Sabtu, April 17, 2021

Matinya Demokrasi

Ancaman Baru Radikalisme ISIS

Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mempublikasikan video propaganda berdurasi 20  menit yang menampilkan anak-anak Indonesia hasil didikan ISIS. Dalam video itu anak-anak...

Antara Hantu PKI dan Begundal Teroris

Apa Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit lagi? Begitu reaksi saya sejak pertama kali mendengar sejumlah pihak, khususnya beberapa pensiunan TNI, menyatakan partai tersebut bangkit...

Rokok dan Ke(tidak)adilan Negara

Hari-hari ini isu mengenai kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu per bungkus menimbulkan kegaduhan di aras publik. Tak sedikit masyarakat yang setuju,...

Upaya Memenjarakan Ahok

"Kalau Ahok belum dipenjarakan, kami akan terus turun ke jalan." Setelah berhasil menjadikan Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka, upaya berikutnya adalah bagaimana agar Gubernur...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Pertemuan antara Prabowo dan Surya Paloh kemarin menyampaikan pesan bahwa mereka akan mendorong dilakukannya amandemen UU 1945 secara menyeluruh. Begitulah, kian lebar terbuka kotak pandora politik kita.

Sebelum pertemuan itu, rekonsiliasi antara PDIP dan Gerindra yang semula saling berhadapan dalam Pilpres, sepertinya akan mengarah pada dominasi di parlemen. Keduanya adalah pemenang pertama dan kedua dalam perolehan suara pemilu legislatif.

Sejak jauh-jauh hari PDIP telah menggulirkan usulan untuk menghidupkan kembali GBHN dan mengembalikan wewenang kepada MPR untuk menetapkan GBHN. Usulan itu diamini ketua umum Golkar, Bambang Soesatyo, yang kini telah terpilih sebagai ketua MPR.

Amandemen terbatas soal GBHN menurut hemat penulis adalah sebuah kudeta merangkak terhadap capaian demokrasi sejak reformasi. Memulihkan kembali kedudukan MPR untuk menetapkan GBHN akan membawa pada konsekuensi bahwa presiden menjadi mandataris MPR.

Hal ini akan menimbulkan kontradiksi karena presiden kini telah dipilih secara langsung oleh rakyat. Elite politik lama yang telah merosot popularitasnya ingin merebut kembali kendali atas pemilu. Ujungnya adalah mengembalikan kewenangan memilih presiden kepada MPR.

Empat partai politik utama (PDIP, Gerindra, Golkar, dan Nasdem) paling gencar menyuarakan perlunya amandemen. Sebelumnya Nasdem juga menyinggung lagi wacana perubahan masa jabatan presiden, mengaitkan dengan kesinambungan pembangunan sebagaimana diasumsikan dengan adanya GBHN.

Untuk mengamankan proses amandemen, seluruh partai politik mendapat jatah kursi sebagai wakil ketua MPR. Sebelumnya pimpinan MPR hanya terdiri dari lima kursi, mewakili unsur DPR dan DPD. Melalui revisi UU MD3, kursi pimpinan ditambah menjadi sepuluh untuk mengakomodasi semua partai.

Ketika awal bergulir usulan amandemen, Jokowi telah menegaskan untuk menolak adanya amandemen. Jokowi yang merupakan produk pemilihan langsung dan desentralisasi mewanti-wanti agar demokrasi tidak dikuasai oleh elite politik, tetapi benar-benar berada di tangan kedaulatan rakyat.

Saya meyakini bahwa langkah terang amandemen membenarkan tuduhan gerakan mahasiswa bahwa reformasi telah dikorupsi. Dalam serangkaian aksi demonstrasi pada akhir September lalu, mahasiswa menyerukan perlawanan terhadap oligarki yang menjadi sumber masalah lahirnya RUU bermasalah.

Partai-partai politik yang duduk di Senayan tidak saja bertanggung jawab terhadap kericuhan selama demontrasi mahasiswa. Kini parpol-parpol akan mendorong lebih jauh untuk membunuh demokrasi yang diperjuangkan mahasiswa pada 1998 dan kembali dibela oleh generasi baru gerakan mahasiswa.

Desakan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil seputar Perpu KPK membayangi pula agenda pelantikan presiden pada 20 Oktober mendatang. Penulis telah menyuarakan agar tuntutan dimajukan menjadi penolakan terhadap amandemen yang hanya akan menguntungkan kekuatan oligarki parpol.

Menyelamatkan demokrasi dari tangan elite oligarki adalah agenda mendesak saat ini. Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini berada dalam ancaman bahaya. Sudah saatnya kekuatan lama mundur untuk memberikan jalan bagi angkatan baru, anak-anak muda menatap cerahnya Indonesia!

Kolom terkait

Indonesia dan Rezim Hukum Represif

Kala Horang Kayah Kongkow di Parlemen Kita

Rindu GBHN, Kebiri Nasional

Menjadikan RI Negara Polisi

Surat Penting untuk Pak Jokowi tentang Kematian KPK

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.