OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Masa Depan Bahasa Inggris

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Knowing English is like possessing the fabled Aladdin’s lamp, which permits one to open, as it were, the linguistic gates to international business, technology, science and travel. In short, E provides lingustic power” (Mengenal Bahasa Inggris seperti memiliki lampu Aladdin yang melegenda, yang seolah-olah memungkinkan seseorang untuk membuka gerbang linguistik untuk bisnis internasional, teknologi, sains, dan perjalanan. Singkatnya, bahasa Inggris memberikan kekuatan lingustik, Kachru, B.J., 1986)

Hingga sekarang bahasa Inggris masih menjadi bahasa internasional nomor satu di dunia. Ia merupakan bahasa pertama untuk 350 juta orang dan bahasa kedua untuk 1,4 miliar orang. Inggris juga merupakan bahasa resmi di 53 negara. Lalu mengapa bahasa Inggris menjadi bahasa internasional, bahasa yang paling banyak digunakan di muka bumi sekarang?

Salah satu alasan yang sering diungkapkan bahwa ini terkait dengan struktur bahasa Inggris yang indah dan logis. Ia dianggap memiliki tata bahasa yang kurang dari bahasa lain. Ada pakar menulis bahwa bahasa Inggris tidak memiliki banyak akhir pada kata-katanya. Kita tidak harus mengingat perbedaan antara jenis kelamin (maskulin, feminin, dan netral) sehingga lebih mudah untuk dipelajari.

Argumen semacam itu salah paham. bahasa Latin dulunya bahasa internasional utama, meskipun memiliki banyak infleksi di ujung kata dan perbedaan gender. Bahasa Prancis juga telah menjadi bahasa seperti itu, meskipun kata benda-nya adalah maskulin dan feminin

Hingga hari ini, bahasa Inggris masih menjadi bahasa komunikasi nomor wahid di tingkat internasional. Meski secara jumlah boleh jadi ia bakal disalib oleh bahasa Mandarin, Spanyol atau Arab, namun secara resmi Inggris masih disepakati bahasa internasional terluas digunakan.

Namun, memprediksi masa depan bahasa bukanlah perkara gampang, bahkan berbicara tentang kemustahilan. Siapa yang menduga seribu tahun lalu, misalnya, bahasa Latin tidak lagi digunakan sebagai bahasa komunikasi populer oleh masyarakat hari ini?

Memang Latin masih dipelajari di segmen tertentu, seperti di kalangan gereja. Namun bukanlah hal normal dalam dunia pendidikan bahwa seseorang wajib bisa ngomong Latin. Seribu tahun lalu, siapapun yang menyatakan bahasa Latin tak dipakai lagi sebagai bahasa komunikasi seribu tahun ke depan alias sekarang bakal dianggap gila.

Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan kepada bahasa Inggris; akankah bahasa Inggris masih menjadi bahasa global di masa mendatang?

Memahami masa depan bahasa adalah memahami masa depan masyarakat. Masa depan bahasa sangat tergantung kepada kekuasaan masyarakat yang menggunakan bahasa tertentu, terutama kekuasaan militer dan politik. Kekuasaan selalu membawa serta bahasa. Logika ini juga terbukti sepanjang sejarah.

Mengapa bahasa Yunani menjadi bahasa komunikasi internasional di Timur Tengah lebih dari 2.000 tahun yang lalu? Bukan karena kecerdasan Plato dan Aristoteles. Jawabannya terletak pada pedang dan tombak yang dipegang oleh pasukan Alexander Agung. Mengapa bahasa Latin dikenal di seluruh Eropa? Tanyakan legiun Kekaisaran Romawi. Mengapa bahasa Arab digunakan secara luas di seluruh Afrika utara dan Timur Tengah? Ini mengikuti penyebaran Islam, yang dibawa oleh kekuatan pasukan Muslim dari abad ke delapan.

