Selasa, Mei 18, 2021

Lalat Pengganggu Bernama Rocky Gerung

Jokowi dan Bom Waktu Ambang Batas Pencalonan Presiden

Selepas Undang-Undang Pemilu disetujui oleh DPR dan Pemerintah, ada beberapa pengaturan yang masih menyisakan perdebatan panjang. Salah satu isu di dalam UU Pemilu yang...

Kontroversi Patung Kwan Kong dan Muslim Kagetan

Belum lama ini netizen heboh dengan patung Dewa Perang Kwan Sing Tee Koen di Tuban, yang diresmikan pada 17 Juli 2017 lalu. Patung setinggi...

Dramaturgi UU MD3 dan Citra Natural Presiden

Dunia ini panggung sandiwara Ceritanya mudah berubah Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani   Setiap kita dapat satu peranan Yang harus kita mainkan Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura Dua...

Minister Susi Pudjiastuti and Fishy Politics: Time to Consider Complex Realities

Last week, Jakarta saw the demonstration of hundreds of fishermen under the Indonesian Fisherman Alliance demanding the reshuffling of Minister of Fisheries, Susi Pudjiastuti....
Rahadian Rundjan
Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.

Adalah sebuah keluguan jika seseorang mempercayai pemerintahan, yang diisi oleh tokoh-tokoh politik idola mereka, dengan membabi buta.

Sebijak apa pun pemerintahan tersebut, sehebat apa pun prestasi-prestasinya, dan seharum apa pun namanya di dunia, pastilah ada cela, yang entah mencolok atau tidak, namun berpotensi menyeleweng dari hakikat pemerintahan itu sendiri. Pada saat cela itu muncul, sudah sepantasnya kritik dilontarkan dengan dasar nalar yang tajam dan akal sehat, sepedas apa pun itu.

Masalahnya, menjadi tukang kritik adalah profesi yang tidak menyenangkan, terlebih di masa-masa sekarang. Harus diakui bahwa pemerintahan Joko Widodo telah memberikan kenyamanan, dan serangkaian program-program pembangunan yang begitu menjanjikan, sehingga menimbulkan rasa sayang tak terhingga dari masyarakat.

Namun, kedalaman rasa sayang tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang puas hanya dengan terwujudnya infrastruktur yang merata. Ada pula yang puas dengan itu, tetapi tak tersanjung dan lanjut melontarkan kritik, semisal urusan terabaikannya sektor literasi mengingat beratnya ketetapan pajak untuk penulis. 

Kemampuan untuk melihat masalah-masalah tersebut secara menyeluruh, dan rentetan energi yang seperti tak habis-habis dalam melontarkan kritik-kritiknya, memang berisiko. Layaknya individu manusia, publik memiliki karakter. Atau jika dianalogikan dengan hewan, memiliki belang.

Ketika sebagian publik melihat sesosok tukang kritik, mereka dengan segera mengidentifikasikan diri mereka dengannya. Jika karakter atau belangnya sama, maka ia kawan. Jika tidak, suka atau tidak, jadilah ia musuh.

Saya rasa, dalam banyak hal, itulah situasi yang tengah dialami oleh Rocky Gerung. Di muka, ia nonpartisan. Dan setidaknya sudah sejak 2010 silam ia mempopulerkan diri di publik sebagai oposan pemerintah yang kritis ketika ia menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki.

Kata kuncinya saat itu adalah akal sehat, hal yang kerap lenyap baik dalam tindak-tanduk pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaannya, maupun rakyatnya dalam merespons berbagai isu.

Jokowi dan Prabowo, dan kubu-kubunya, memang lebih sibuk melempar dan membahas gimik: mulai dari masalah kaos, motor, sampai urusan fiksi, alih-alih substansi. Karenanya, kritik seperti yang disampaikannya secara pedas dalam acara debat populer Indonesia Lawyers Club (yang menurut saya sebaiknya harus berganti nama, karena kini sering narasumbernya bukan pengacara), cukup berkesan.

Rocky memang melemparkan argumentasi yang ekstrem terkait masalah nilai-nilai fiksi dalam kitab suci.  Justru, respons pendukung kedua kubu menunjukkan hal menarik. Oposisi terlihat munafik karena cenderung bersikap diam, padahal mereka rajin menekan beberapa tokoh nasional yang dianggap menista agama. 

