Rabu, Juni 16, 2021

Mbah Maimoen Zubair

Kata “Merdeka” dan Papua

Kamus Besar Bahasa Indonesia pada lema Merdeka tidak ada satu pun yang memberi makna negatif. Seluruh makna yang tercantum dalam lema Merdeka adalah positif....

Salib bukan Sekadar Kayu!

Saat jamuan makan malam di rumah teman Kristen, seorang ibu menuturkan pengalaman hidupnya sebagai seorang Kristiani. Dengan penuh keyakinan, dia memandang salib sebagai bukti...

Manuver Zig-Zag Ahok dan Erdogan

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan mencalonkan diri kembali merebut kursi DKI 1 melalu jalur partai politik. Ahok mengklaim sudah tiga partai...

Primitif di Kala Modern

Selama setahun bersama wabah Covid-19, hobi saya memperhatikan tingkah laku orang makin meningkat, karena banyak pemandangan unik terlihat, yang sebelumnya tak terpikirkan akan terjadi....
Avatar
Rumail Abbas
GusDurian Jepara, Peneliti budaya pesisiran di Yayasan Rumah Kartini, tinggal di: @Stakof

“Lho, yang layak disebut Guru Bangsa itu Lik Mus. Saya tidak pantas disebut seperti itu,” demikian jawab Mbah Moen–panggilan takzim untuk KH. Maimoen bin Zubair bin Dahlan.

Sayid Abbas bin Alawy Al-Makky pernah berujar tentang sosok pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, itu. Ia berkata, “Jika kau ingin melihat ahli surga yang ada di zaman ini, maka lihatlah Kiai Maimoen.”

“Paklik saya yang paling ngecap di hati saya ini, meski lebih muda dari saya, tapi rambutnya sudah putih merata. Itu tanda (beliau adalah) ahli berpikir. Kepala saya, meski umur saya lebih tua dari beliau, separuh rambutnya hitam, separuhnya lagi putih. Artinya saya ini tidak begitu ahli berpikir.”

Saya ingat betul bagaimana Mbah Moen menyampaikan kalimat di atas, kata demi kata, dengan bahasa krama alus, sebagai bentuk kesopanan karena berbicara tentang pakliknya.

Ngomong-ngomong, Lik Mus yang disebut Mbah Moen tadi, tidak lain adalah KH. Mustofa Bisri, Rembang. Lantas, apa yang kemudian membuat Mbah Moen mengeluarkan komentarnya terkait sebutan Guru Bangsa?

Awalnya, saya memohon kepada Mbah Moen untuk berkenan didokumentasikan dalam bentuk video: “Kami mengharap pesan damai dari Mbah, sebagai Guru Bangsa, agar kita sebagai warga Indonesia tidak saling bertikai demi pemilu.”

Dengan beberapa kalimat berkelit yang saya ajukan, akhirnya Mbah Moen pun berkenan. Pesan tersebut kami sebarkan di media sosial. Dan saya yakin sekali, pemilu yang digelar di Jawa Tengah 2018 silam menjadi tidak sepanas pemilu di ibu kota, oleh sebab, sedikit banyaknya, ada berkah dari Mbah Moen.

Rampung hajat di Sarang, saya bertolak ke Leteh, kediaman Gus Mus. Karena beliau sudah istirahat, saya menyeberang ke kediaman Gus Yahya Cholil Staquf. Ditemani Gus Rizal, menantu Gus Mus, saya pun berbincang-bincang hingga lewat tengah malam.

“Kamu tahu anugerah terbaik dari Allah yang diberikan untuk Indonesia, bahkan dunia?” sergap Gus Yahya.
“Kandungan minyak, gas, dan pegunungan emas?”
“Bukan.”
“Lantas?”
“Mbah Maimoen Zubair!”

Saya terdiam, menunggu penjelasan.

“Mbah Moen itu sealim-alimnya orang nusantara, bahkan dunia!”

Saya haqqul yaqin Mbah Moen sayang Indonesia, dengan segenap warga yang berada di sana. Untuk hal kecil saja beliau begitu memperhatikan, bagaimana dengan perkara besar seperti segenap tumpah darah Indonesia?

Kenang saya yang pernah nyantri kepada beliau di Al-Anwar, kami dilarang memakai peci berwarna putih. Dulu, ketika bertemu santrinya yang memakai peci putih, beliau mengajukan “gugatan”:

“Apa kamu sudah haji, Cung?”
“Belum.”

Mbah Moen seketika marah, dan sejak itu mengharamkan pemakaian peci putih untuk seluruh santrinya.

“Orang-orang kampung pergi ke Tanah Suci sampai menjual sapi, kerbau, kambing, dan tanah,” jelas Mbah Moen, “sementara kamu tanpa beban memakai peci putih, seperti orang yang sudah berhaji saja, padahal harganya cuma lima ribu rupiah.”

Mbah Moen tidak berkenan jika santri-santrinya melukai hati orang, bahkan dalam simbol paling murah dan sederhana seperti peci. Melukai hati itu haram. Oleh karena itu, jika sejengkal pun kakimu belum menginjak Tanah Suci tapi sudah berani memakai peci putih, maka itu adalah keharaman yang sama.

Mbah Moen selalu menjelaskan bahwa kehormatan bagi umat muslim adalah dapat menghembuskan napas terakhirnya di Tanah Suci, dan Mbah kerap meminta doa agar dipanggil Allah pada hari Selasa.

Mbah Moen menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan beribadah haji, pada hari Selasa, dan akan dimakamkan bersama orang-orang alim, di antara mereka adalah guru-gurunya: Sayid Alawy Al-Maliki, Sayid Muhammad Alawy Al-Maliki, dan Habib Salim Al-Syathiri.

Kolom terkait

Gus Mus, Guru Bangsa Kita

Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita

Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Dari Gus Dur ke Gus Mus untuk Perdamaian Palestina

Avatar
Rumail Abbas
GusDurian Jepara, Peneliti budaya pesisiran di Yayasan Rumah Kartini, tinggal di: @Stakof
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER