Jumat, April 23, 2021

Membangun Kesadaran Kritis yang Konstruktif

Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad [Renungan Maulid]

Saya lahir di sebuah kampung di Madura. Kedua orangtua sangat yakin bahwa saya lahir di pagi hari Kamis. Yang mereka tidak tahu, apalagi yakin,...

Surat…

Surat memicu debat. Kita sedang menanggungkan duka dan bosan gara-gara wabah tapi surat malah menambahi masalah. Di koran-koran, pemberitaan surat itu bukan mengenai asmara....

Kekerasan Seksual Berada di Zona Merah, Haruskah RUU PKS Terus Ditarik Ulur?

Uang yang kita miliki adalah berkah dari Tuhan. Namun, jika uang yang kita peroleh dengan cara korupsi (merugikan rakyat dan negara), tentunya masuk dalam...

Kiat Sukses Belajar di Luar Negeri

"Bukan lembaga pendidikan yang menjadikan kamu sukses, tapi diri kamu sendiri." Itulah kalimat yang diucapkan bapak saat saya utarakan niat kuliah di luar negeri....

Semakin dekat waktunya dengan pemilihan umum (Pemilu) akan semakin banyak bermunculan isu-isu politik di ranah publik, baik yang positif maupun negatif. Membangun kesadaran kritis yang konstruktif menjadi keniscayaan untuk membangun peradaban.

Kalau kita cermati, isu yang muncul pada saat menjelang Pemilu 2014 lalu, direproduksi dengan sedikit modifikasi, dan disebarluaskan kembali dengan tujuan untuk mempengaruhi opini publik, yang paling menonjol misalnya soal antek asing (terutama China), kriminalisasi ulama, dan kebangkitan komunisme.

Mengapa isu-isu bernuansa ideologis ini dimunculkan, diduga kuat karena adanya kompetitor petahana yang mengalami krisis kepercayaan. Kepercayaan diri seorang kandidat muncul pada saat memiliki visi dan misi yang jelas dan dengan itu ia mampu meyakinkan masyarakat. Absennya visi dan misi akan menjadikan kandidat kehilangan kepercayaan, dan untuk tetap eksis di arena kandidasi, cara yang ditempuh adalah dengan menyebarkan isu-isu negatif yang bertujuan untuk mendiskreditkan sang petahana.

Yang membuat kita prihatin, masih banyak kalangan yang termakan isu-isu negatif disebabkan karena kurang piknik (baca: minimnya wawasan dan pergaulan), atau mungkin karena memiliki kepentingan yang sama dengan sang penyebar isu, lantas serta merta ikut serta menyebarluaskan isu tersebut tanpa klarifikasi dan sensor.

Padahal, semakin banyak isu negatif disebarluaskan, akan semakin sulit bagi kita untuk menanggulangi daya rusaknya. Isu negatif bagaikan wabah gizi buruk yang menghambat kesehatan masyarakat.

Daya rusak isu negatif di tengah-tengah masyarakat seperti api membakar jerami di musin panas, cepat meluas dan sulit dikendalikan. Kalau pun bisa dikendalikan atau dimatikan apinya, akan tetap meninggalkan residu yang tidak bisa dihilangkan, entah berupa jelaga atau pencemaran udara dan lingkungan sekitarnya.

Janganlah hanya demi meraih kekuasaan politik sesaat, kita korbankan peradaban. Cara-cara berpolitik yang sehat hilang di tengah-tengah upaya membangun sistem yang demokratis, adil, dan beradab.

Dalam menghadapi fenomena seperti ini, yang perlu kita lakukan adalah membangun kesadaran kritis masyarakat melalui beragam cara, misalnya melalui pendidikan literasi secara massal. Literasi tidak hanya membaca dan menulis, tapi juga cara berpikir dan bersikap yang didasarkan pada sumber-sumber informasi yang benar dan akurat.

Di era sekarang, sumber-sumber informasi makin beragam, selain cetak juga visual, digital, dan auditori yang semuanya harus dicerna secara kritis, disandingkan satu sama lain sehingga kita bisa dengan mudah mengetahui mana lebih partut dipercaya dan dicerna sebagai sumber informasi yang sehat dan konstruktif.

Banyak komponen pendidikan literasi yang perlu dikembangkan, selain literasi informasi, yang juga penting adalah literasi budaya. Keragaman budaya yang menjadi keunggulan bangsa kita harus dijaga dengan cara menumbuhkan kesadaran hidup bersama yang harus terus-menerus diperkokoh melalui pendidikan literasi budaya.

Pendidikan literasi bisa dimulai dari lingkungan keluarga, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, dan lain-lain, juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan ruang publik dengan menuliskan pesan-pesan yang konstruktif.

Seluruh komponen masyarakat, terutama kekuatan civil society harus bergerak bersama-sama melalakukan upaya yang konstruktif untuk meningkatkan kesadaran literasi publik.

Cara lain adalah dengan membudayakan “saling nasihat-menasihati dalam kebenaran” (tawashau bilhaq). Setiap menemukan siapa pun di antara teman/saudara/handaitolan yang menyebarkan isu negatif kita ingatkan untuk menariknya kembali dengan memaparkan dampak-dampak negatifnya jika terus dilakukan.

Residu yang ditinggalkan isu negatif akan merusak cara berpikir dan bertindak generasi baru yang belum memahami dunia politik secara komprehensif. Politik dianggap sebagai dunia yang terbiasa dengan isu negatif, dan pada giliran berikutnya akan menumbuhkan apatisme. Demokratisasi yang terus menerus kita bangun akan mengalami erosi kepercayaan di mata masyarakat, terutama kaum mudanya.

Residu negatif yang sudah berkembang hanya bisa diminimalisasi dengan membalik arah, yakni menyebar berita positif sebanyak-banyaknya. Kebalikan dari isu negatif, penyebaran berita positif akan menumbuhkan optimisme dan semangat bekerja untuk kebaikan bersama.

Membangun kesadaran kritis menjadi tuntutan yang niscaya jika kita menginginkan terbangunnya sistem demokrasi yang sehat dan konstruktif bagi masa depan peradaban politik kita. Karena itu, kesadaran kritis yang dibangun tidak sekadar kritis pada setiap fenomena yang ada di sekitar kita. Kesadaran kritis yang kita butuhkan adalah yang konstruktif bagi peradaban politik kita kini dan mendatang.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.