OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Mengapa Antropologi Penting untuk Mempelajari Manusia?

Sarah Monica
Sarah Monica
Lahir di Jakarta pada 12 Agustus. Seorang penulis, penggiat seni, dan anggota Lesbumi PBNU. Saat ini sedang menempuh studi di Pascasarjana Antropologi, Universitas Indonesia. Beberapa karya esai, puisi, dan cerpennya telah diterbitkan di Bali Post, Solo Post, Majalah Literasi, Majalah Bahana Brunei Darussalam, Borobudurwriters, NU Online, Beritabaru.co, Geotimes.id, Gusdurian.net, serta antologi bersama.

Ilmu pengetahuan lahir dari kesadaran manusia pada alam semesta beserta seluruh isinya. Sehingga manusia dengan rasa keingintahuan serta kecerdasannya berupaya memahami tiap segi dari dunia ini. Termasuk manusia pun adalah misteri yang tidak akan pernah habis dikaji.

Sederhananya eksplorasi atas kehidupan yang bersifat material menciptakan apa yang dinamakan ilmu alam, sedangkan yang berkaitan dengan manusia akan melahirkan ilmu sosial dengan berbagai turunan dan percabangannya. Dibandingkan dengan ilmu alam, potensi ilmu sosial berkembang jauh lebih cepat karena manusia bersifat lebih cair dan dinamis.

Dalam lingkungan atau faktor budaya tertentu, manusia akan senantiasa berubah menyesuaikan dinamika zaman. Itulah mengapa meneliti manusia atau dalam lingkup yang lebih besar masyarakat, harus ditempatkan pada konteks ruang dan waktu tertentu.

Terlebih seiring abad berlalu derivasi ilmu alam maupun ilmu sosial mengalami atomisasi yakni membahas aspek-aspek pengetahuan yang semakin spesifik. Saya ingin mengajak pembaca untuk mengenal sebuah ilmu yang mengkaji manusia. Lalu melihat bagaimana posisi ilmu ini di tengah ilmu-ilmu lain yang juga membahas manusia.

Dan akhirnya, mencoba memahami peranannya bagi kehidupan sehari-hari manusia itu sendiri. Dalam momen pembelajaran bersama, diharapkan apa yang tersampaikan dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua sebagai upaya untuk lebih memahami dan tentunya menjadi manusia yang lebih baik.

Distingsi Antropologi dan Sosiologi

Antropologi dan sosiologi merupakan dua Ilmu Sosial yang paling dikenal, minimal oleh kaum akademisi maupun non akademik. Secara kronologi kelahiran ilmu, sosiologi jauh lebih awal dibandingkan antropologi.

Kemunculan antropologi sering dilekatkan pada tuduhan pembuka jalan kolonialisme di negara-negara berkembang. Sesungguhnya akar pengetahuan keduanya berangkat dari studi filsafat yang berkembang lebih jauh dengan basis saintifik, sehingga menjadi bersifat empiris.

Bahan bacaan klasik di antropologi juga membahas teori dari para pemikir Thomas Hobbes, John Locke, Hegel, Marx, Durkheim, maupun Max Weber. Pemikiran-pemikiran dalam antropologi ada yang merupakan turunan maupun pengaruh dari paradigma kanon tersebut.

Kemudian melihat perbedaannya dengan sosiologi harus dikembalikan pada sejarah mula bagaimana antropologi lahir sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan di abad 19. Meskipun, benih awalnya telah ada dan tumbuh sejak akhir abad 18.

Pada masa pencerahan, ketika manusia menempati posisi sentral di tengah semesta, kelahiran ilmu pengetahuan merupakan hasil usaha manusia dalam menyingkap sekaligus menaklukkan misteri alam dunia. Penjelajahan ke berbagai belahan dunia di luar Eropa semakin gencar dilakukan.

Dalam penjelajahan tersebut, hasil penemuan atas masyarakat yang “berbeda” ditulis dalam catatan bernama “etnografi”. “Grafi” berasal dari kata “graphy” yang berarti “gambaran” dan “etno” dari “ethnos“, artinya “suku” atau “bangsa”.

Etnografi  bermakna gambaran tentang suku-suku atau bangsa-bangsa. Ilmu yang mempelajari itu dinamakan Etnologi. Jadi etnologi sebagai preseden ilmu yang kemudian melahirkan antropologi.

