Selasa, Mei 18, 2021

Taktik Anies Menonjok Agus Yudhoyono

Dramaturgi Politisi Kita dan Hukum Setegak Tiang Listrik

Kisah politisi kita barangkali persis seperti kisah-kisah dalam drama sinetron. Tiap episode menampilkan wajah-wajah yang berbeda dengan suguhan kisah yang berbeda pula. Seperti sekarang...

Serangan Balik La Nyalla

Mengejutkan! Seakan tak ada hujan dan tak ada angin, alias tak ada desas-desus sebelumnya, tiba-tiba saja Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur,...

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

"Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh...

Pemindahan Ibu Kota Negara: Dari Imam Ali, Sukarno, hingga Anies Baswedan

Ribuan umat Islam melakukan zikir dan doa bersama saat Aksi Bela Islam III di kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa Ali...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

agus-anies
Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan.

Jebloknya perolehan suara dari pasangan calon nomor 1 Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni jelas mengundang kejutan yang tidak kecil. Bagaimana tidak, dari hasil pengamatan sejumlah pakar maupun lembagai survei yang bonafide, pasangan calon usungan Partai Demokrat dkk ini kerap tampil sebagai pemuncak klasemen dari lawan-lawan politiknya sebelum hari pemungutan suara itu dimulai.

Lihatlah, misalnya, hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA. Lima hari menjelang pencoblosan, LSI Denny JA memaparkan hasil elektabilitas para paslon Pilkada DKI 2017. Ditemukan, Agus-Sylvi unggul di atas Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

Ya, survei yang dilakukan dari 8 – 9 Februari 2017 itu memperlihatkan bahwa elektabilitas Agus-Sylvi mencapai 30,9 persen. Paslon ini unggul dari paslon petahana Ahok-Djarot yang hanya mampu mencapai kisaran 30,7 persen, disusul Anies-Sandi di urutan terakhir dengan perolehan 29,9 persen.

Hal ini juga tampak di temuan survei sebelumnya. Di awal Januari lalu, Agus-Sylvi bahkan mencapai 36,7 persen, lagi-lagi unggul dari para paslon lainnya. Bahkan lembaga survei ini memprediksi bahwa yang akan tumbang di putaran pertama adalah pasangan Anies-Sandi. Paslon ini dinilai berpeluang tersingkir setelah menunjukkan data survei yang hanya memperoleh 21,4 persen.

Tentu mengejutkan menyimak perolehan suara Agus-Sylvi setelah perhitungan suara. Mengapa hasil survei elektabilitas sebelumnya tidak tercermin dalam perolehan real count? Apa gerangan yang menjadi sebabnya sehingga mengalami penurunan drastis dari hasil survei yang ditunjukkan sebelumnya?

Tentang ini, setidaknya ada dua hal yang patut diajukan. Pertama, tentu soal kredibilitas lembaga survei yang bersangkutan, dalam hal ini LSI Denny JA. Dan kedua, yang juga patut mendapat perhatian, peran seorang Anies Baswedan dalam memainkan strategi politiknya sebelum pemungutan suara.

Kredibilitas LSI Denny JA
Seperti kita ketahuai, lembaga survei tak hanya memberi informasi politik dalam aspek akademis saja, seperti memaparkan apa adanya hasil temuan survei di lapangan kepada publik. Tetapi sejumlah lembaga survei juga sekaligus ikut bermain dalam ranah praktik, terutama yang sudah menjadi konsultan politik paslon tertentu, seperti LSI Denny JA.

Sebagai konsultan politik, tentu LSI Denny JA berkecenderungan untuk hanya memainkan cara bagaimana agar paslon dukungannya bisa menang. Dalam rangka itu, ia juga turut memberi pengaruh atau membangun opini publik, baik dalam hal peningkatan elektabilitas paslon yang didukung, maupun upaya penyerangan terhadap paslon yang jadi lawannya dalam pertarungan politik.

Kecenderungan semacam ini tentu sangat fatal. Sebab, ini akan sangat berpengaruh kepada pandangan publik atas kredibilitas lembaga survei yang bersangkutan.

Bagaimana mungkin lembaga survei yang jadi konsultan politik paslon tertentu bisa objektif dalam tindakannya? Bisa jadi menemukan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, tetapi sebagai pengusung paslon, tentu lembaga survei tersebut tidak akan mempublikasikan hasilnya karena akan dinilai ikut mempengaruhi pendukung atau calon pemilih lainnya, apalagi terhadap mereka yang belum terindikasi sama sekali.

Menjadi konsultan politik memang tak ada salahnya. Tetapi ingat, sebagai lembaga survei, kredibilitas lembaga harus tetap terjaga. Banyak, kok, lembaga survei yang juga sekaligus menjadi konsultan politik paslon tertentu. Tetapi jarang saya temui ada konsultan politik yang bekerja awut-awutan seperti LSI Denny JA ini. Kalaupun ada, itu hanyalah lembaga survei yang tergolong abal-abal, bukan lembaga yang sudah tenar karena nama dan publikasinya yang memang objektif dalam segala hal.

