Jumat, April 23, 2021

Final Liga Champions dan Kekejaman yang Nyata

Inti Idulfitri: Pesta Raya Makan-Makan

Idulfitri adalah momen ketika manusia kembali pada manusia, pada dimensi terdalam kemanusiaannya. Dan kembali pada manusia ditandai dengan makan dan minum, bahkan dirayakan dengan...

Di Balik Polemik Serangan di Istanbul

Ketika militan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mengakui pihaknya berada di balik serangan di Orlando, banyak kalangan yang menyangkal, termasuk Pemerintah Amerika...

Jokowi, Kemiskinan, dan Imbauan

Memasuki awal tahun ini, Senin (4/1/2016), Badan Pusat Statistik kembali melansir persentase penduduk miskin. Pada September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita...

Mendampingi Keluarga, Melawan Patriarki

Akhir-akhir ini pemberitaan di Tanah Air dipenuhi oleh kasus-kasus pemerkosaan. Pemerkosaan massal terhadap YY di Bengkulu, misalnya, telah membuka mata kita bahwa diskriminasi gender...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

Laga final Liga Champions musim 2017/2018 antara Real Madrid dan Liverpool berakhir dengan kemenangan Los Blancos 3-1. Bagi klub yang dilatih oleh pelatih asal Perancis berdarah Aljazair, Zinedine Zidane, ini bukan sekadar kemenangan yang sarat gensi, melainkan sebuah ukiran prestasi yang sangat mentereng: merengkuh juara Liga Champions tiga kali secara beruntun.

Laiknya sebuah pertandingan final, apalagi sebesar Liga Champions, endingnya selalu menghadirkan dua sisi yang berlawanan secara diametral: suka versus duka, kegembiraan kontra kesedihan, tawa lawan tangis, dan seterusnya. Di laga itu, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan merepresentasikan situasi yang pertama, sementara Mohamed Salah dan timnya mencerminkan suasana yang kedua.

Korban Kekejaman Itu Bernama Mo Salah

Bola, ungkap mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, dalam sebuah kesempatan, kerap menghadirkan kekejaman. Sebuah tim besar tiba-tiba harus menelan pil pahit ketika secara tak terduga dikandaskan tim kecil. Hanya karena kesalahan kecil salah seorang pemainnya atau karena aksi tak terpuji lawannya, atau kesalahan pengadil di lapangan, kekejaman itu segera menghampiri mereka. Ironisnya, hal seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan bisa berkali-kali.

Di laga pamungkas Liga Champions yang digelar di Ukraina pada Minggu 28/05/18 dini hari itu, The Reds, demikian Liverpool dijuluki, mesti menerima pahitnya kekejaman dunia bola. Pemain andalan mereka, Mohamed Salah, terpaksa harus keluar dari lapangan karena cedera pangkal bahu kiri. Mimpinya untuk membawa Liverpool ke singgasana tertinggi kompetisi Benua Biru itu terpaksa harus dikuburnya.

Mo Salah keluar dari lapangan dengan berurai air mata. Bukan karena kesalahannya sendiri, tetapi karena aksi kejam lawannya, Sergio Ramos. Terlihat dalam tayangan, Ramos menjepit tangan kanan Salah saat keduanya berebut bola sampai terjatuh. Akibatnya, Salah jatuh dengan bahu kiri membentur lapangan terlebih dahulu. Ia pun meringis kesakitan. Meski sempat melanjutkan permainan, tetapi dalam hitungan menit, ia pun menyerah.

Mo Salah, dengan demikian, telah menjadi korban kekejaman bernama sepakbola. Ia yang digadang-gadang bakal tampil cemerlang pada partai puncak tersebut, menilik berbagai torehan prestasinya selama ini, nasibnya berujung tragis. Final Liga Champions berubah menjadi kuburan baginya. Bahkan, mungkin saja, Piala Dunia 2018 akan menjadi hal yang sama jika cederanya harus mendapatkan perawatan dalam waktu yang lama.

