Senin, Mei 17, 2021

Peluang Tumbuhnya Ideologi Anti Rezim di Muhammadiyah

Kasus Pelecehan Seksual Anindya Joediono: Antara Tontonan, Pengabaian, dan Penyalahan Korban

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitulah situasi yang mesti dihadapi Anindya Joediono setelah menghadiri diskusi di Asrama Mahasiswa Papua, Tambaksari, Surabaya pada 6 Juli silam....

Deddy Corbuzier Tidak Tahu, Monster Itu Bukan Testosteron

Di bangku sekolah, ada satu ungkapan guru yang saya ingat betul: testosteron ada baik dalam tubuh lelaki maupun perempuan. Belakangan, testosteron diangkat dalam tayangan...

Virus Corona, Globalisasi, dan Negara Kuat

Virus Corona atau Covid-19 adalah ‘anak kandung’ globalisasi. Persebaran pesat Covid-19 ke lebih dari 90 negara di luar Tiongkok ternyata telah menimbulkan ketegangan dalam...

Ahok, Penistaan Agama, dan Defisit Percaya Diri Kaum Muslim

Gelombang demonstrasi yang akan dimobilisasi Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok Islam garis keras lain menggambarkan defisit percaya diri kaum Muslim yang kian akut....
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Muhammadiyah di awal berdiri adalah organisasi koperatif bukan non-koperatif. Pikiran anti rezim bukan tradisi, karena tidak bersanad. Demikian para sejarawan semisal Taufik Abdullah, Ahmad Mansur Suryanegara dan lainnya menyebut.

Sebab itu Kyai Dahlan sang pendiri mengambil jalan damai, semacam kemitraan dengan kompeni Belanda sebagai pilihan. Kyai Dahlan juga mengambil subsidi untuk operasional sekolah yang dikelolanya. Silakan saja dilihat manuskripnya— meski tradisi Muhammadiyah tak suka melihat sejarah para pendirinya karena takut dibilang riya dan kultus.

Pergerakan Muhammadiyah adalah sejarah pergerakan kaum menengah atau abdi dalem keraton di pusat kekuasaan Jawa. Kyai Dahlan adalah putra penghulu keraton. Orang istana. Dekat dengan kekuasaan dan raja-raja Jawa. Jangan lupakan itu. Jadi tak heran bila corak gerakannya bernuansa kosmopolit masyarakat menengah priyayi Jawa. Bukan ‘pesantren’ simbol Islam tradisional yang dibangun, tapi university, boarding, klinik dan panti asuhan yang kental aroma selera kompeni yang jadi pilihan amal — sebagai suar atau simbol modernisasi.

Kyai Dahlan adalah ulama waskita atau futuristik yang pintar membaca tanda-tanda jaman—- beliau punya selera kompeni, ingin umat Islam punya sekolah, boarding, klinik hingga university seperti orang Eropa — orang Islam harus bercelana, pakai jas, vantovel atau pentalon seperti meneer Belanda. Orang Islam harus maju tak boleh jumud. Al Quran tak cukup dihafal tapi harus di amalkan. Tak urung gagasannya ini dilawan banyak orang bahkan dikaferkan karena dianggap tasyabbuh.

Sejauh mata memandang, maka Muhammadiyah adalah gerakan yang eksotik, lincah dan kenyal — sebab yang ditawarkan adalah mengubah pikiran, mainstream atau paradigma — bukan perang atau jihad angkat senjata dan itu punya daya tarik kuat karena banyak memberi inovasi pemoderenan dan moderasi yang banyak menginspirasi. Prof Nakamura memberi catatan khusus tentang matahari terbit di atas pohon beringin yang banyak di apresiasi karena faktual menggambarkan sejarah pergerakan Islam modern di Kotagedhe ini.

Pun dengan pergerakan yang dipilih bukan oposisi sebab Kyai Dahlan dekat keraton, orang istana yang ada di lingkaran kekuasaan— Kyai Dahlan adalah representasi Islam menengah atas yang peduli — sebut Dr Alfian dalam risetnya yang menarik, Kyai Dahlan adalah bagian masyarakat kelas mapan yang gelisah karena peduli. Bukan politik kekuasaan yang dipilih tapi gerakan kultural kelas menengah atas. Bukan marjinalisasi apalagi eksklusifitas tapi inklusif dan toleran.

Substansi gerakannya ingin menyibak tesis Syaikh Muhammad Abduh tentang Al Islamu mahjuubun bil muslimiin — Kyai Dahlan melakukan purifikasi dan modernisasi dalam kesatuan ihwal yang melahirkan Islam moderat atau wasath.

Sejak kapan tiba-tiba Muhammadiyah menjadi oposan anti kekuasaan, anti rezim, dan berdiri berhadapan dengan penguasa, sementara sisi lain juga menerima subsidi dan segala bantuan dari pemerintah?

Lantas bagaimana jihad dan nahy munkar dimaknai menurut perspektif Kyai Dahlan —pada perspektif modernisasi dan purifikasi yang ditawar Kyai Dahlan, maka domain jihad dan nahy munkar mengalami pemaknaan yang inklusif—mengedepankan maslahat dan pemodernan setelah dilakukan kontekstuasi maksimal.

Jadi inilah tafsir priyayi tentang jihad dan nahy munkar itu: Membangun sekolah adalah jihad melawan kebodohan- rumah sakit adalah jihad melawan perdukunan dan kemusyrikan. Lazis dan bait amal adalah jihad melawan kemiskinan. Masjid dan mushala adalah jihad melawan bid’ah. Nahy munkar ala priyayi, semuanya pakai modal. Inilah perspektif nahy munkar yang telah dilakukan dengan capaian yang luar biasa

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.