Jumat, Juni 21, 2024

Pengusahaan Private Jet Charter di Indonesia

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki tantangan geografis yang unik dalam hal transportasi. Dengan lebih dari 17.000 pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, mobilitas menjadi faktor kunci dalam perkembangan ekonomi dan sosial.

Penerbangan komersial telah menjadi tulang punggung transportasi udara di Indonesia, namun, dengan berkembangnya ekonomi dan meningkatnya kebutuhan akan perjalanan yang lebih fleksibel, cepat, dan nyaman, muncul kebutuhan akan layanan penerbangan eksklusif seperti private jet charter.

Pengusahaan penerbangan private jet charter adalah layanan penerbangan yang menyediakan pesawat jet pribadi untuk disewa oleh individu, kelompok, atau perusahaan. Layanan ini menawarkan fleksibilitas, kenyamanan, privasi, dan efisiensi waktu yang lebih tinggi dibandingkan penerbangan komersial reguler. Klien dapat memilih waktu keberangkatan, tujuan, dan jenis pesawat sesuai kebutuhan mereka.

Sejarah

Pengusahaan penerbangan private jet charter di Indonesia mulai mendapatkan perhatian pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Seiring dengan meningkatnya jumlah orang kaya dan kelas menengah atas, serta kebutuhan akan layanan transportasi udara yang lebih personal dan efisien, perusahaan-perusahaan mulai melihat potensi dalam bisnis ini.

  1. Awal Kemunculan (1990-an – awal 2000-an): Pada periode ini, beberapa perusahaan lokal dan internasional mulai menawarkan layanan private jet charter di Indonesia. Namun, karena masih terbatasnya kesadaran dan daya beli masyarakat, layanan ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya dan eksekutif perusahaan multinasional.
  2. Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Bisnis (2000-an – 2010-an): Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, semakin banyak perusahaan yang melihat pentingnya mobilitas cepat dan efisien untuk mendukung operasional bisnis mereka. Private jet charter mulai dianggap sebagai solusi ideal untuk perjalanan bisnis, terutama untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dan melakukan perjalanan antar kota besar tanpa harus terikat dengan jadwal penerbangan komersial. Pada masa ini, beberapa perusahaan penerbangan seperti Susi Air dan Premiair mulai mengembangkan layanan private jet mereka.
  3. Pariwisata dan Wisatawan Kelas Atas (2010-an – sekarang): Indonesia mengalami lonjakan pariwisata, menarik wisatawan dari seluruh dunia, termasuk wisatawan kelas atas yang mencari kenyamanan dan privasi dalam perjalanan mereka. Bali, sebagai salah satu destinasi wisata utama, menjadi titik masuk penting bagi layanan private jet charter. Peningkatan jumlah resor mewah dan fasilitas wisata eksklusif juga mendorong permintaan akan layanan penerbangan ini.
  4. Era Digital dan Inovasi Teknologi (2015 – sekarang): Teknologi digital membawa perubahan signifikan dalam industri penerbangan, termasuk layanan private jet charter. Platform online dan aplikasi mobile memudahkan proses pemesanan dan manajemen perjalanan, membuat layanan ini lebih aksesibel bagi lebih banyak orang. Perusahaan seperti Fly Bali dan Whitesky Aviation mulai memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan mereka dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
  5. Pandemi COVID-19 (2020 – 2022): Pandemi COVID-19 membawa tantangan besar bagi industri penerbangan, namun juga menciptakan peluang bagi private jet charter. Kekhawatiran akan kesehatan dan keselamatan di penerbangan komersial mendorong banyak orang untuk beralih ke private jet yang menawarkan tingkat privasi dan kontrol yang lebih tinggi. Setelah pandemi, tren ini terus berlanjut dengan banyak orang yang semakin menyadari manfaat dan kenyamanan menggunakan layanan private jet.

