Jumat, April 23, 2021

Menakar Adu Taktik Ahok Versus Yusril

Serangan Balik Koruptor lewat Praperadilan

Dalam altar pemberantasan korupsi, ada term corruptors fight back alias perlawanan balik koruptor atas proses hukum yang menimpanya. Artinya, seorang koruptor berusaha menyusun langkah...

Nasib Pengungsi Suriah Setelah Teror Bom di Paris

Di luar persoalan radikalisme dan aksi teror yang mengerikan di Paris, salah satu isu yang menarik didiskusikan adalah bagaimana nasib para pengungsi dan pencari...

Katakan Tidak Pada BLT dan Subsidi BBM, Katakan Iya Pada THR

Dengan berselancar cepat saja di gawai yang hampir selalu menempel di genggaman, dapat kita ketahui kalau kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) di Indonesia...

Jum’atan Politik!

Apakah aksi dzikir dan salat Jum'at di Monumen Nasional besok merupakan refleksi semakin menguatnya penggunaan simbol-simbol agama dalam menyalurkan aspirasi politik? Tak ada yang...
Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.

yusril-dhaniBakal calon gubenur DKI Jakarta yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra (kanan) bersama musisi Ahmad Dhani usai menggelar pertemuan dan silaturahmi politik di Jakarta, Jumat (4/3). ANTARA FOTO/Teresia May.

Pemilihan Kepala Daerah Jakarta akan digelar pada 2017. Memang masih atau tinggal setahun lagi. Maka, sangat wajar jika partai politik maupun calon perseorangan/independen sudah mulai mempersiapkan diri dari sekarang. Mereka sudah mulai bergerak, dan sudah ada beberapa calon dan partai politik yang membentuk semacam konsorsium untuk mengusung agendanya masing-masing.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bersama pasangannya, Heru Budi Hartono, akan maju sebagai calon independen, dibantu Teman Ahok. Dengan mendirikan banyak gerai di berbagai pusat perbelajaan di Ibu Kota, Teman Ahok berhasil mengumpulkan banyak kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat pencalonan independen.

Ahok dituduh melakukan “deparpolisasi” dengan menjadi calon independen. Namun, sudah ada beberapa partai yang berkomitmen mendukung Ahok, yaitu Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Hanura, dan Partai Solidaritas Indonesia. Jadi, tuduhan “deparpolisasi” menjadi absurd.

Yusril Ihza Mahendra berniat maju bersama pasangannya, Adhyaksa Dault. Yusril sangat percaya diri maju di Pilkada DKI, karena kakaknya, Yuslih Ihza Mahendra, berhasil mengalahkan adik Ahok, Basuri Tjahaja Purnama, di Pilkada Belitung Timur. Namun sampai sekarang belum ada partai politik yang secara resmi “melamar” Yusril dan Adhyaksa.

Ada juga beberapa individu lain yang menyatakan ketertarikannya untuk mencalonkan diri, seperti pengusaha muda Sandiaga Uno yang kemungkinan akan dicalonkan oleh Partai Gerindra dan musisi Ahmad Dhani. Partai lain seperti PDI Perjuangan masih melakukan seleksi internal untuk bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur masing-masing.

Ahok menciptakan suatu tren baru, di mana calon independen dapat mengarahkan partai politik untuk mengikuti agendanya sendiri. Selama ini yang terjadi adalah kebalikannya, di mana calon gubernur harus mengikuti agenda partai. Di satu sisi, keberlanjutan tren ini ke depan harus dilihat lagi. Jika hanya bergantung pada figur Ahok semata, dan tidak diikuti oleh yang lain, maka semua akan sia-sia. Pencerahan politik yang elegan adalah pembangunan sistem, bukan mengandalkan pada figur semata.

Sementara itu, di sisi lain, kemunculan Ahok dan Teman Ahok telah memaksa partai politik untuk meninggalkan paradigma seleksi calon gubernur secara konvensional. Nasdem, PKB, Hanura, dan PSI sudah memulainya. Namun, politik adalah semata mengenai kepentingan. Sampai kapan partai-partai tersebut akan mendukung Ahok, misalnya, itu masih tanda tanya besar.

ahok-heruEfektivitas dukungan partai politik terhadap calon independen, dalam hal ini Ahok, masih harus dilihat sewaktu Pilkada Jakarta berlangsung nanti. Berfungsinya mesin partai dari tingkat kelurahan sampai provinsi untuk mendukung calon independen akan menjadi fenomena yang menarik, walau harus dibuktikan efektivitasnya dulu. Ke depan efektivitas gaya outspoken Gubernur Ahok tentu masih harus dibuktikan. Pendek kata, kita membutuhkan sistem yang kuat, sehingga siapa pun yang memerintah, sistem tetap berjalan.

Singapura setelah ditinggal Lee Kwan Yew dan Tiongkok sepeninggal Deng Xiaoping tetap menjadi negara yang memberantas korupsi dan menghukum berat mereka. Menjadi outspoken dalam pembangunan sistem ketatanegaraan, dengan semata mengandalkan relawan mungkin tidak cukup, karena mencakup kebijakan institusi yang harus dieksekusi dengan matang.

Dalam konteks ini sebenarnya Ahok masih memerlukan partai politik. Sebab, jika semua partai politik dilawan, tidak akan ada yang mendukung kebijakannya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Akhirnya kita harus mencatat bahwa lobi-lobi di luar ruang rapat dan liputan media yang menentukan kebijakan provinsi. Liputan eksklusif dari media umumnya hanya berisi pencitraan untuk rating belaka, sehingga tidak menentukan kebijakan sama sekali.

Yusril dan calon lain bukan tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkan Ahok. Jika mereka fokus dalam menyajikan program yang menarik bagi warga Jakarta, dan program tersebut lebih baik dari yang ditawarkan Ahok, bisa jadi mereka yang menang. Dalam politik, misalnya, sah-sah saja bagi Yusril dkk untuk menggarap “barisan sakit hati” karena kebijakan Ahok untuk kemenangan mereka.

Namun, mereka harus hati-hati. Warga Jakarta sangat cerdas dan sangat terdidik, sehingga menggunakan isu seperti suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) untuk menyudutkan Ahok adalah tindakan sia-sia. Bahkan akan langsung menjadi bumerang atau “bunuh diri politik”, karena isu SARA justru membuat pemilih langsung bersimpati dengan Ahok.

Tantangan bagi Yusril dkk adalah mencoba mengkritisi program-program Ahok yang dinilai kurang baik dan menyajikan alternatif yang terbaik. Godaan untuk menyentuh isu SARA yang mengarah ke ideologi fasis harus disingkirkan jauh-jauh. Membangkitkan ideologi fasis seperti yang dilakukan Donald Trump di Amerika Serikat adalah pelanggaran serius terhadap ajaran semua founding fathers kita. Jika isu SARA menjauh dari Pilkada 2017, maka ini menjadi momentum yang akan mencerdaskan siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.