Bahasa Inggris menjadi bahasa global karena beberapa alasan; kekuasaan kerajaaan Inggris, kekuatan imperialisme Amerika, kekuatan revolusi industri yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa sains dan teknologi, kekuasaan uang (Amerika Serikat memiliki mata uang dolar sebagai mata uang internasional sehingga Inggris menjadi bahasa perbankan), dan kekuasaan budaya ketika Inggris digunakan dalam lagu-lagu pop, iklan internasional, kontrol lalulintas udara, hingga internet.

Karenanya, bahasa Inggris tetap menjadi bahasa internasional sepanjang negara adikuasa — dalam hal ini Amerika Serikat — masih menggunakan bahasa Inggris dan diikuti oleh negara-negara lain dalam lintasan perdagangan, interaksi, pendidikan,dan sebagainya. Sebaliknya bisa terjadi bila kuasa Amerika pudar, Mandarin akan menjadi bahasa global di masa depan. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa China menginginkan bahasa Mandarin sebagai bahasa internasional mengingat makin banyak warga China yang menggunakan bahasa Inggris.

Bahasa Spanyol boleh juga memiliki peluang yang sama. Hari ini Spanyol adalah bahasa dengan perkembangan tercepat di dunia karena digunakan di kawasan selatan, tengah bahkan utara Amerika. Skenario lain bahwa semua norang akan cakap bahasa Arab mempunyai sebagai bahasa global terluas, bukan saja lantaran digunakan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara tapi juga karena perkembangan Islam yang sangat dahsyat. Semua kemungkinan ini bisa terjadi. Namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda rontoknya prestise bahasa Inggris. Jadi untuk beberapa tahun mendatang, bahasa Inggris masih dominan. Tapi berbicara seratus, dua ratus atau lima ratus ke depan tak ada yang tahu.

Pertanyaan yang tak kalah mengusik adalah; apa dan bagaimana dengan apa yang disebut bahasa Inggris global (global English); Inggris bukan lagi sebagai bahasa yang secara tipikal milik Britania Raya atau kerajaan Inggris tapi juga dituturkan di manca negara. Bila ditarik tiga puluh tahun silam, tidak ada yang berbicara tentang bahasa Inggris global.

Buku-buku tentang bahasa Inggris global tidak ditulis hingga akhir 1990-an. Global English betul-betul sebuah tren mutakhir. Dunia membutuhkan bahasa global karena negara-negara ingin berbicara satu sama lain. Ketika PBB dibentuk pada 1945, hanya ada 50 negara. Kini terdapat 195 negara. Semua negara ini tentu ingin berhubungan dalam banyak hal satu sama lain. Untuk itu membutuhkan bahasa.

Dalam konteks pemilihan bahasa Inggris, orang akan menggunakan varian bahasa Inggris yang paling sering didengar, diucapkan dan dijumpai. Di sini, varian yang paling dominan adalah American-English. Selama beberapa dekade ini, banyak orang mengakui pengaruh American-English tersebut, mulai dari kosakata, pengucapan dan intonasi. Bahkan British English pun dalam banyak hal sudah terpengaruh oleh American-English. Sudah tak terhitung anak-anak muda Inggris menggunakan American-English ketimbang British English tanpa mereka sadari.

Perkembangan American-English ini juga tak bisa dilepaskan dari persoalan identitas kebangsaan. Ketika memperoleh kemerdekaannya dari Inggris, Amerika ingin menciptakan bahasa yang membedakannya dari Inggris, Noah Webster (1758– 1843), seorang patriot dan linguis Amerika generasi awal, menegaskan bahwa ‘kami menginginkan bahasa Inggris-Amerika untuk sebuah jatidiri Amerika, untuk sebuah bangsa baru (we want American-English for an American identity, for a new nation). Sejak itu pengucapan (spelling) American-English dimulai dan perbendaharaan kata American-English mulai masuk ke dalam kamus.

