Sabtu, Mei 15, 2021

Munculnya Orde Baru Jilid II

Islam, Jokowi Salah Berhitung?

Pemilihan Presiden 2014 ternyata sebuah pertarungan panjang yang melelahkan. Kita tahu Joko Widodo menjadi tumpuan harapan orang kebanyakan, rakyat yang beserak: pada banyak tempat,...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Risma dan Kota Cerdas Surabaya

Salah satu gagasan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mewujudkan kota yang makin maju dan pintar adalah memanfaatkan teknologi internet untuk membangun Surabaya menjadi Kota...

Pemilu Bukan Segala-galanya, tapi Penting

Kemarin (17/4) Pemilu serentak di seluruh penjuru tanah air pertama kali diselenggarakan dalam sejarah demokrasi di negeri ini. Beberapa hari sebelumnya, pemungutan suara sudah...
Avatar
Hendra Try Ardianto
Pelajar politik, fokus dalam kajian ekologi-agraria. Aktif di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FN-KSDA).

Sejumlah siswa SMA mengikuti aksi Kamisan ke-417 di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/10). Dalam aksinya mereka mengajak anak muda zaman sekarang untuk peduli terhadap kasus-kasus Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. ANTARA FOTO/M. Ali Wafa/foc/15.
Sejumlah siswa SMA mengikuti aksi Kamisan ke-417 di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/10). Dalam aksinya mereka mengajak anak muda zaman sekarang untuk peduli terhadap kasus-kasus Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. ANTARA FOTO/M. Ali Wafa.

Rasa-rasanya, reformasi yang terjadi 17 tahun lalu kini telah mengalami titik balik. “Orba Jilid II” (tanpa Soeharto di dalamnya) seakan bersemi kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Beberapa pertanda mulai muncul, persisnya ketika pelarangan bersuara sudah mulai menjadi kemahfuman lagi. Bahkan beberapa di antaranya telah diinstitusionalisasikan ulang. Sungguh menyedihkan!

Agustus lalu, kita tersentak mendengar revisi RUU KUHP yang berencana akan mencantumkan pasal penghinaan presiden. Bukan berarti saya sepakat bahwa presiden boleh dihina, toh itu juga presiden kita. Namun, dampak politik riil yang terjadi bakal begitu merisaukan. Ingat, ada berapa orang yang dulu ditangkap, melarikan diri dan menjadi buron, juga berbagai pers yang dibredel, saat Soeharto tidak berkenan hati dengan suara-suara yang mengkritiknya. Ini riil, bukan asumsi normatif bahwa hukum pasti netral (benar).

Beranjak Oktober, kita menjadi semakin galau akibat Surat Edaran Polri No. SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech). Sebuah surat edaran yang mampu menersangkakan orang dengan ancaman pidana penjara selama 5 tahun dan denda paling banyak 500 juta rupiah. Mengerikan sekali! Apa sebenarnya batasan ujaran kebencian. Jangan-jangan, dalam praktiknya nanti, setiap usaha kritik dan berbeda pendapat, kalau seseorang semisal pejabat tak suka dengan isi kritik itu, bisa dikenakan pasal ujaran kebencian.

Ingat, negara ini sedang porak-poranda dari segala lini. Rakyat teriak-teriak bukan karena mereka membenci pemimpinnya, namun keabaian sang pemimpin yang sudah tuli akan suara rakyatnya sendiri. Kalau mereka yang mengkritik dengan pedas para pejabat lalu bisa mudah dimasukkan bui, bisa penuh semua lapas di Indonesia. Wong rakyat bawah sekarang sedang marah-marahnya akibat asap, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hendak dikerdilkan, hingga yang paling kasat mata ketika tanah-tanahnya direbut oleh korporasi.

Belum genap seminggu memasuki November, Provinsi DKI Jakarta ternyata ikut ketularan virus serupa, dengan terbitnya  Peraturan Gubernur Nomor 228 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pelaksanaan Penyampaian Pendapat di Muka Umum. Titik baliknya sama, meski intensitasnya agak lebih kecil (hanya Pergub), yakni bersuara itu harus dibatasi–kalau perlu ditakut-takuti agar tak bersuara.