Sedangkan, dilaporkannya Rocky terkait argumentasinya tersebut memperlihatkan bahwa pendukung pemerintah juga sama buruk dengan kubu lainnya dalam upaya memahami dan merespons sebuah persoalan.

Entah kesengajaan yang direkayasanya atau tidak, namun posisi Rocky ini mengingatkan dengan Socrates di Athena masa silam. Seperti yang ditulis Plato dalam Apology, Socrates menganalogikan dirinya sebagai seekor lalat (gadfly) yang kerap mengganggu seekor kuda hebat tapi pemalas (Athena). Tujuannya, agar sang kuda tetap cekatan dan tidak terlena; sesuatu yang membuatnya rentan celaka oleh ancaman-ancaman di sekitarnya.

Demi mengetahui hakikat kebijaksanaan, akar keadilan, dan kebaikan, Socrates berdialog dengan orang-orang Athena dari berbagai latar belakang yang dianggap bijaksana. Lawan bicaranya ia berikan pertanyaan-pertanyaan, sampai akhirnya tersudut dan tak bisa membalas, yang berarti kebijaksanaan mereka cacat.

Hal itu dilakukannya berulang kali ke banyak orang, sehingga bagi penduduk Athena ia terkesan seperti seorang bebal yang menyebalkan, pengganggu kemapanan status quo.

Apa tujuan Socrates? Banyak yang menduga bahwa ia mencoba merawat akal sehat orang-orang Athena, dan hegemoni kotanya, yang saat itu pamornya tengah jatuh setelah kalah dari koalisi Sparta pada Perang Peloponnesia.

Sederhananya, mungkin ia berharap “gangguan” berupa kritik-kritik sosial dan moral yang dilontarkannya merupakan sengatan yang dapat menjadi bahan koreksi terhadap perbaikan nalar dan akal sehat orang-orang Athena.

Namun, ternyata sengatan yang ia lakukan justru membuat marah orang-orang. Socrates dijatuhi hukuman mati oleh penguasa dengan tuduhan tak berdasar, menjadikan jejak hidupnya sebagai tragedi yang ironi, terlebih ketika pemikiran-pemikirannya masih terus dipelajari sampai sekarang. Sampai akhir hayatnya, ia tetap mengaku dirinya sebagai lalat pengganggu yang eksistensinya merupakan benefit.

Athena yang tidak mengindahkan “gangguan” Socrates tersebut nyatanya kemudian takluk oleh kekuatan-kekuatan asing. Mulai dari Makedonia, Romawi, Turki, dan lain-lain.

Kisah-kisah “lalat pengganggu” ini muncul di berbagai zaman, dan dalam situasi sosial politik yang bermacam-macam pula. Martin Luther King pernah mengaku terinspirasi dari peran Sokrates dan menganggap bahwa terkadang menyulut tensi dengan cara-cara tanpa kekerasan memang dibutuhkan agar seorang individu bangkit dari kedunguan dan mulai menggunakan akal sehatnya secara objektif.

Pendirian inilah yang menjadi dasar gerakan King dalam memperjuangkan hak-hak sipil orang kulit hitam di Amerika Serikat, dan ia dianggap berhasil akan hal itu, meski nyawanya sebagai gantinya.

Keberadaan lalat-lalat pengganggu seperti ini tidak mencederai demokrasi, bahkan memantapkannya. Rocky pernah menunjukkan niatnya bahwa ia secara pribadi setuju Jokowi diganti, dan ketika momen tersebut tiba, barulah kita bisa melihat belangnya yang sesungguhnya: apakah ia akan terus mengganggu pemerintah selanjutnya seperti yang sudah-sudah, atau justru malah diam seribu bahasa?

Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka ia tak ada bedanya dengan tokoh-tokoh bayaran (buzzer), lalat-lalat pengganggu yang bukan menghamba pada kebenaran, tetapi keberpihakan buta.

Namun sekarang, harus diakui bahwa sang lalat pengganggu telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Publik telah begitu tersengat dan bereaksi.

Kolom terkait:

Gerungisme dan Dalih Penistaan Agama

Fenomena Berkembangnya Narasi Pesimistis

Jokowi dan Upaya Membungkam Kritik

Raja Juli Antoni, Partai Oposisi, dan Hoaks

Rahadian Rundjan
Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.
Berita sebelumnyaBecak Di Ujung Kayuh!
Berita berikutnyaDi Balik Partikelir Pandji…
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.