Apa yang pernah terjadi di Amerika sekarang tengah berlangsung di tingkat antarabangsa. Di negara-negara yang berbahasa Inggris, orang-orang mengatakan, “Anda silahkan menjadi Inggris atau Amerika, tapi kami ingin jadi India. Kami ingin jadi Nigeria atau kami ingin jadi Ghana.” Bahasa Inggris di mancanegara (global English) kemudian mencerminkan latar belakang budaya penggunanya. Perkembangan ini mengantarkan terbentuknya Indian-English, Nigerian English, Ghanaian English, South African-English, Singaporean English dan sebagainya. Inilah yang disebut global English. Varian bahasa Inggris tak tunggal lagi (English) tapi sudah jamak (Englishes). Semuanya unik dalam lafaz (pronunciation), kosakata (vocabulary) bahkan tatabahasa (grammar).

Ada contoh menarik yang saya jumpai ketika bercakap-cakap dengan teman-teman saya dari Inggris selama di Australia ini. Dalam menjelaskan konteks kebiasaan sehari-hari, tensis yang lazim digunakan dalam bahasa Inggris adalah ‘present simple, ’ sebagai contoh I know, I remember this, I think about your question.

Namun sebagaimana kebiasaan dalam Indian-English, orang-orang India menggunakannya dalam bentuk ‘present continuous tense’, yakni I am knowing, I am remembering this, I am thinking about your question.

Itu semua bukanlah penggunaan bahasa Inggris yang lazim atau secara tradisional digunakan di Inggris atau Amrika, namun dominan di India dan kawasan sekitar, seperti Sri Langka. Lalu lintas imigrasi dari Asia menuju Inggris, Amerika, Australia bahkan Kanada memberikan pengaruh terhadap penggunaan bahasa Inggris keseharian, termasuk yang paling umum adalah peningkatan penggunaan present continuous tense seperti yang umum digunakan dalam Indian-English.

Meluasnya penggunaan present continuous tense ini juga menerpa slogan-slogan korporat raksana global. Katakanlah, McDonald yang kini menggunatan moto ‘I’m lovin’ it’. Karenanya, penggunaan present continuous tense dalam Indian-English ternyata beririsan bahkan berjalan seiring dengan tren global. Sehingga global English hari ini dan esok merupakan campuran dari bermacam bahasa Inggris di berbagai negara di dunia. Di sini bahasa Inggris akan menjadi lingua franca — lingua franca English.

Terlepas dari perkembangannya yang terus saja melesat, penyebaran bahasa Inggris bukan tanpa ancaman. Asosiasi bahasa Inggris dengan dan elit ekonomi, sebagai misal, adalah salah satu efek negatif yang ditimbulkan oleh dominasi bahasa Inggris.

Banyak orang belajar bahasa Inggris karena mereka ingin memiliki akses kepada informasi ilmiah dan teknologi seperti perdagangan ekonomi global dan pendidikan tinggi. Dalam hal ini, salah satu keprihatinan utama yang muncul adalah hubungan yang kuat antara kekayaan ekonomi dan kemahiran dalam bahasa, dan peran yang dimainkan oleh kebijakan dan praktik pendidikan bahasa dalam upaya-upaya mempromosikannya. Mengingat bahasa Inggris biasanya diperoleh lewat lembaga pendidikan — sekolah — akses terhadap bahasa Inggris dapat menyebabkan kesenjangan sosial yang signifikan.

Orang-orang yang tidak mampu bersekolah, yang tidak punya waktu untuk bersekolah, yang menghadiri program-program dengan standar bawah, atau tidak memiliki akses ke pendidikan formal yang efektif tidak bakal mampu belajar bahasa Inggris dengan relatif baik untuk mendapatkan pekerjaan dan ikut serta dalam pengambilan keputusan dengan sistem yang menggunakan bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa berbasis sekolah ini adalah fenomena di seluruh dunia, sehingga kebijakan bahasa memainkan peran penting dalam struktur kekuasaan dan ketidaksetaraan di negara-negara di seluruh dunia.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.