OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Risalah Kebencian, Mengurai Akar Kebencian yang Merusak

Muhammad Ghufron
Muhammad Ghufron
Sahabat JIB, Ketua Alumni Psikologi UIN Jakarta 2017 – 2019, Wakil Sekretaris Lakpesdam NU DKI 2021-2026

Kisah kebencian iblis terhadap Adam diyakini sebagai kebencian pertama dalam sejarah. Iblis merasa superior dari Adam, karena ia diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Tapi Tuhan memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam. Iblis iri dengan keputusan Tuhan mengutus Adam sebagai khalifah di bumi, bukan iblis. Bermula dari rasa sombong dan iri mendorong Iblis membenci Adam beserta keturunannya.

Benih kebencian Iblis kepada Adam kemudian dihembuskan kepada anak Adam, Qabil. Kita tahu Adam dan Hawa pertama kali dikaruniai sepasang anak yakni Habil dan kembar perempuannya, disusul dengan sepasang berikutnya, yakni Qabil dan kembar perempuannya. Menurut ketentuan, Habil dijodohkan dengan kembaran Qabil dan  kembar perempuan Habil dijodohkan dengan Qabil.

Namun, Qabil menolak ketentuan itu karena saudari kembar Habil tidak secantik gadis kembarannya. Pada akhirnya Qabil membunuh Habil dengan keji. Serupa tapi tak sama. Alasan kebencian berujung pembunuhan itu karena sombong dan iri. Qabil merasa lebih tampan dan gagah ketimbang Habil tapi Habil diperjodohkan dengan saudari kembar Qabil yang cantik sementara Qabil dinikahkan dengan saudari kembar Habil yang kurang rupawan.

Lain lagi dengan Abu Lahab. Ia adalah salah satu paman Rasulullah saw yang bahagia dengan kelahiran bayi Muhammad. Ungkapan bahagia itu diwujudkan dengan menghadiahkan budaknya yang bernama Tsuwaibah kepada sayyidah Aminah, Ibunda Rasulullah, untuk membantu sayyidah Aminah mengasuh bayi Muhammad. Tapi Al Quran mencatat Abu Lahab sebagai salah satu pemimpin kafir quraisy memerangi Nabi Muhammad saw dalam syiar islam. Abu Lahab merasa Muhammad telah mengkhianati keyakinan leluhur Quraisy yang pagan. Perasaan sayang paman berubah menjadi kebencian.

Di antara empat sahabat yang kita kenal dengan khulafaurrasyidin, hanya Sahabat Abu Bakar saja yang meninggal secara wajar. Selebihnya meninggal terbunuh. Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lu’lua, Utsman bin Affan dibunuh oleh kelompok pasukan yang tidak puas dengan kepemimpinan Utsman, dan Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh Abdurrahman ibn Muljam.

Alasan pembunuhan ketiga sahabat itu lagi lagi karena kebencian dan dendam kelompok tertentu kepada para khalifah terpilih. Sayyid Hussein, putera Ali bin Abi Thalib dan cucu Rasulullah saw juga meninggal dengan mengenaskan, dibunuh secara keji oleh Sinan bin Anas bin Amr An Nakhai di Karbala. Sinan merupakan representasi kelompok yang tidak suka dengan keturunan Ali bin Abi Thalib.

Di era modern kita mengenal Adolf Hitler yang menggerakkan pasukan Jerman melakukan genosida terhadap orang – orang Yahudi. Selama berkuasa pada 1933 – 1945, Hitler menyebarkan kebencian dan prasangka negatif terhadap orang Yahudi. Tercatat tidak kurang 6 juta pria, wanita dan anak – anak Yahudi meninggal secara tragis. Di mata Hitler orang Yahudi adalah ras inferior dan ancaman bagi kemurnian ras Jerman.

Beralih ke era kekinian. Kekerasan atas nama benci marak terjadi. Pada September 2020 misalnya, seorang pria menghabisi kekasihnya di kamar hotel di Bontang Kalimantan Timur karena tersinggung korban menyebut gigi pelaku mirip dengan drakula (kompas.com).  Sementara pada juli 2021 AR seorang suami di Jagakarsa Jakarta selatan tega membunuh isteri sendiri karena terbakar cemburu (tempo.co).

