Sabtu, Mei 15, 2021

Fenomena Berkembangnya Narasi Pesimistis

PSI Itu Baru, Muda, dan Kita

Kalimat apa yang rutin kita ucapkan di setiap momen atau peringatan yang bernuansa "baru"? "Semoga dapat momongan, ya", misalnya, kala memberi selamat pada pengantin...

Calon Petahana Wajib Cuti Kampanye atau Mundur?

Dengan percaya diri Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menggugat kewajiban cuti kampanye di Mahkamah Konstitusi. Sebagaimana Pasal 70 ayat (3) Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah...

Kaleidoskop 2017: Melihat Jakarta dari Bangkok

Berkunjung ke kota-kota di Asia Tenggara tidak hanya penting untuk membangun perspektif geografis dan sosial-politik masyarakat, melainkan juga semacam refleksi untuk mengetahui sejauhmana ibu...

Pertimbangkan ini Sebelum Pilih Anies-Sandi

Debat Cagub-Cawagub DKI Jakarta putaran terakhir pada Jumat lalu (10/2) menjadi suguhan penutup yang sudah sepantasnya memantapkan hati para pemilih untuk memilih salah satu pasangan...

Apa makna tahun politik di Indonesia? Artinya, apa pun yang kita omongkan, kita lihat, dan kita dengarkan, yang ada di ruang publik kita, bisa dihubung-hubungkan dengan politik. Bahkan angka-angka yang bisu sekalipun, oleh yang memiliki kepentingan, bisa diolah menjadi “gutak-gatik-gatuk” yang ditafsirkan ke arah pergantian presiden.

Di mata para oposan, semua hal, apalagi yang negatif, bisa dijadikan alat (istilahnya digoreng) untuk mendiskreditkan presiden. Yang positif diubah perspektifnya menjadi negatif. Atau yang optimistis diubah menjadi pesimistis.

Fenomena berkembangnya narasi pesimistis sudah memenuhi ruang publik kita. Inilah produk paling nyata pada saat apa pun dilihat secara negatif.

Kondisi seperti ini diperparah dengan munculnya media-media online baru yang “kejar tayang” untuk meningkatkan “kunjungan” para netizen. Semakin negatif isinya, akan semakin mendorong netizen untuk membacanya. Bahkan berita positif pun di-framing/di-spin dari sisi yang negatif.

Semakin banyak kunjungan, semakin menguntungkan pemilik medianya. Bahwa berita negatif akan berdampak kurang baik bagi masyarakat, tidak menjadi pertimbangan bagi mereka.

Banyak yang berpendidikan tinggi, dan tidak sedikit juga para agamawan yang rajin membaca kitab suci, ikut menyebarluaskan berita-berita yang negatif. Inilah yang sangat memprihatinkan kita. Para cerdik pandai pun ikut serta dalam gelombang narasi pesimistis.

Keruh dan Kotor

Kehidupan politik seperti ini menjadi ibarat kubangan air yang bercampur lumpur. Keruh dan kotor. Bahkan kalau ada emas atau intan berlian pun di bawah kubangan itu, tidak akan bisa dilihat, kecuali oleh orang-orang yang memiliki mata batin yang jernih dan kuat.

Ada dua macam orang yang paling beruntung pada suasana seperti ini. Pertama, mereka yang hobi memancing di air keruh. Semakin banyak air keruhnya, semakin kegirangan karena kesempatan untuk memancing semakin terbuka.

Kita tahu, memancing di air keruh adalah peribahasa yang menunjukkan kegiatan mengambil keuntungan di tengah-tengah kekacauan, atau mengambil manfaat dari kerugian yang diderita banyak orang. Orang yang melakukan tindakan ini–meminjam bahasa Cinta pada Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta 2–jahat! Tapi, bagi pemancing di air keruh, kejahatannya itulah kesenangannya.

Kedua, para politisi bermental ikan lele. Istilah ini pernah dilontarkan Buya Syafii Maarif pada saat menjadi pembicara dalam Simposium Nasional “Restorasi Indonesia” di Jakarta pada 1 Juni 2010 silam. Menurut Buya, ikan lele itu, makin keruh airnya, makin senang karena makin banyak makanan. Jadi, bagi politisi bermental ikan lele, lanskap politik yang kotor dan keruh bisa dijadikan sarana untuk mengambil keuntungan.

Berkembangnya wacana yang tidak konstruktif akan memunculkan kegaduhan. Semua kalangan memberikan komentar. Nah, di tengah kegaduhan itulah politisi bermental ikan lele akan mendapatkan peluang untuk melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan dirinya, dan luput dari perhatian publik yang tengah sibuk mencermati kegaduhan.

Dibutuhkan Kejernihan

Pada suasana seperti ini, yang kita butuhkan adalah kejernihan berpikir dan bertindak. Menurut saya, tidak perlu juga Presiden Jokowi terpancing untuk menanggapi setiap komentar yang buruk tentang dirinya. Kritik-kritik yang tidak bernalar, apalagi hoaks dan fitnah, anggap saja seperti radio rusak yang hanya bisa mengganggu telinga orang yang mendengarnya, tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Jokowi lebih baik fokus bekerja mengejar ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara lain. Hal-hal yang baik terus ditingkatkan, dan hal-hal yang masih kurang sempurna disempurnakan. Dengan fokus membangun Indonesia seperti itu, pasti akan membuat para oposan kéder. Kritik dan kecamannya tidak akan ada yang memperhatikan, kecuali yang berasal dari kelompok mereka sendiri.

Kejernihan berpikir dan bertindak menjadi kata kunci. Kalau kita tidak bisa, bersabarlah, tunggu sampai kekeruhan itu hilang dan suasana menjadi jernih kembali. Ungkapan “katakanlah yang baik-baik atau lebih baik diam” layak kita jadikan pedoman. Toh, rakyat sudah pintar, sudah bisa membedakan mana suara yang keluar dari gending emas dan mana yang keluar dari kaleng rombeng.

Akan lebih baik memang jika semua orang berprinsip, “lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”. Tapi, kita juga harus realistis, tidak mungkin hal itu terjadi. Setiap orang yang menginginkan (calon) presiden selain Jokowi, tampaknya akan semakin gundah gulana pada saat semakin banyak orang berbicara yang baik-baik saja di negeri ini. Memprihatinkan memang, tapi itulah fakta yang banyak kita temukan saat ini.

Kolom terkait:

Politik Berpijak Akal Sehat

Menjaga Kewarasan di Era Pasca Kebenaran

Menyelamatkan Akal Sehat

Risalah Politik untuk Kebajikan 

Touring Chopper di Sukabumi dan Komunikasi Politik Jokowi

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.