Gejala-gejala semacam ini adalah salah satu indikator yang saya pahami ada dalam rezim Orba dulu. Saat masih kuliah ilmu politik, nyaris seluruh buku pegangan kuliah yang mengupas rezim Orde Baru meletakkan rezim ini sebagai rezim: Anti-kritik dan Alergi-protes.

Apakah keberadaan regulasi-regulasi di atas adalah pertanda akan lahirnya Orba Jilid II? Saya kira iya. Mari kita lihat kejadian di lapangan.  Di wilayah pers, berulang kali terjadi pembungkaman dan pembredelan atas kegiatan mahasiswa yang bersendi pada praktik jurnalisme ini. Pers Mahasiswa (selanjutnya persma) Dianns, tercatat pernah dilarang diskusi dan nonton film oleh pihak Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.

Persma Aksara pernah diancam akan dibubarkan jika menulis tentang keburukan Fakultas Ilmu Keagamaan (FIK) Universitas Trunojoyo, Madura. Yang terbaru, majalah Lentera dibredel oleh kepolisian dan Rektorat Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Belum berakhir dengan kejadian-kejadian tersebut, beberapa minggu lalu muncul lagi aksi sweeping pihak Rektorat Universitas Mataram terhadap persma Media beserta pengusiran seluruh awak redaksi dari sekertariat mereka.

Di wilayah konflik agraria, saya kira catatannya sudah tak terhitung lagi. Mulai dari sekadar menyobek iklan korporasi hingga masalah mencabut patok pembatas yang dilakukan korporasi, semua masalah remeh-temeh yang tak menyenangkan korporasi semacam itu bisa berakhir dengan urusan polisi dan pengadilan. Ironis!

Adapun rekor terbesar kasus kriminalisasi atas “perbuatan yang tidak menyenangkan kepada pihak lain” adalah wilayah media sosial (medsos). Tak terhitung lagi jumlahnya orang yang dikasuskan lantaran perkara note, status, atau sekedar twit di jejaring internet. Mulai dari kasus yang menkritik pelayanan hingga kasus yang sangat tidak masuk akal sekalipun, semacam status cemooh atas kehidupan sebuah kota, Florence Sihombing sungguh bernasib sial dalam hal ini. Juga polemik sastra yang seharusnya otonom sebagai proses berkebudayaan, ternyata mengisahkan cerita Iwan Soekri dan Saut Situmorang yang dikriminalisasi oleh pasal karet penghinaan dan pencemaran nama baik.

Dari semua ini, apalagi yang bisa dikatakan kecuali Indonesia ke depan akan mengarah pada kemunculan tatanan Orbais babak kedua. Regulasi yang menakut-nakuti orang bersuara sudah dibuat, praktik di lapangan sudah ratusan bahkan ribuan kasus, maka ini adalah pertanda nyata bahwa spirit “anti kritik dan elergi protes” yang disemai oleh Soeharto selama 32 tahun lamanya kembali menjamah kehidupan kita sehari-hari sekarang. Tinggal menunggu saja, kapan giliran Anda sekalian akan tersangkut persoalan semacam ini. Waspadalah!

Kadang saya pernah berpikir nakal, andaikan “perbuatan tidak menyenangkan” dan “pencemaran nama baik” ini di balik logikanya, bukan para pejabat yang mengkriminalisasikan rakyatnya, apa yang akan terjadi? Sebab, saya sering melihat rakyat merasa tidak senang dan merasa dipojokkan oleh statemen pejabat/pemimpin daerahnya. Bisakah rakyat mengadukan ke polisi kalau sang pejabat melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada rakyatnya? Menurut logika, itulah yang ideal jika kita taat nalar supremasi hukum, bahwa siapa pun di hadapan hukum adalah setara.

Di luar ini semua, saya harus memberikan peringatan pada khalayak publik akan kelahiran Orba Jilid II yang mengancam kehidupan kita mendatang. Mari kita serempak menghadang laju perkembangan Orba Jilid II ini. Untuk itu, saya hendak mengatakan: “Awas Bahaya Laten Orbais!” Atau dengan sebuah plesetan: “Waspada Orbais Gaya Baru!”

 

Avatar
Hendra Try Ardianto
Pelajar politik, fokus dalam kajian ekologi-agraria. Aktif di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FN-KSDA).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.