Dengan ekonomi yang terus berkembang dan meningkatnya kebutuhan akan mobilitas yang cepat dan efisien, masa depan industri private jet charter di Indonesia tampak cerah. Investasi dalam infrastruktur bandara, peningkatan layanan, dan adopsi teknologi canggih akan memainkan peran penting dalam pertumbuhan industri ini. Sektor ini tidak hanya melayani kebutuhan bisnis dan pariwisata, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan regional dan memperkuat konektivitas antar pulau di seluruh Indonesia.

Memulai usaha penerbangan private jet charter di Indonesia memiliki berbagai alasan penting yang membuat bisnis ini menarik dan potensial. Beberapa alasan utama adalah:

  1. Pertumbuhan Ekonomi yang Stabil: Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di Asia Tenggara. Peningkatan jumlah orang kaya dan kelas menengah atas menciptakan permintaan yang tinggi untuk layanan transportasi mewah dan eksklusif seperti private jet.
  2. Geografi yang Luas dan Tersebar: Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tersebar di berbagai wilayah. Layanan private jet memungkinkan akses yang lebih cepat dan efisien ke daerah-daerah terpencil atau sulit dijangkau, terutama untuk urusan bisnis atau kebutuhan mendesak.
  3. Pertumbuhan Pariwisata: Indonesia adalah destinasi wisata yang populer dengan tempat-tempat seperti Bali, Lombok, dan Raja Ampat. Layanan private jet charter menyediakan kenyamanan dan fleksibilitas bagi wisatawan kelas atas yang ingin menjelajahi destinasi ini tanpa kesulitan logistik penerbangan komersial.
  4. Kebutuhan Bisnis yang Tinggi: Banyak perusahaan multinasional dan bisnis lokal yang membutuhkan perjalanan cepat dan aman untuk eksekutif dan stafnya. Private jet charter memungkinkan mobilitas tinggi dan waktu perjalanan yang lebih efisien, mendukung operasi bisnis yang lebih efektif.
  5. Keamanan dan Privasi: Layanan private jet menawarkan tingkat privasi dan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan penerbangan komersial. Ini menjadi faktor penting bagi individu dan perusahaan yang memprioritaskan kerahasiaan dan kenyamanan dalam perjalanan mereka.
  6. Fleksibilitas dan Kenyamanan: Private jet charter menyediakan jadwal yang fleksibel, yang tidak terikat dengan jadwal penerbangan komersial. Penumpang dapat menentukan waktu keberangkatan dan kedatangan sesuai kebutuhan mereka, mengurangi waktu tunggu dan memungkinkan perjalanan yang lebih nyaman.
  7. Meningkatnya Tren Global: Layanan private jet charter semakin populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran dan permintaan akan layanan ini, ada peluang bisnis yang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang sedang berkembang.
  8. Pengurangan Waktu Perjalanan: Private jet charter memungkinkan penerbangan langsung ke destinasi yang tidak dilayani oleh penerbangan komersial, mengurangi waktu perjalanan keseluruhan dan meningkatkan efisiensi perjalanan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, usaha penerbangan private jet charter di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk berkembang dan sukses. Keuntungan-keuntungan ini menarik bagi investor dan pengusaha yang ingin memasuki pasar layanan penerbangan eksklusif di Indonesia.

Perencanaan Bisnis

Merencanakan bisnis dalam pengusahaan penerbangan private jet charter di Indonesia memerlukan strategi yang matang dan komprehensif. Berikut adalah elemen-elemen kunci yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan bisnis ini:

1. Riset Pasar dan Analisis

  • Identifikasi Pasar Target: Tentukan segmen pasar yang akan dilayani, seperti pebisnis, wisatawan kelas atas, atau ekspatriat.
  • Analisis Kompetitor: Pelajari pesaing utama di pasar Indonesia, seperti Susi Air, Premiair, Fly Bali, dan Whitesky Aviation. Analisis kekuatan dan kelemahan mereka untuk menemukan celah yang bisa dimanfaatkan.
  • Kebutuhan Pelanggan: Identifikasi kebutuhan dan preferensi pelanggan, seperti rute populer, jenis pesawat yang diminati, dan layanan tambahan yang diinginkan.

