Rabu, Juni 16, 2021

Saatnya Presiden Jokowi Melawan Rasisme

Islamofobia di Eropa dan Strategi Indonesia

Kabar terakhir dari Eropa hari-hari ini sungguh memprihatinkan. Ada indikasi dan gejala sentimen anti-Islam atau Islamofobia yang semakin meningkat di sana. Di Swiss, ada...

Menolak Hukuman Kebiri untuk Paedofil

Wacana pemerintah untuk menyusun ancaman suntik kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak melahirkan polemik. Kebiri atau kastraksi di sini adalah pengibirian saraf...

Berburu Dukun Santet Bernama Radikalisme

Belakangan ini banyak orang risau tentang apa yang mereka sebut sebagai radikalisme dan lunturnya kesadaran akan kebhinekaan. Termasuk di kampus-kampus. Secara spesifik, orang menyebut ancaman...

PSI dan Platform Digital

Apa untungnya jadi anggota partai? Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada para aktivis parpol saat ini, pasti mereka juga bingung menjawabnya. Padahal dalam masa kampanye ini,...
Hifdzil Alim
Direktur HICON Law & Policy Strategies.

Insiden yang terjadi antara—diduga—aparat dan oknum organisasi masyarakat dan mahasiswa Papua di Surabaya beberapa hari lalu masih menyisakan kesedihan yang mendalam. Bagi saya pribadi, kesedihan itu semakin menyeruak lebih dalam lagi setelah membaca Laki-laki yang Tak Berhenti Menangis hasil buah pikir almarhum Cak Rusdi Mathari (2019).

Cak Rusdi, mengutip dari Imam al-Qurtubi, mencatat, pada suatu ketika, datanglah Bilal putra Rabah radhiyallhu anhu kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Maula—sebutan yang dipakai oleh Rasulullah untuk mengganti sebutan mantan budak dan inilah pertanda utusan Allah Subhanahu wa taala memuliakan derajat manusia—Bilal mengadu ke Rasulullah karena pinangannya kepada gadis dari kalangan Al-Bukair ditolak. Musababnya, Bilal adalah seorang mantan budak. Penolakan datang dari handai taulan, saudara-saudara si gadis.

Mendengar keluhan Maula Bilal, Nabi pun marah. Kemarahan kekasih Allah itu sampailah ke telinga para saudara si gadis. Selang berapa hari setelah kemarahan Nabi, bani Al- Bukair menerima pinangan Maula Bilal.

Penolakan bani Al-Bukair atas pinangan Maula Bilal adalah bentuk sikap rasis. Sebuah sikap yang merendahkan manusia lainnya karena dianggap berbeda. Hina dina.

Tak ada seorang pun yang bisa memilih opsi-opsi dalam keadaan apa ia dilahirkan. Si fulan tak bisa meminta ia dilahirkan di kalangan bangsawan. Si fulan lainnya tak kuasa memohon ia dilahirkan, mesti berkulit putih atau berwarna. Semua itu di luar kehendak manusia.

Tuhan mengajarkan, melalui kisah-kisah para nabinya, bahwa penghormatan terhadap perbedaan itu mestilah dipegang, dengan teguh, dengan sekuat-kuatnya. Bahkan tak hanya penghormatan kepada manusia, melainkan juga kepada semua makhluk.

Dalam kisah para Nabi, jauh sebelum Rasulullah diutus sebagai pembawa rahmat bagi alam raya, Nabi Nuh As mengajarkan untuk menghormati semua makhluk.

Alkisah, Nabi Nuh hendak menanam sebuah pohon. Kemudian datanglah seekor kambing yang aneh. Memiliki lima kaki, tiga mata, dan mulut yang mencong. Melihat kambing yang mendekat itu, Nabi Nuh dengan nada bercanda berkata, “hai kambing, jelek sekali rupamu itu.”

Mendengar seloroh gurauan Nabi Nuh itu, si kambing sontak dapat bicara. Ia menjawab Nabi Nuh, “hai Nuh, Nabi kekasih Allah Subhanahu wa taala, rupaku memang jelek. Mungkin juga tak berguna. Kamu melupakan sesuatu bahwa Penciptamu dan Penciptaku adalah sama.”

Mendengar perkataan si kambing, Nabi Nuh kemudian sedih. Sangat sedih. Nabi kekasih Allah Subhanahu wa taala itu menangis. Lama sekali. Hingga 200 tahun. Cak Rusdi menulis kisah Nabi Nuh itu dalam guratannya sebagai “laki-laki yang tak berhenti menangis.”

Tatkala melakukan aksi rasis, sebenarnya ada dua yang sedang direndahkan. Pertama, makhluk. Kedua, Sang Khalik, Pencipta makhluk itu.

Ketika mengolok-olok seseorang dengan sebutan hitam, pincang, dan sebagainya, dengan maksud merendahkan derajat orang itu, niscaya yang dihinakan itu tak hanya orang. Akan tetapi, juga Sang Penciptanya.

Rasisme semestinya tak boleh mendapatkan tempat di dalam negara-bangsa. Indonesia sendiri meyakini falsafah “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Menempatkan semua manusia pada pijakan keadilan dan keberadaban. Mengakui dan menghormati setiap manusia. Dan melindungi hak-haknya.

Alur kemerdekaan yang disusun dalam pembukaan konstitusi Indonesia menyajikan tugas negara (pemerintah) untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan pondasi, salah satunya, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini idealisme yang harus dipertahankan. Jangan dikendorkan.

Dalam norma penjabaran dari idealisme pembukaan konstitusi, Pasal 28I ayat (2) secara terang menyatakan, “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskrimatif itu.”

Sudah nyatalah, tak ada tempat bagi rasisme. Siapa pun tak boleh, bahkan coba-coba bersikap rasis. Kick out racism out of us.

Terkait dengan insiden Surabaya, bagaimana seharusnya negara di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo bertindak? Indonesia adalah negara hukum. Sebenarnya jika hukum ditegakkan dengan seksama, maka semuanya menjadi mudah saja. Provokator rasis harus diperiksa dengan seadil-adilnya. Kemudian hukuman dijatuhkan. Lalu umumkan ke publik. Jadikanlah pelajaran bahwa rasisme harus dilawan. Saatnya kini Presiden Jokowi melawan! Sekuat-kuatnya.

Secara bersamaan, negara juga harus melihat ke cermin. Mengoreksi segala kebijakannya. Keputusan-keputusan yang berbau rasis harus dihentikan. Diakhiri. Begitu saja.

Cukuplah sudah insiden Surabaya menjadi kasus rasisme terakhir di republik ini. Marilah menjadi subjek yang menciptakan sebuah bangsa yang beradab—dan adil.

Kolom terkait

Rasialisme yang Merenggangkan Keindonesiaan Kita

Bara Papua, antara Agama dan Kemanusiaan

Tentang Papua Jokowi Harus Belajar Pada Gus Dur

Selamat Hari Ibu, Mama-Mama Papua

Papua Bukan Cuma Freeport

Hifdzil Alim
Direktur HICON Law & Policy Strategies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER