Sabtu, Mei 15, 2021

Fitnah PEPES di Karawang, Bumerang untuk Prabowo-Sandiaga

Hutan Pinus: Folk Bagi Orang Kota, Bencana Bagi Orang Desa

Dari gawainya seorang kawan memamerkan potret demi potret dengan jajaran pohon pinus yang mengepung seseorang di tempat-tempat berbeda. Di Indonesia, katanya, gambar semacam itu...

Indonesia dan Pintu Jihad ISIS di Luar Suriah

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones berpendapat, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sama sekali tidak memiliki ketertarikan beroperasi di...

Menggandeng China, Memeluk Papua [Catatan Internasional 2016]

Sepanjang dua tahun memerintah Presiden Joko Widodo berkunjung ke Papua lima kali  dan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping juga lima kali. Adakah kaitan...

Pilkada Jakarta dan Hilangnya Akal Sehat Netizen

Persiapan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta sudah memasuki babak baru dengan penetapan tiga pasangan calon pemimpin Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama-Syaiful Djarot (Ahok-Djarot), Agus Yudhoyono-Sylviana...
Avatar
Dave Laksono
Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Anggota DPR RI.

Penyebaran hoaks dan fitnah terhadap Pak Jokowi oleh tiga orang anggota Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandiaga (PEPES) di Karawang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu patut disayangkan. Karena kontennya yang menyebut jika Pak Jokowi terpilih tidak ada lagi azan berkumandang, pernikahan sejenis dilegalkan, dan ulama akan dikriminalisasi, bisa menjadi minyak untuk membakar kemarahan masyarakat dan berakibat pada perpecahan. Merusak pemilu yang aman lagi damai.

Padahal, saat memulai masa kampanye September lalu, seluruh peserta pemilu telah mendeklarasikan kampanye damai, di Monas, disaksikan seluruh rakyat Indonesia. Tidak terkecuali pasangan Prabowo-Sandiaga dan seluruh partai pengusungnya. Sudah semestinya mereka tetap menjaga komitmen tersebut. Bukannya membiarkan konten fitnah dan hoaks terus direproduksi di akar rumput untuk menyudutkan Pak Jokowi.

Harus diakui, saya dan kawan-kawan di Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf sangat marah dan kecewa atas peristiwa tersebut. Kami sudah mati-matian mengondisikan setiap relawan, simpatisan, dan kader selurut partai pengusung agar tidak melakukan kampanye hitam dan kampanye negatif. Meskipun yang terakhir diperbolehkan oleh Undang-Undang, tapi kami berupaya menghindarinya semata agar masyarakat tidak semakin terfragmentasi dan kedamaian pemilu sirna.

Untuk itulah kami memutuskan melaporkan peristiwa tersebut kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai institusi yang berwenang menindak seluruh pelanggaran selama pemilu. Kami mengapreasiasi kinerja Bawaslu yang bekerja sama dengan kepolisian dalam mengusut kasus ini secara cepat. Ketiga anggota PEPES tersebut ditangkap dalam waktu singkat dan kini sedang menjalani proses hukum.

Harapannya, proses hukum juga berlanjut sampai menemukan dalang di balik operasi tiga ibu-ibu tersebut. Karena kami yakin pola seperti ini dilakukan secara terstruktur dan bukan hanya mereka yang sedang bekerja menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap Pak Jokowi. Tidak tertutup kemungkinan pola sama juga dilakukan di wilayah lain di Indonesia. Maka, alangkah baiknya jika dalangnya bisa ditangkap dan bisa turut bertanggung jawab. Agar pola kampanye hitam semacam ini bisa dihentikan sama sekali dan pemilu tetap menjadi pesta demokrasi yang damai.

Kubu Prabowo-Sandiaga Panik di Jabar

Dalam hal ini, secara pribadi, saya menilai penggunaan kampanye hitam di Jawa Barat (Jabar) merupakan wujud kepanikan dari kubu Prabowo-Sandiaga. Mereka takut kehilangan wilayah yang selama ini digembar-gemborkan sebagai basis utama pendukung Prabowo. Karena, masyarakat Jabar saat ini sudah semakin mengerti capai-capaian Pak Jokowi selama 4,5 tahun ke belakang. Seperti pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan hajat hidup mereka secara langsung.

Masyarakat Jabar juga telah melihat bukti bahwa pribadi Pak Jokowi tidak seburuk yang selama ini diasumsikan kubu penantang sebagai anti-Islam, anti-ulama, komunis, dan lain sebagainya. Karena, pada kenyataanya Pak Jokowi cukup dekat dengan ulama. Menjadikan KH Ma’ruf Amin yang merupakan ulama terkemuka di Indonesia sebagai wakilnya. Ia pun adalah sosok yang sangat taat beribadah.

Survei Indopolling periode Januari 2019 dengan 1200 responden dan margin of error lebih kurang 2,8 persen menunjukkan: kepuasan masyarakat Jabar terhadap kinerja Pak Jokowi sebesar 60 persen. Paling besar adalah kepuasan di bidang infrastruktur, sebesar 76,3 persen.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin berdasar survei yang sama, juga telah mengungguli Prabowo-Sandiaga di Jabar. 41,7 persen melawan 37,9 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dari hasil survei yang dilakukan internal kami di periode sama.

Sementara, menurut saya, Prabowo-Sandiaga tidak memiliki amunisi lain untuk menghalau peningkatan dukungan masyarakat Jabar kepada Jokowi-Ma’ruf. Visi-misi mereka tidak tajam dan tidak inovatif. Terlihat dalam dua debat terakhir mereka masih gagap menawarkan solusi terhadap persoalan-perosalan yang menjadi tema dan cenderung mengandalkan spin doctor di media sosial seusai perdebatan.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan selain menggunakan hoaks dan fitnah guna memojokkan pribadi Pak Jokowi. Seperti halnya yang mereka lakukan pada Pilpres 2014 lalu melalui tabloid Obor Rakyat yang menuding Pak Jokowi sebagai keturunan PKI. Padahal jelas-jelas keluarga Pak Jokowi tidak ada sangkut pautnya dengan partai tersebut.

Justru Jadi Bumerang

Namun toh, strategi yang sama tidak bisa berlaku dua kali. Masyarakat saat ini sudah semakin cerdas dan memahami pola-pola kampanye hitam tim Prabowo. Mereka tidak bisa ditipu untuk dua kali. Sebaliknya, seperti di video saat tiga ibu-ibu tersebut menyebarkan hoaks, warga membantah isu yang menyudutkan Pak Jokow tersebut dengan argumentasi logis dan waras.

Hemat saya, jika kubu Prabowo-Sandiaga terus menjalankan strategi hoaks dan fitnah kepada pribadi Pak Jokowi, justru akan menjadi boomerang kepada mereka. Masyarakat bisa semakin tidak percaya dengan apa pun pernyataan mereka. Dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf semakin meningkat. Akhirnya Jabar dengan lebih dari 30 juta warganya akan menjadi penentu kemenangan pasangan nomor urut 01.

Tentu saja kami pun tidak akan tinggal diam atas hoaks dan fitnah tersebut. Kami akan semakin memperkuat basis-basis masyarakat yang saat ini sudah mendukung Jokowi-Ma’ruf. Di samping terus menggerakkan relawan untuk mengampanyekan capaian Pak Jokowi dan visi-misi beliau ke depannya kepada masyarakat yang belum menentukan dukunga dan yang masih mendukung Prabowo-Sandiaga.

Saat ini, setelah peristiwa di Karawang terjadi, para relawan, simpatisan dan kader partai pengusung Jokowi-Ma’ruf menjadi semakin giat bekerja. Bukan hanya untuk memenangkan pasangan tersebut. Lebih dari itu adalah untuk menghindarkan perpecahan di kalangan masyarakat akar rumput akibat hoaks dan fitnah yang diluncurkan kubu Prabowo-Sandiaga.

Pada akhirnya, saya tetap optimis Pak Jokowi akan kembali memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024. Karena, Pak Jokowi adalah orang baik. Dan, sampai kapan pun saya yakin kebaikan akan menang di dunia ini.

Avatar
Dave Laksono
Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Anggota DPR RI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.