2. Model Bisnis

  • Jenis Layanan: Tentukan jenis layanan yang akan ditawarkan, seperti sewa per jam, keanggotaan, atau langganan bulanan/tahunan.
  • Fleet Management: Pilih jenis dan jumlah pesawat yang akan dioperasikan. Pertimbangkan pesawat yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan pasar, seperti jet ringan, jet menengah, atau jet berat.
  • Jaringan Rute: Tentukan rute-rute utama yang akan dilayani, baik rute domestik antar pulau maupun rute internasional.

3. Regulasi dan Perizinan

  • Izin Operasi: Dapatkan izin operasi dari Kementerian Perhubungan dan otoritas penerbangan terkait.
  • Kepatuhan Regulasi: Pastikan kepatuhan terhadap semua regulasi penerbangan, keselamatan, dan keamanan yang berlaku di Indonesia.
  • Kerjasama dengan Bandara: Jalin kerjasama dengan bandara-bandara utama dan sekunder untuk memastikan fasilitas parkir dan layanan penunjang.

4. Strategi Pemasaran

  • Branding: Bangun citra merek yang kuat dan mewah untuk menarik segmen pasar kelas atas.
  • Promosi dan Iklan: Gunakan media digital, media cetak, dan media elektronik untuk mempromosikan layanan. Pertimbangkan juga pemasaran melalui influencer dan event eksklusif.
  • Kemitraan: Jalin kemitraan dengan hotel-hotel mewah, resor, agen perjalanan, dan perusahaan MICE (Meeting, Incentives, Conferences, Exhibitions).

5. Operasional dan Manajemen

  • Sumber Daya Manusia: Rekrut pilot berpengalaman, awak kabin profesional, dan staf operasional yang kompeten. Latih mereka secara berkala untuk menjaga standar pelayanan.
  • Pemeliharaan Pesawat: Pastikan pemeliharaan pesawat dilakukan secara rutin dan sesuai standar untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan.
  • Sistem Reservasi dan Manajemen: Implementasikan sistem reservasi dan manajemen yang efisien, baik melalui aplikasi mobile maupun platform online.

6. Keuangan dan Investasi

  • Estimasi Biaya Awal: Hitung biaya awal untuk pembelian atau penyewaan pesawat, perizinan, pelatihan staf, pemasaran, dan infrastruktur pendukung.
  • Sumber Pendanaan: Identifikasi sumber pendanaan, seperti investor, pinjaman bank, atau modal ventura.
  • Proyeksi Keuangan: Buat proyeksi keuangan yang realistis, mencakup pendapatan, biaya operasional, laba bersih, dan arus kas.

7. Teknologi dan Inovasi

  • Digitalisasi: Gunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kenyamanan pelanggan, seperti aplikasi mobile untuk reservasi dan manajemen perjalanan.
  • Inovasi Layanan: Tawarkan layanan tambahan yang inovatif, seperti Wi-Fi di pesawat, layanan katering eksklusif, atau fasilitas lounge VIP.

8. Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan

  • Monitor Kinerja: Pantau kinerja bisnis secara rutin melalui KPI (Key Performance Indicators) yang telah ditetapkan.
  • Feedback Pelanggan: Kumpulkan dan analisis umpan balik dari pelanggan untuk terus meningkatkan layanan.
  • Pengembangan Berkelanjutan: Sesuaikan dan kembangkan strategi bisnis berdasarkan tren pasar dan perubahan kebutuhan pelanggan.

Dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang tepat, bisnis penerbangan private jet charter di Indonesia memiliki potensi besar untuk sukses dan berkembang dalam memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat.

