Sabtu, Mei 15, 2021

Menghadang Wayang, Nahdliyyin Meradang

Akrobat Parpol di Pilgub Jabar

Proses penjaringan calon gubernur Jawa Barat 2018 memasuki babak seru dan penuh kejutan. Setelah Partai Golkar mencabut dukungan terhadap Wali Kota Bandung Ridwan Kamil,...

Presidential Threshold 0%, Mengapa Tidak?

Dilirik sepintas dari judulnya, tentu besar kemungkinan tulisan ini akan dipahami pembaca Geotimes sebagai bentuk dukungan saya terhadap usulan Partai Demokrat. Memilih berbeda yang...

Pancasila di Tengah Gelombang Radikalisme Agama

Sejak awal Reformasi 1998 sampai kira-kira beberapa tahun lalu kita jarang mendengar antusiasme publik dalam memperbincangkan Pancasila. Kita baru membicarakan Pancasila dengan serius kembali...

Meninjau Kembali Komando Teritorium

Dalam perjalanan dari Garut menuju Bandung, saya melintasi Kecamatan Cisewu, di selatan Garut. Topografi Cisewu yang terjal berbukit, tidak menyurutkan penduduk untuk bercocok tanam....
Avatar
Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

wayang-arab
Kitab tafsir huruf Arab gundul yang berisi cerita wayang sebagai media dakwah Wali Songo [Dok. JS Nawati]

Entah apa yang merasuki kepala para pemasang spanduk “Pemutaran Wayang Kulit Bukan Syariat Islam” dan “Menolak dengan Keras Pemutaran Wayang Kulit”. Foto dua spanduk tersebut viral di media sosial. Namun, menilik kabar akan digelarnya pementasan wayang oleh Wakil Gubenur Jakarta non-aktif yang kini maju sebagai calon gubernur Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, sangat mungkin spanduk tersebut berkaitan dengan Pilkada Jakarta. Motif politik itu gamblang terlihat.

Selama kampanye, Ahok-Djarot bisa dikatakan sebagai pasangan yang kerap didiskreditkan lawan politiknya melalui unsur paling krusial: identitas yang menjurus isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Penggunaan isu ini nampak menjadi kelaziman manakala rival politik telah kehabisan amunisi untuk membombardir rival lain.

Jika syariat Islam dipahami secara dangkal sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an maupun hadits, maka jelas keberadaan wayang tidak akan pernah disebut–sebagaimana juga tidak mungkin disebut beduk, Rubicon, Roll Royce, Facebook atau Twitter dalam dua kanon tersebut.

Akan tetapi siapa pun yang tidak malas belajar pasti mengakui kebesaran Islam seperti saat ini ditopang serius oleh elastisitas Islam dalam berdialektika dengan budaya-budaya lokal. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) menyebutnya dengan agama hybrid, sedangkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatribusi dengan istilah pribumisasi Islam.

Namun, harus kita akui, Islam mazhab Gus Dur dan Cak Nur bukanlah satu-satunya genre yang berkontestasi di Nusantara ini. Ada faksi Islam lain yang berwajah bengis saat bertemu dengan tradisi lokal. Saya menyebutnya Islam puritan.

Islam model ini tidak akan pernah bisa nyenyak tidurnya manakala kebudayan lokal berakrab ria dengan ajaran Islam. Keakraban ini, dalam term mereka, sejajar keharamannya dengan perselingkuhan. Bagi mereka: gelap tidak akan pernah bisa dicampur dengan terang. Haq terlarang berdekatan dengan bathil.

Jika Islam dicampur kebudayaan lokal, maka posisi hukumnya seperti air mutanajis (kesuciannya hilang dan harus dibuang).

Sejarah telah mencatat, epos Islam puritan paling menggetarkan pertama kali di belantara Asia Tenggara selalu merujuk pada keberadaan gerakan Padri di Sumatera Barat (1803-1837). Tuanku nan Rentjeh (bersama trio Sumanik, Miskin, dan Piobang yang baru pulang dari Timur Tengah), melakukan praktik purifikasi Islam di wilayahnya. Mereka menganggap Islam telah terkontaminasi dengan unsur-unsur budaya lokal, meskipun sebenarnya motif ekonomi tidak bisa dilepaskan begitu saja (Dobbin 2016).

Purifikasi agama kala itu dioperasikan melalui pendekatan militeristik yang represif. Kerajaan Pagaruyung dihabisi karena menolak dimurnikan keislamannya. Ekspansi purikatif dengan balutan cerita penjarahan, perbudakan, perampokan, pembunuhan, hingga perkosaan melaju hingga ke wilayah Batak bagian Selatan. Cerita kekejaman pemurnian tersebut masih terawat dalam turi-turian dengan kode ‘Tingki ni Pidari’ (Parlindungan 2007, Harahap 2007, Hadler 2008).

Wabah purifikasi yang berwatak jahat terhadap istrumen kebudayaan lokal, seperti wayang, kini coba disarangkan oleh kelompok puritan-modernis Jakarta untuk melakukan ekspansi politik.

wayang-islam
Salah satu spanduk wayang kulit yang jadi pembicaraan netizen di media sosial.

Mungkin mereka berharap sentimen “wayang=bukan Islam” akan bisa menaikkan elektabilitas siapa pun calon gubernur yang diusungnya. Namun saya memperkirakan justru gelombang resistensi yang akan mereka peroleh, terutama dari kalangan Nahdliyyin yang dididik untuk merawat tradisi.

Bagi saya, wayang punya kedudukan relatif sama dengan bagaimana Nahdliyyin mempersepsi ziarah kubur dalam struktur forum internum mereka. Wayang punya jangkar yang dilego kokoh dalam pelabuhan epistemologis Islam pribumi melalui hikayat dakwah Walisongo (van Dijk 1998).

Awal Desember 2016, sejumlah grup wayang yang tergabung dalam Asean Puppetry Association menggelar eksebisi di aula Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng Jombang. Selama lebih dari satu jam kisah Ramayana disuguhkan dan mendapat apresiasi positif dari para santri.

“Harapan kita, pondok pesantren dan masyarakat Islam bisa meniru apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwah untuk menyiarkan Islam dengan halus, toleran, dan tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat,” kata Gus Ghofar, sekretaris Yayasan Tebuireng, sebagaimana ditulis NU Online (5/12/2016). Sebelumnya, Pesantren Tarbiyatul Islam al-Falah, Salatiga, Jawa Tengah, juga menggelar pementasan wayang saat menandai haul pertama pondok tersebut, 16 September 2016.

Pementasan wayang kulit bahkan secara fenomenal dijadikan sebagai salah satu acara resmi rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Agustus 2015. Tak tanggung-tanggung, perhelatannya pun digelar di lapangan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Beberapa jam setelah viral, penolakan atas wayang ini memantik kegeraman Ketua PBNU, Saifulloh Yusuf. “Informasi ini sepertinya sepele tapi tentu sangat mengganggu. Kita tentu prihatin. Kalau wayang dianggap bukan Islam dan dilarang, nanti lama-lama arisan juga akan dilarang,” kata Gus Ipul seperti diberitakan suarasurabaya.net (22/01).

Islam puritan yang tengah berselingkuh secara kasar dengan kekuasaan di Pilkada Jakarta 2017 sepertinya memilih tetap berkepala batu. Mereka gagal memahami karakter Islam pribumi yang mana, bagi tidak sedikit Nahdliyyin, menghadang wayang dianggap sama halnya mengusik tradisi ke kuburan. Urusannya pun akan semakin rumit dan seru.

Avatar
Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.