Berdasarkan pada histori tersebut, antropologi awalnya merupakan ilmu yang mempelajari tentang bangsa-bangsa di luar Eropa. Bertolak belakang dengan sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji tentang masyarakat Eropa.

Lalu dari sisi metodologi, antropologi dengan etnografinya berlandaskan pada penelitian kualitatif, sedangkan sosiologi lebih menekankan pada penelitian kuantitatif dengan basis statistik. Pada perkembangan lebih lanjut, perbedaan-perbedaan semacam itu semakin bercampur dan dapat diperdebatkan.

Namun, hingga kini sosiologi lebih dipahami sebagai ilmu yang mengkaji tentang masyarakat. Di sisi lain, lingkup kajian antropologi lebih spesifik mengacu pada kelompok-kelompok manusia tertentu.

Masalah yang fokus digali dalam antropologi adalah cara pandang atau nilai yang kemudian membentuk perilaku dan sistem kehidupan tertentu sehingga menjadi budaya. Antropologi sebagai ilmu yang menyadari keberagaman sebagai hakikat manusia. Tujuan dasar antropologi ialah untuk memahami keanekaragaman manusia.

Dari “partikularitas histori” dalam bahasa Weber (1864-1920), yang mewujudkan keunikan-keunikan budaya manusia itulah fokus studi antropologi. Melalui pemahaman atas keanekaragaman, secara konseptual peran antropologi memperluas horizon mengenai hakikat manusia.

Relevansi Antropologi dalam Keseharian

Antropologi juga berperan dalam menjembatani kebutuhan masyarakat yang diteliti dengan berbagai kepentingan terkait. Penelitian antropologi dengan metodologi kualitatifnya berusaha menjangkau tidak hanya seluas-luasnya, melainkan juga sedalam-dalamnya persoalan yang berlangsung di lapangan.

Seorang antropolog membangun raport (kedekatan) dengan menyelami terlebih dahulu masyarakat yang akan diteliti. Sehingga “penetrasi” seorang antropolog di lapangan lebih mendalam dibandingkan ilmuwan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Tanpa itu, dinding kecurigaan yang menyebabkan jarak antara peneliti dan subjek yang diteliti (interlocutor) tidak akan dapat diruntuhkan. Misalnya dalam isu pembangunan daerah, hal pertama yang dilakukan antropolog adalah melakukan pemetaan lapangan mengenai potensi apa saja yang dapat dikembangkan oleh masyarakat.

Pembangunan tidak harus melulu menyasar pada pembangunan fisik, seperti infrastruktur, tetapi perlu menargetkan pada pembangunan manusianya. Dengan manusia-manusia yang lebih berkualitas, daerah dapat berkembang melalui terciptanya peluang ekonomi kreatif.

Selain ditemukannya potensi-potensi tersebut, seorang antropolog juga dapat mengamati tantangan dan hambatan apa yang ada dalam masyarakat, serta mencoba menjadi jembatan solusi. Terlepas dari peran-peran dalam pembangunan, antropologi sendiri relevan dalam praktik keseharian.

Clifford Geertz (1926-2006) menawarkan dua posisi observasi dalam antropologi pada subyek, antara lain “emic” dan “etic“. “Emic” merupakan pendekatan antropologi dengan menggunakan kacamata pelaku atau subyek yang diteliti.

Sedangkan “etic” ialah pendekatan yang memakai kacamata antropolog atau si peneliti. Dengan terbiasa berupaya memahami perbedaan cara pandang dari tiap-tiap manusia atau komunitas tertentu melalui pendekatan emic, mereka yang berbekal ilmu antropologi tidak akan jatuh pada penghakiman yang terlalu cepat ketika menyaksikan fenomena-fenomena sosial-budaya apapun. Sehingga membuka ruang dialog pengetahuan dan persentuhan empatik kepada mereka yang berbeda.

Sarah Monica
Sarah Monica
Lahir di Jakarta pada 12 Agustus. Seorang penulis, penggiat seni, dan anggota Lesbumi PBNU. Saat ini sedang menempuh studi di Pascasarjana Antropologi, Universitas Indonesia. Beberapa karya esai, puisi, dan cerpennya telah diterbitkan di Bali Post, Solo Post, Majalah Literasi, Majalah Bahana Brunei Darussalam, Borobudurwriters, NU Online, Beritabaru.co, Geotimes.id, Gusdurian.net, serta antologi bersama.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.