Tantangan

Mengelola bisnis penerbangan private jet charter di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang signifikan. Beberapa tantangan terbesar adalah:

1. Regulasi dan Perizinan

  • Proses Perizinan yang Rumit: Mendapatkan izin operasional dari otoritas penerbangan bisa memakan waktu dan birokrasi yang kompleks.
  • Kepatuhan terhadap Regulasi: Memastikan kepatuhan terhadap berbagai regulasi penerbangan nasional dan internasional yang ketat, termasuk keselamatan dan keamanan penerbangan.

2. Biaya Operasional yang Tinggi

  • Pembelian dan Pemeliharaan Pesawat: Biaya untuk membeli atau menyewa pesawat, serta biaya pemeliharaan rutin yang tinggi.
  • Bahan Bakar: Harga bahan bakar avtur yang fluktuatif dan cenderung tinggi bisa menambah beban operasional.

3. Infrastruktur Bandara

  • Fasilitas Bandara Terbatas: Banyak bandara di Indonesia yang belum memiliki fasilitas lengkap untuk mendukung operasi private jet, seperti hangar, area parkir khusus, dan terminal VIP.
  • Akses ke Bandara Kecil: Bandara di daerah terpencil mungkin memiliki fasilitas yang kurang memadai, menghambat operasi penerbangan ke destinasi-destinasi tersebut.

4. Persaingan Pasar

  • Persaingan dengan Penerbangan Komersial: Meskipun private jet menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas, harga tiket yang jauh lebih tinggi dibandingkan penerbangan komersial bisa menjadi tantangan untuk menarik pelanggan.
  • Persaingan dengan Operator Internasional: Operator private jet internasional yang sudah mapan bisa menawarkan layanan yang lebih unggul atau beragam, meningkatkan kompetisi di pasar.

5. Kesadaran dan Permintaan Pasar

  • Kesadaran Pelanggan: Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang manfaat dan kelebihan layanan private jet bisa menghambat pertumbuhan permintaan.
  • Fluktuasi Permintaan: Permintaan untuk layanan private jet bisa sangat fluktuatif, tergantung pada kondisi ekonomi, tren perjalanan bisnis, dan pariwisata.

6. Sumber Daya Manusia

  • Kekurangan Tenaga Ahli: Kekurangan pilot berpengalaman, teknisi, dan awak kabin yang terlatih bisa menjadi kendala besar.
  • Pelatihan dan Sertifikasi: Biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja di industri penerbangan sangat tinggi.

7. Keamanan dan Keselamatan

  • Ancaman Keamanan: Risiko keamanan yang tinggi, termasuk ancaman terorisme dan keamanan bandara, memerlukan langkah-langkah pencegahan yang ketat.
  • Standar Keselamatan: Mempertahankan standar keselamatan yang tinggi untuk memastikan operasi yang aman dan menghindari insiden.

8. Fluktuasi Ekonomi dan Keuangan

  • Kondisi Ekonomi: Ketidakpastian ekonomi global dan lokal bisa mempengaruhi daya beli pelanggan dan permintaan untuk layanan mewah seperti private jet.
  • Kurs Valuta Asing: Fluktuasi nilai tukar bisa mempengaruhi biaya operasional, terutama jika ada komponen yang harus dibayar dalam mata uang asing.

Insentif

Dalam memulai dan mengembangkan bisnis penerbangan private jet charter di Indonesia, berbagai insentif bisa sangat membantu untuk meringankan beban biaya, meningkatkan daya saing, dan mempercepat pertumbuhan. Berikut adalah beberapa jenis insentif yang dibutuhkan:

1. Insentif Fiskal

  • Pembebasan atau Pengurangan Pajak: Pemerintah dapat memberikan insentif pajak seperti pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan (PPh) bagi perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan private jet charter.
  • Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN): Pembebasan atau pengurangan PPN untuk pembelian pesawat dan suku cadang bisa membantu mengurangi biaya awal yang besar.
  • Keringanan Pajak Impor: Pembebasan atau pengurangan bea masuk dan pajak impor untuk pesawat, suku cadang, dan peralatan terkait.