Ironis memang. Kehadiran Mo Salah yang sensasional khususnya para pendukung Liverpool itu tak berakhir manis. Lesakan golnya yang berjumlah 44 di berbagai ajang kompetisi untuk Si Merah di musim ini –yang menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua setelah pemain legendaris Liverpool, Ian Rush, dengan torehan 47 gol— menjadi tidak berarti akibat keganasan pemain lawan.

Liverpool pun hilang keseimbangan setelah Salah keluar lapangan. Para pemain Madrid, khususnya pemain-pemain bertahan seolah telah melepaskan diri dari beban untuk selalu menjaga Salah. Karena itulah, skuad asuhan Zidane tersebut mulai menemukan irama permainan dan tampil lepas untuk melakukan serangan ke pertahanan Liverpool. Ini belum terlihat saat Salah masih berada di lapangan.

Tidak heran kalau kemudian para punggawa Los Blancos lebih mendominasi jalannya pertandingan. Kemenangan mereka dengan skor cukup telak, yakni 3-1, tidak semata-mata diakibatkan oleh dua blunder yang dilakukan penjaga gawang Liverpool, Loris Karius, melainkan karena penampilan Madrid yang memang semakin baik pasca keluarnya Salah.

Pada akhirnya Liverpool yang sebenarnya diprediksi banyak kalangan akan memenangkan gelar Liga Champions tersebut setelah sekian tahun puasa gelar, kembali harus mengubur mimpinya. Padahal inilah momentum yang paling memungkinkan skuad asuhan Juergen Kloop tersebut untuk meraih supremasi tertinggi kompetisi Eropa.

Dengan pola permainan Liverpool yang menyerang dan atraktif serta ditambah komposisi pemain yang merata di semua lini, tim ini sangat menjanjikan. Apalagi kehadiran trio penyerang maut di tubuh mereka, yakni Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah –yang kadang secara kelakar disingkat Trio Firmansah—menambah tajam daya serang mereka. Gol demi gol lahir dari kaki ketiganya secara bergantian.

Namun sekali lagi, semua itu harus dilupakan. Kekejaman sepakbola membuat para punggawa Liverpool dan tentu juga para pendukung setianya mesti menangisi nasib yang tragis tersebut. Asa yang telah berada di awang-awang itu seolah-olah dihempaskan ke bumi dengan begitu keras.

Kekejaman Politik

Kekejaman sepakbola, seperti tergambar di atas, bisa menimpa tim dan pemain mana pun. Namun kekejaman seperti itu, sesugguhnya bukan hanya milik dunia bola, namun juga dunia yang lain. Bahkan boleh jadi, dunia yang lain itu memiliki kekejaman yang jauh lebih berat daripada dunia bola. Sebutlah dunia politik.

Sepotong syair dalam lagu Iwan Fals, “apakah selamanya politik itu kejam…” mungkin merefleksikan bagaimana politik dalam praktiknya kerap menghadirkan berbagai kekejaman. Dan betapa banyak orang di berbagai belahan dunia yang telah menjadi korban kekejaman politik. Misalnya orang-orang yang kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup mereka: harapan.

Terkait dengan nestapa Liverpool di final Liga Champions sebagai korban kekejaman bola, sebaiknya ini menjadi pelajaran bagi dunia politik, termasuk di Indonesia. Bahwa kemenangan yang telah dekat pun bisa berubah dalam sekejap, bukan karena kesalahan sendiri, tetapi karena tindakan orang lain yang tak terduga-duga.

Dengan semakin dekatnya momentum perhelatan demokrasi di negeri ini, yakni Pemilu 2019, mungkin sudah ada kelompok masyarakat yang begitu yakin untuk memenangkan kontestasi. Berbagai strategi dan taktik pun telah dirancang sedemikian rupa guna mengalahkan rivalnya.

Namun berhati-hatilah! Hal yang tak terduga bisa saja terjadi seperti halnya nasib yang menimpa Liverpool. Maka, siap-siaplah menjadi korban kekejaman. Karena kekejaman itu begitu nyata.

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.