magis di mana warna putih mendominasi cakrawala. Jutaan orang berkumpul di tepi pantai, mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian, harapan, dan perdamaian yang mereka dambakan. Saat jam tepat menunjukkan tengah malam, suasana haru sekaligus semangat membuncah saat orang-orang berlari menuju laut untuk menerjang ombak. Mereka melompat tujuh kali—satu lompatan untuk setiap hari dalam seminggu atau setiap keinginan yang dipanjatkan—sebagai penghormatan kepada dewi laut. Sembari melompat, mereka melarungkan bunga-bunga segar ke atas air sebagai persembahan syukur, membiarkan arus laut membawa pergi kenangan lama dan menarik masuk harapan-harapan baru yang lebih cerah.

Di Filipina, malam pergantian tahun adalah sebuah perayaan visual yang didominasi oleh bentuk lingkaran. Masyarakat di sana percaya bahwa bentuk bulat merupakan representasi dari koin yang melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang melimpah. Tak heran jika motif polkadot menjadi tren busana wajib, dan meja makan akan dipenuhi dengan dua belas jenis buah-buahan bulat yang melambangkan setiap bulan dalam setahun. Bagi warga Filipina, mengelilingi diri dengan segala sesuatu yang berbentuk lingkaran adalah cara semesta bekerja untuk mengundang aliran rezeki dan kelancaran finansial agar terus berputar tanpa henti sepanjang tahun yang akan datang.

Beranjak ke dataran Irlandia, tradisi penyambutan tahun baru mengambil bentuk yang jauh lebih unik dan melibatkan elemen dapur yang sederhana namun sakral: roti. Dalam sebuah ritual kuno yang penuh semangat, anggota keluarga akan mengambil sebongkah roti keras dan memukulkannya ke dinding serta pintu rumah mereka dengan penuh tenaga. Mereka percaya bahwa suara dentuman roti tersebut bukan sekadar kebisingan, melainkan sebuah cara untuk “mengusir” sisa-sisa kemalangan atau roh jahat yang mungkin masih bersembunyi di sudut-sudut rumah. Semakin keras bunyi hantaman roti tersebut, semakin bersih rumah mereka dari energi negatif, memberikan ruang bagi keberuntungan dan kecukupan pangan untuk masuk ke dalam kediaman mereka.

Sementara itu, di Rumania, suasana berubah menjadi panggung teater rakyat yang megah dan magis. Jalanan kota dipenuhi dengan parade “Beruang Menari,” di mana warga mengenakan kostum kulit beruang asli yang berat dan berlapis-lapis. Tradisi yang berakar pada legenda kuno ini melambangkan kekuatan mistis dan daya tahan hidup yang luar biasa. Dengan iringan tabuhan genderang yang menggelegar, para “beruang” ini mengaum, menghentakkan kaki ke bumi, dan menari dengan penuh energi. Gerakan ini dipercaya mampu menyucikan tanah dan melindungi masyarakat dari segala rintangan, sekaligus menjadi pengingat bahwa manusia harus memiliki ketangguhan seperti beruang dalam menghadapi musim dingin kehidupan yang panjang.

- Advertisement -

Namun, mungkin tradisi yang paling menyentuh hati ditemukan di Chili. Di beberapa wilayah, perayaan tahun baru tidak dilakukan di tengah keramaian kota, melainkan di dalam kesunyian pemakaman. Keluarga-keluarga berkumpul di sekitar nisan orang-orang terkasih mereka yang telah berpulang, menyalakan lilin yang temaram, berbagi hidangan favorit, hingga bernarasi tentang kenangan-kenangan indah di masa lalu. Bagi masyarakat Chili yang menjalankan tradisi ini, tahun yang baru tidak boleh dimulai dengan melupakan masa lalu. Kehadiran mereka di makam adalah bentuk penghormatan bahwa meskipun raga telah tiada, jiwa-jiwa yang membentuk perjalanan hidup mereka harus tetap dilibatkan dalam menyongsong masa depan, memastikan bahwa ikatan kasih sayang tidak akan pernah terputus oleh waktu maupun maut.

Pada akhirnya, kita menyaksikan betapa dunia ini begitu kaya akan warna; setiap negara memiliki narasi unik dan setiap bangsa memegang teguh adat istiadat yang telah diwariskan lintas generasi. Namun, jika kita bersedia menanggalkan perbedaan kulit luar tersebut dan melihat lebih jauh ke dalam esensinya, kita akan menemukan sebuah benang merah yang menyatukan seluruh umat manusia. Semua ritual ini—mulai dari hiruk-pikuk mengunyah anggur di Spanyol, perjuangan menerjang ombak di Brasil, dentang lonceng yang khidmat di Jepang, hingga hantaman roti di dinding rumah warga Irlandia—sebenarnya sedang menyuarakan pesan yang serupa.

Semua tradisi tersebut adalah bentuk manifestasi dari kerinduan terdalam manusia akan sebuah titik balik. Di setiap sudut bumi, dari kota metropolitan yang gemerlap hingga desa-desa terpencil yang sunyi, orang-orang sedang melakukan hal yang sama: mereka sedang menggapai satu momen kecil namun krusial yang kita sebut sebagai harapan.

Ini adalah sebuah doa kolektif tanpa kata-kata, sebuah keyakinan teguh bahwa masa depan tidak harus menjadi bayang-bayang masa lalu. Ada sebuah aspirasi universal yang membubung tinggi ke langit malam—harapan bahwa lembaran kalender yang baru akan membawa langkah yang lebih stabil, hati yang lebih tenang, dan hari-hari yang jauh lebih indah serta lebih baik daripada tahun yang baru saja kita tinggalkan. Pada setiap tradisi itu, kita sebenarnya sedang merayakan satu hal yang paling manusiawi: keberanian untuk percaya pada awal yang baru.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.