2. Insentif Finansial

  • Dukungan Pendanaan: Penyediaan fasilitas kredit dengan bunga rendah atau pinjaman lunak dari bank pemerintah atau lembaga keuangan yang didukung pemerintah.
  • Subsidi Bunga: Subsidi sebagian bunga pinjaman untuk pembelian atau penyewaan pesawat dan investasi infrastruktur.

3. Insentif Regulasi

  • Simplifikasi Perizinan: Penyederhanaan dan percepatan proses perizinan untuk operasional penerbangan, termasuk izin operasi dan izin rute.
  • Kebijakan Pendukung: Kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan sektor penerbangan, seperti kebijakan promosi pariwisata dan infrastruktur bandara.

4. Insentif Infrastruktur

  • Fasilitas Bandara: Penyediaan fasilitas khusus di bandara, seperti hangar, terminal VIP, dan area parkir pesawat yang memadai.
  • Pengembangan Infrastruktur: Investasi pemerintah dalam pengembangan dan peningkatan infrastruktur bandara di berbagai wilayah, terutama di daerah-daerah wisata dan bisnis yang potensial.

5. Insentif Pelatihan dan Sumber Daya Manusia

  • Program Pelatihan: Penyediaan program pelatihan dan sertifikasi bagi pilot, awak kabin, dan staf teknis dengan biaya subsidi atau gratis.
  • Dukungan Riset dan Pengembangan: Dukungan untuk riset dan pengembangan dalam teknologi penerbangan dan manajemen operasional.

6. Insentif Promosi dan Pemasaran

  • Kerjasama Promosi: Kemitraan dengan badan promosi pariwisata nasional untuk mempromosikan layanan private jet charter di pasar domestik dan internasional.
  • Subsidi Pemasaran: Subsidi atau dukungan finansial untuk kampanye pemasaran dan partisipasi dalam pameran perdagangan internasional.

7. Insentif Lingkungan

  • Pendanaan Hijau: Akses ke pendanaan hijau untuk investasi dalam pesawat yang lebih ramah lingkungan dan efisien bahan bakar.
  • Insentif Energi Terbarukan: Insentif untuk menggunakan bahan bakar penerbangan yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Contoh Implementasi Insentif:

  • Pemerintah Indonesiadapat melalui Otoritas Penerbangan untuk menyederhanakan proses perizinan operasional dan memberikan keringanan pajak bagi perusahaan baru yang berinvestasi dalam layanan private jet.
  • Bank Pemerintahseperti Bank Indonesia atau bank BUMN dapat menawarkan fasilitas kredit dengan bunga rendah untuk pembelian atau leasing pesawat.
  • Kementerian Pariwisatadapat bermitra dengan perusahaan private jet charter untuk mempromosikan pariwisata mewah di Indonesia, menawarkan insentif bagi perusahaan yang menyediakan layanan ke destinasi wisata unggulan.

Dengan kombinasi insentif-insentif ini, perusahaan penerbangan private jet charter di Indonesia dapat lebih mudah mengatasi hambatan awal, meningkatkan daya saing, dan memberikan layanan yang berkualitas tinggi kepada pelanggan mereka.

Way Forward

Menghadapi peluang dalam pengusahaan penerbangan private jet charter di Indonesia memerlukan strategi yang komprehensif dan adaptif. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil untuk memanfaatkan peluang tersebut:

1. Pemahaman Pasar yang Mendalam

  • Analisis Pasar: Lakukan riset pasar secara mendalam untuk memahami kebutuhan dan preferensi pelanggan potensial, termasuk pebisnis, wisatawan kelas atas, dan ekspatriat.
  • Segmentasi Pasar: Identifikasi dan targetkan segmen pasar yang tepat, seperti eksekutif perusahaan, wisatawan premium, dan individu dengan tingkat penghasilan tinggi.

