Jumat, April 3, 2026

Permainan “Polisi Baik dan Polisi Jahat” di Langit Iran

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Analisis mengenai dinamika konflik di Asia Barat yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir memberikan gambaran yang sangat kompleks mengenai strategi militer modern dan diplomasi tingkat tinggi. Memasuki minggu keempat peperangan, eskalasi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan, namun perubahan arah sasaran serangan telah memberikan sinyal jelas mengenai tujuan akhir dari kampanye militer ini.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya kepada media baru-baru ini menekankan bahwa fokus utama operasi adalah pelumpuhan total terhadap kapabilitas strategis Iran, terutama terkait pengayaan nuklir dan produksi rudal balistik. Penghancuran fasilitas-fasilitas ini dipandang sebagai langkah krusial untuk mencegah ancaman eksistensial, mengingat pandangan Israel terhadap rezim Garda Revolusi Iran (IRGC) yang dianggap tidak rasional dan memiliki orientasi martir yang berbahaya bagi stabilitas global.

Di balik layar serangan-serangan udara yang terjadi, terdapat perdebatan mengenai tingkat koordinasi antara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dan Israel di bawah Netanyahu. Meskipun dalam beberapa insiden, seperti serangan terhadap ladang gas South Pars, pihak Amerika Serikat menyatakan tidak terlibat secara langsung atau tidak mendapatkan informasi sebelumnya, analisis keamanan menunjukkan hal yang berbeda.

Saul Sadka, seorang analis keamanan, berpendapat bahwa koordinasi antara kedua negara tersebut sangatlah erat, bahkan mungkin yang paling intens dalam sejarah hubungan kedua pemimpin. Fenomena ini dapat dipahami melalui strategi klasik dalam militer dan diplomasi yang dikenal sebagai permainan polisi baik dan polisi jahat.

Dalam konteks ini, Amerika Serikat mengambil peran sebagai pihak yang mencoba menjaga stabilitas regional dan menenangkan sekutu-sekutu Arab di Teluk, sementara Israel diposisikan sebagai pihak yang lebih agresif dan tidak segan untuk melakukan serangan mematikan tanpa hambatan birokrasi internasional.

Pembagian wilayah operasi juga memperkuat dugaan adanya koordinasi yang matang. Serangan Israel cenderung terkonsentrasi di wilayah utara dan barat laut Iran, termasuk Teheran, sementara aset Amerika Serikat lebih banyak beroperasi di wilayah selatan yang berhadapan langsung dengan Teluk dan jalur pelayaran internasional. Masuknya jet tempur Israel ke wilayah yang secara de facto berada di bawah kendali udara Amerika Serikat di Iran selatan hampir mustahil terjadi tanpa komunikasi intensif sebelumnya. Tujuan dari serangan ke infrastruktur gas, bukan minyak, merupakan langkah yang sangat taktis.

Minyak adalah komoditas global; menghancurkannya akan memicu lonjakan harga energi dunia yang merugikan semua pihak, termasuk ekonomi Amerika Serikat. Sebaliknya, gas di Iran digunakan hampir seluruhnya untuk kebutuhan domestik dan subsidi listrik yang menopang dukungan rakyat terhadap rezim. Dengan menyerang fasilitas gas, Israel dan Amerika Serikat memberikan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup rezim secara internal tanpa harus mengganggu pasar energi global.

Pesan yang dikirimkan melalui serangan-serangan ini sangat jelas: jika Iran terus mengganggu lalu lintas maritim di Teluk atau menyerang infrastruktur energi sekutu-sekutu Arab, maka “anjing penyerang” (Israel) akan dilepaskan dari talinya untuk menghancurkan fondasi ekonomi domestik Iran. Hal ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa bagi kepemimpinan di Teheran.

Selain infrastruktur fisik, kampanye militer ini juga mencakup serangan dekapitasi yang menargetkan tokoh-tokoh kunci dalam struktur komando Iran. Meskipun ada kekhawatiran bahwa membunuh pemimpin lama hanya akan memunculkan pemimpin baru yang lebih radikal, Israel berargumen bahwa radikalisme tanpa kemampuan teknis dan peralatan tempur yang mumpuni tidak akan berarti apa-apa.

Dengan hancurnya fasilitas pengayaan uranium dan gudang rudal, pemimpin baru Iran, seberapa pun radikalnya mereka, akan menemukan diri mereka dalam posisi yang lemah karena kehilangan instrumen kekuasaan mereka yang paling mematikan.

- Advertisement -

Di sisi lain, perkembangan politik internasional juga memberikan dimensi baru pada konflik ini. Dukungan publik di Amerika Serikat terhadap perang di Timur Tengah memang menunjukkan tren penurunan, namun di kalangan pendukung sayap kanan, aliansi tempur antara tentara Amerika dan Israel justru dilihat sebagai bentuk kerja sama yang positif. Selain itu, Israel kini mulai memperluas cakrawala diplomasinya di luar Amerika Serikat.

Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Israel sesaat sebelum perang pecah menandakan terbentuknya poros baru yang sangat signifikan. India dan Israel berbagi kepentingan yang sama dalam melawan terorisme jihadis global dan memiliki visi ekonomi yang saling melengkapi. Visi jangka panjang dari konflik ini bukan hanya tentang penghancuran rezim Iran, tetapi pembukaan jalur ekonomi yang stabil dari India, melalui negara-negara Arab Teluk yang kini lebih condong ke Israel, hingga ke Eropa.

Namun, tantangan terbesar tetap berada pada bagaimana perang ini akan berakhir. Netanyahu telah mengisyaratkan bahwa operasi darat mungkin diperlukan untuk benar-benar menumbangkan rezim dan menggantinya dengan kepemimpinan baru. Operasi darat ini kemungkinan besar tidak akan berbentuk invasi besar-besaran seperti di Irak, melainkan operasi khusus yang melibatkan kelompok oposisi internal Iran atau penguasaan titik-titik strategis seperti Pulau Kharg untuk mengontrol ekspor minyak Iran sepenuhnya.

Keberhasilan serangan dekapitasi yang terus berlanjut juga menunjukkan adanya infiltrasi intelijen yang sangat dalam di tubuh IRGC. Hal ini menciptakan suasana ketidakpercayaan di antara para pejabat Iran, di mana setiap individu mulai mencurigai rekan kerja mereka sebagai informan asing. Dalam jangka panjang, keretakan internal ini, ditambah dengan kehancuran ekonomi akibat hilangnya fasilitas energi, diharapkan akan mendorong rakyat Iran untuk bangkit dan melakukan perubahan dari dalam.

Meskipun dalam ranah publik rezim Iran menolak segala bentuk negosiasi, laporan mengenai pembelotan dan keputusasaan di kalangan menengah ke bawah mulai bermunculan. Pada akhirnya, Israel dan Amerika Serikat berharap dapat menarik diri dari konflik ini dengan klaim kemenangan atas penghancuran ancaman nuklir, sembari meninggalkan Iran dalam keadaan yang cukup lemah sehingga rakyatnya sendiri mampu menentukan masa depan mereka tanpa tekanan dari para mullah yang radikal. Transformasi Asia Barat ini diharapkan akan melahirkan stabilitas baru yang berbasis pada kerja sama ekonomi lintas benua, mengubur dalam-dalam mimpi nuklir Teheran yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama di kawasan tersebut.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.