Kemudian kasus pembunuhan suami siteri di BSD oleh WA pada maret 2021. WA tersinggung dan terhina  dengan omongan korban (tempo.co). Bagaimana psikologi menjelaskan kebencian yang merusak? Suasana psikologis seperti apa yang terjadi dalam diri hater sehingga ekspresi benci berujung pada perilaku sadis pembunuhan?

Benci merupakan perasaan negatif yang kuat terhadap objek yang dibenci. Orang membenci melihat objek kebenciannya sebagai sesuatu yang buruk, amoral, membahayakan, atau akumulasi dari semua itu (Staubb, 2003). Perilaku kekerasan dapat disebut tindak kebencian ketika kekerasan tersebut mendasarkan pada persepsi negatif yang intens dan persisten terhadap orang lain yang berujung pada hasrat melukai, merusak, dan bahkan membunuh.

Persepsi mendasari benci. Begitu kata Navarro dkk (2013) dalam papernya The Psychology of Hatred. Orang membenci diawali dari persepsi negatif terhadap objek yang dibencinya. Benci juga memiliki hubungan kuat dengan kondisi internal (seperti keyakinan, perasaan, dan situasi sosial)  dan masa lalu yang mempengaruhi kepribadian, ide, keyakinan, dan identitas diri hater. Perasaan sedih dan malang dalam hidup seperti cemburu, gagal, penyesalan juga dapat mentrigger dan memperkuat benci.

Pendek kata, benci dibangun oleh perpaduan kognisi dan emosi. Komponen kognisi relate dengan keinginan mendevaluasi objek benci dengan mempersepsikannya sebagai ancaman. Sedangkan komponen emosi yang mendorong tindakan kekerasan atas nama benci antara lain marah, stres, takut, khawatir, permusuhan dan lainnya. Benci juga berhubungan dengan konstruk psikologi lain seperti iri, cemburu, dendam, dan perasaan superior.

Dalam peristiwa Qabil dan Habil, kebencian sengaja dihembuskan iblis kepada Qabil. Tapi dalam diri Qabil sudah ada benih ketidaksukaan kepada Habil. Iri hati mengawali dengki, membakar amarah, memunculkan dendam dan mengakhiri dengan laku pembunuhan. Sementara benci karena  perasaan terluka, dihina, direndahkan oleh orang lain dapat kita lihat pada kasus pembunuhan laki – laki terhadap kekasihnya di Bontang Kalimantan Timur dan pembunuhan WA terhadap sepasang suami isteri di BSD.

Fenomena emosi Abu lahab yang mulanya bahagia dengan kelahiran nabi Muhammad berubah menjadi benci dan memerangi memberi contoh bahwa keyakinan (ideologi atau agama) mendorong seseorang berperilaku ekstrem. Begitu juga dengan para pembunuh Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, dan Sayyid Husein. Mereka mengekspresikan kebencian terhadap para pemimpinnya dengan kejam karena ada keyakinan bahwa yang dilakukan sang khalifah salah.

Pada level kognisi para pelaku (Abu lahab, Abu lu’lua, Abdurrahman bin Muljam, Sinan bin anas) ada persepsi negatif bahwa yang dilakukan khalifah (Umar, Utsman, Ali, dan Husein) itu salah. Sedangan pada level emosi sudah tertanam perasaan tidak suka terhadap khalifah terpilih. Unsur politis, propaganda dan hasutan bahwa khalifah menyalahi aturan yang secara agama sah untuk dibunuh menguatkan pelaku untuk mengekspresikan kebencian dengan laku pembunuhan secara keji.

Perasaan diri superior dari orang atau kelompok lain juga memicu kebencian berujung tindak kekerasan. Holocoust yang dilakukan pasukan Nazi di bawah perintah Hitler menjadi contoh komprehensif bagaimana perasaan superior terhadap kelompok lain menggiring pada perilaku kejam.

Bagaimana dengan fenomena kebencian antar pendukung ormas, pendukung klub olah raga, dan kelompok anak sekolah? Temukan ulasannya dalam tulisan risalah kebencian berikutnya.

Muhammad Ghufron
Muhammad Ghufron
Sahabat JIB, Ketua Alumni Psikologi UIN Jakarta 2017 – 2019, Wakil Sekretaris Lakpesdam NU DKI 2021-2026
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.