2. Pengembangan Layanan dan Produk

  • Diversifikasi Layanan: Tawarkan berbagai paket layanan, seperti charter per jam, keanggotaan eksklusif, dan paket perjalanan mewah untuk menarik berbagai segmen pelanggan.
  • Penyesuaian Fasilitas: Sediakan fasilitas dan layanan tambahan yang menarik, seperti Wi-Fi di pesawat, layanan katering eksklusif, dan concierge untuk membantu perjalanan pelanggan.

3. Kolaborasi dan Kemitraan Strategis

  • Kerjasama dengan Hotel dan Resor Mewah: Bangun kemitraan dengan hotel-hotel mewah dan resor untuk menawarkan paket perjalanan lengkap yang mencakup akomodasi dan transportasi.
  • Aliansi dengan Agen Perjalanan dan Perusahaan MICE: Jalin kerjasama dengan agen perjalanan dan perusahaan yang menyelenggarakan acara MICE (Meeting, Incentives, Conferences, Exhibitions) untuk menyediakan solusi perjalanan eksklusif.

4. Peningkatan Infrastruktur dan Teknologi

  • Investasi dalam Teknologi: Implementasikan sistem reservasi online dan aplikasi mobile yang user-friendly untuk memudahkan pelanggan dalam memesan layanan.
  • Pengembangan Infrastruktur: Bekerjasama dengan otoritas bandara untuk memastikan adanya fasilitas yang memadai, seperti hangar, terminal VIP, dan layanan ground handling yang efisien.

5. Pengembangan Sumber Daya Manusia

  • Pelatihan dan Sertifikasi: Investasi dalam pelatihan dan sertifikasi pilot, teknisi, dan awak kabin untuk memastikan standar pelayanan dan keselamatan yang tinggi.
  • Rekrutmen Profesional: Rekrut tenaga ahli dengan pengalaman internasional untuk meningkatkan kredibilitas dan kualitas layanan.

6. Strategi Pemasaran dan Promosi

  • Kampanye Promosi: Lakukan kampanye promosi melalui media sosial, media cetak, dan media elektronik untuk meningkatkan kesadaran dan minat pelanggan.
  • Event dan Pameran: Partisipasi dalam pameran penerbangan internasional dan acara eksklusif untuk mempromosikan layanan dan membangun jaringan bisnis.

7. Manajemen Keuangan yang Efektif

  • Pendanaan dan Investasi: Cari sumber pendanaan yang kuat, seperti investor swasta atau pinjaman bank dengan bunga rendah untuk mendukung pembelian pesawat dan pengembangan infrastruktur.
  • Manajemen Biaya: Kelola biaya operasional dengan efisien melalui optimisasi rute penerbangan, negosiasi harga bahan bakar, dan pemeliharaan pesawat yang terjadwal.

8. Kepatuhan dan Keamanan

  • Kepatuhan Regulasi: Pastikan kepatuhan terhadap semua regulasi penerbangan nasional dan internasional untuk menjaga reputasi dan keselamatan operasi.
  • Keamanan dan Privasi: Implementasikan langkah-langkah keamanan yang ketat dan jaminan privasi untuk memberikan rasa aman kepada pelanggan.

9. Inovasi Berkelanjutan

  • Adopsi Teknologi Baru: Terus mengadopsi teknologi baru yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kenyamanan pelanggan, seperti pesawat dengan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah dan sistem navigasi canggih.
  • Peningkatan Layanan: Secara rutin evaluasi dan tingkatkan layanan berdasarkan umpan balik pelanggan untuk memastikan kepuasan yang tinggi.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, perusahaan penerbangan private jet charter di Indonesia dapat memanfaatkan peluang pasar dengan lebih efektif, meningkatkan daya saing, dan membangun bisnis yang berkelanjutan.

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.