Diakui atau tidak, optimisme paslon Agus-Sylvi jelas sangat berdasar dari hasil temuan survei LSI Denny JA. Andai saja lembaga survei ini memperlihatkan temuannya dengan sungguh-sungguh, saya yakin paslon Agus-Sylvi akan berpikir dua kali untuk mengajukan diri sebagai peserta Pilkada Jakarta. Sebab, maju untuk kalah adalah tindakan yang paling bodoh saya kira.

Teruntuk LSI Denny JA, demi mengembalikan kredibilitas, tak ada cara lain bagi LSI Denny JA selain ikut berpartisipasi kembali dalam survei Pilkada DKI putaran kedua ini. Dan ingat, sekali lagi, objektifitas temuan di lapangan harus dipaparkan secara apa adanya, bukan karena ada apanya.

Strategi Politik Anies Baswedan
Seperti disebutkan sebelumnya, selain soal kredibilitas lembaga survei, peran seorang Anies Baswedan, calon gubernur dari pasangan nomor 3, juga turut bersumbangsih besar. Insting politik mengatakan bahwa strategi politik Anies-lah yang juga cukup berpengaruh terhadap fenomena kekalahan Agus-Sylvi di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta kemarin.

Kita tahu salah satu gerbong pendukung Agus-Sylvi itu adalah komunitas keagamaan yang dikenal getol memainkan isu SARA dalam kasus Ahok. Tetapi kenapa gerbong itu tidak nampak dalam perolehan suara Agus-Sylvi secara real count? Bukankah jumlah mereka itu banyak, yang bisa memenuhi ruas-ruas space di sekitaran Monas dan Bundaran HI dalam aksi demonsrasi bernuansa politis, yang setidaknya mampu mengalahkan jumlah pendukung Anies-Sandi?

Menurut salah satu pengamat, dalam tulisannya berjudul “Cara Anies Mencuri Suara AHY”, disebutkan bahwa Anies menggunakan strategi musuh dalam selimut. Ditampilkan bagaimana Anies menggunakan simpul massa yang sama dan kegiatan keagamaan yang sama pula. Adapun kehadirannya di sini, baginya, adalah bagian dari “settting” untuk mengambil suara AHY yang sudah terkondisikan sebelumnya itu.

Hal ini berarti bahwa yang menanam bukan dia yang memanen hasilnya. Artinya, AHY yang capek-capek menanam dan merawat suatu komunitas keagamaan, tetapi Anies yang datang untuk memanen dan menikmati hasilnya hanya dengan pasangan wajah yang santun.

Selain itu, strategi lain yang juga disebutkan, tampak terlihat dalam debat publik antar paslon yang terakhir. Di bagian ini, Anies terlihat sangat memanfaatkan debat untuk memperlihatkan bahwa pasangan Agus-Sylvi bukanlah pasangan yang matang untuk dipilih.

Lihatlah ketika Anies memainkan untaian katanya yang seolah-olah menunjuk bahwa paslon nomor 1 tersebut sangat tidak kredibel sebagai peserta Pilkada Jakarta. Sebagai contoh, Anies mengatakan Mpok Sylvi “tidak nyambung” ketika diberi kesempatan beradu argumen dengan dirinya. Tentu, ini adalah bentuk serangan mematikannya terhadap pasangan yang bersangkutan.

Bahkan dalam kesempatan lain, paslon nomor 3 ini juga terlihat berhasil mengadu-domba antara Sylvi dengan Ahok. Ujungnya, Sylvi dinilai tidak tahu persoalan Jakarta, baik dalam hal penataan kota maupun yang ecek-ecek seperti ada-tidaknya penyandang disabilitas yang bekerja di Balai Kota di masa kepemimpinan Ahok.

Jika hal ini benar, Anies turut bermain dominan di dalamnya. Maka, pepatah “musuh dalam selimut” itu pun jadi benar. Bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang berwajah domba tapi berkelakuan serigala. Inilah yang juga kita kenal dengan istilah “serigala berbulu domba”.

Ya, dalam konteks kekalahan Agus-Sylvi, Anies berhasil mencuri sekaligus menjatuhkan suara paslon nomor 1 ini. Padahal, dalam perkiraannya yang kita ketahui, Anies adalah teman yang bisa bersama-sama menghadapi calon petahana. Tapi karena satu dan lain hal, atas nama kepentingan politik, Anies justru menjelma menjadi “musuh dalam selimut”.

Lagi-lagi benar: tak ada teman dan lawan abadi dalam politik; yang ada adalah kepentingan abadi. Tapi, menjelang putaran kedua pada 19 April ini, Anies dan Agus siap berangkulan: mengeroyok Ahok!

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.