Rabu, April 21, 2021

Mengungkap Kisah Radikalisme Agama di Pakistan

Komunisme, Liberalisme, dan Romo Magnis

Diskursus komunisme secara instan mengibarkan trauma historis di Indonesia. Dalam artikel Franz Magnis-Suseno, “Komunisme Memang Gagal” (Kompas, 9 Juli 2020), ditegaskan, komunisme kini muncul...

Program 100 Hari Joe Biden dan ‘Kutukan’ Midterm Election

Joe Biden dilantik menjadi presiden AS ke-46 pada 20 Januari 2022 lalu. Kemenangan Biden di Pilpres 2020 juga diikuti dengan kemenangan Partai Demokrat di...

Suara Milenial dalam Jaket Denim Jokowi

Yang harus di kritik dari Jokowi itu pilihan sepatunya, bukan jaket denimnya.

Influencer Konten Nyeleneh, Cobaan Sisi Primitif Manusia

Saya tidak habis pikir, dimana-mana orang-orang viral memenuhi sosial media setiap hari, berganti-ganti. Tapi semuanya hanya membawa konten-konten nyeleneh yang memancing sumpah-serapah warganet. Kita mungkin...
Avatar
Ahmad Imam Mujadid Rais
Lembaga Hubungan dan Kerja Luar Negeri PP.Muhammadiyah. Master of International Relations di The University of Melbourne, dan Penikmat Film

among
Talha dan Maulana Abdul Aziz dalam film “Among The Believers” (2015)

Among The Believers adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan sosok sentral di balik meningkatnya radikalisme agama di Pakistan. Dalam Screen Docs Expanded, di Erasmus Huis, Jakarta, 1-4 Desember 2016 lalu, Among The Believers diputar. Kisah film ini sangat relevan dengan situasi kekinian di Indonesia.

Alkisah, di sudut kota Islamabad, Pakistan, sebuah masjid berdiri tegak menantang langit. Dua menaranya menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, mengawal kubah masjid. Warna merah mendominasi kompleks masjid yang cukup megah ini. Karena itu, masjid ini dinamakan Masjid Merah (Lal Mosque).

Masjid itu menjadi pusat perhatian di masa kepemimpinan Pervez Musharraf yang giat mengkampanyekan War On Terror bersama aliansinya, Amerika Serikat, karena penyerbuan masjid oleh petugas keamanan yang menyebabkan meninggalnya kurang lebih 150 orang dari kedua belah pihak. Penyerbuan ini dikarenakan Masjid Merah dan jaringan madrasahnya di seluruh Pakistan menjadi pusat radikalisasi dan berafiliasi dengan Al-Qaidah—kemudian dengan ISIS di tahun 2014.

Secara historis, jaringan pengikut Masjid Merah membangun afiliasi dengan Amerika Serikat untuk melawan tentara pendudukan Uni Sovyet di Afghanistan di tahun 1990-an. Bahkan, beberapa pimpinan madrasah tersebut diundang ke Gedung Putih dan diterima oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan, dan dianugerahi penghargaan.

Namun, ketika Uni Sovyet jatuh, Amerika berpaling dari kelompok ini. Lepas dari Amerika, kelompok ini membangun afiliasi baru dengan Osama Bin Laden dan Al-Qaidaa. Afiliasi baru ini meneguhkan posisi madrasah yang tersebar di seluruh Pakistan ini sebagai pusat pendidikan mujahidin.

Pada titik itu, kita melihat geopolitik Pakistan yang bertetangga dengan Afghanistan, pusat gerakan Taliban, menjadi satu dilema tersendiri. Maka, Pakistan menjadi aliansi utama AS di kawasan untuk memerangi Taliban pasca invasi ke Afghanistan tahun 2001.

Selain profil Maulana Abdul Aziz, film ini juga memunculkan figur lain yang tak kalah berpengaruh, Dr. Pervez Hoodbhoy, seorang aktivis dan fisikawan. Sebagai warga negara Pakistan, ia resah melihat masjid-masjid dan madrasah diisi oleh pemahaman yang radikal. Kekhawatiran ini beralasan seiring meningkatnya kekerasan dan pembunuhan atas nama jihad yang dilakukan oleh jaringan madrasah ini.

Puncaknya adalah ketika sebuah sekolah di Peshawar diserang oleh Taliban, 132 orang siswa di antaranya meninggal, ia bersama kelompok moderat mengkampanyekan “Reclaim our Madrasa, Reclaim our Mosque”. Desakan untuk menghentikan jaringan Masjid Merah kian menguat. Apakah kelompok ini bisa dihentikan?

“Yang bisa menghentikan serangkaian kekerasan ini adalah penegakan syariah di Pakistan yang berdasarkan al-Qur’an,”—yang menjadi doktrin utama dari madrasah ini—demikian jawab Maulana Aziz.

Maulana juga mendeklarasikan perang kepada pemerintah Pakistan. “Bila dalam memperjuangkan hal ini mereka akan menembak kami, silakan saja. Tapi bila mereka meminta kami berubah pikiran, lupakan saja.” Sebagaimana praktik doktrinasi, pemikiran-pemikiran yang ada ditanamkan sedemikian rupa sehingga “murid-muridnya tidak akan lupa hingga mereka mati.”

Hal itu mengingatkan saya pada pola-pola deradikalisasi kepada tahanan terorisme yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu metodenya adalah mengundang ulama moderat ke penjara untuk berdiskusi dengan tahanan ini. Harapannya, tahanan ini bisa berubah pikiran dan mengalami moderasi dalam pemikiran keagamaanya.

Berulang kali didatangi, tidak juga membuahkan hasil. Maka, sebaiknya, tokoh-tokoh yang termasuk ideologi ini memang tidak didoktrin ulang dengan pemahaman yang moderat, karena memang tidak akan bisa diubah. Yang perlu didekati dengan metode seperti ini adalah pengikut-pengikutnya yang berada di level kedua, ketiga, dan seterusnya daripada tokoh utamanya.

Di sisi berlawanan, ada figur Tariq, seorang kepala desa yang gigih membangun masyarakatnya melalui pendidikan yang inklusif. Ia menyumbangkan sebidang tanahnya untuk gedung sekolah. Berbeda dengan madrasah Masjid Merah, sekolah Tariq mengizinkan dinyanyikannya lagu kebangsaan Pakistan, belajar matematika, bahasa Inggris, hingga komputer.

Bagi Tariq, inilah jihadnya. Mendidik anak-anak generasi muda Pakistan. Sekolah ini menjadi suaka yang nyaman bagi Zarina (12), gadis pemberani yang melarikan diri dari komplek madrasah Masjid Merah. Usia Zarina yang masih di usia sekolah ini menjadi alasan sang ayah menolak seorang laki-laki yang datang bersama ibunya untuk melamar Zarina.

Namun seiring meningkatnya ancaman dari militan, sekolah ini akhirnya ditutup. Padahal ketika sekolah di sekolah Tariq, Zarina senang dan antusias mengikuti setiap mata pelajaran. Namun ketika sekolah dihentikan karena ancaman militan, takdir lain menanti Zarina: menikah muda.

Lain lagi dengan Talha (12). Ia berasal dari keluarga Muslim moderat di Kashmir. Ia giat menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an—walau tidak tahu artinya. Di madrasah, ia bercita-cita menjadi jihadis. Ketika kasus Masjid Merah mencuat, ayahnya datang menjemputnya dan memintanya pulang—permintaan yang ia tolak. Ia meyakini apa yang ia lakukan benar. Namun, Talha kemudian pindah ke sekolah yang lebih baik dan di sana ia diajarkan tentang al-Qur’an dengan maknanya.

Film dokumenter karya Hemal Trivedi (India) dan Mohammed Naqvitak (US) ini skenarionya ditulis oleh Jonathan Goodman Levitt. Judul film ini mengingatkan kita pada novel karya penulis V.S. Naipaul dengan judul yang sama, yang menuliskan perjalanan spiritual selama enam bulan yang menggambarkan negara-negara yang dilalui Naipaul yang bercita-cita menegakkan negara Islam.

Film ini menginspirasi bagi gerakan Islam di mana pun bahwa perbedaan penafsiran agama, antara yang literer dan kontekstual, serta perebutan wacana di ruang publik, terjadi di mana pun. Namun selama kelompok moderat diam dan tidak beraksi, ruang-ruang publik akan terus diisi oleh narasi literer dan intoleran, yang dapat saja menjurus pada aksi-aksi kekerasan yang tidak kita inginkan.

Avatar
Ahmad Imam Mujadid Rais
Lembaga Hubungan dan Kerja Luar Negeri PP.Muhammadiyah. Master of International Relations di The University of Melbourne, dan Penikmat Film
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.