Senin, April 19, 2021

Ketika Regenerasi Politik Kita Terancam Oligarki

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk aktor Aming Supriatna Sugandhi yang menikah dengan dengan Evelyn Nada Anjani yang akrab disapa Kevin. Saya sendiri...

Saatnya Jokowi Memperkuat AMDAL, demi Masyarakat dan Lingkungan

Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti groundbreaking pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di Cikalong Wetan, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/1). ANTARA FOTO Setidaknya sudah tiga kali publik...

Pak Jokowi, Ini Lho Untung-Rugi Rekonsiliasi

Pertarungan elektoral Pemilihan Presiden 2019 telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan siapa presiden dan wakil presiden terpilih 2019-2024. Kendati demikian, upaya rekonsiliasi...

Organisasi Mahasiswa Bla-bla-bla, Bubar Saja

Beberapa orang bereaksi atas olok-olok netizen yang agung terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kebanyakan dari mereka adalah alumni HMI. Mereka kebakaran jenggot dan merasa...
Ali Rif'an
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

Tajuk Rencana Kompas berjudul “Politisi Muda Teruslah Bergerak” (13/8/2019) menarik untuk diulas lebih lanjut. Pasalnya, jumlah politisi muda yang akan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat periode 2019-2024 mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan periode 2014-2019.

Berdasarkan kajian Litbang Kompas, hanya 72 orang dari 575 anggota DPR atau 12,5 persen tergolong muda, alias berusia 40 tahun ke bawah. Persentase ini turun dibandingkan periode 2014-2019 yang mencapai 92 orang dari 560 anggota DPR atau 16,4 persen.

Fakta itu menunjukkan bahwa ancaman regenerasi politik makin nyata. Apalagi dari 72 calon legislatif (caleg) muda terpilih pada periode 2019-2024, sebanyak 50 persen diduga merupakan bagian dari politik kekerabatan (Kompas, 12/8). Artinya, secara riil politik, dengan menihilkan faktor politik kekerabatan, maka hanya ada 36 caleg muda yang lolos ke Senayan.

Anomali Politik

Situasi tersebut sesungguhnya menunjukkan dua hal. Pertama, telah terjadi anomali dalam lanskap politik tanah air. Sebab, di tengah gelombang kepemimpinan global yang mulai menempatkan kaum muda di berbagai pos strategis pemerintahan (eksekutif dan legislatif), justru kelompok muda di Indonesia makin terpinggirkan.

Tak hanya itu, geliat ekonomi digital, Revolusi Industri 4.0 dan era Society 5.0, yang seharusnya disambut dengan hadirnya talenta-talenta muda, malah sebaliknya. Kehadiran politisi muda di parlemen kian mengecil. Ini belum soal tantangan bonus demografi, di mana tahun 2020-2030 Indonesia akan menghadapi ledakan penduduk dengan jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen.

Selain itu, mengecilnya jumlah politisi muda di Senayan juga “bertabrakan” dengan semangat Presiden Jokowi yang berencana menggaet menteri muda dalam kabinetnya mendatang.

Kemunduran Demokrasi

Kedua, demokrasi seolah berjalan mundur karena sistem alih generasi masih menuai persoalan. Fakta bahwa politisi muda yang tampil selalu dilahirkan—mengutip Robert Michels (1968)—oleh sistem oligarki, baik oligarki kekerabatan ataupun oligarki pemodal, makin sulit terbantahkan.

Dalam sistem oligarki, sebuah kebijakan atau keputusan partai selalu bertumpuk pada kekekuasaan elite partai atau segelintir ”orang kuat”. Politisi muda sehebat apa pun jika tidak mendapat sokongan dari para oligark akan terseok-seok gerak langkahnya. Celakanya, sistem oligarki tak hanya mencengkram di arena kompetisi elektoral seperti pimilihan presiden, pemilihan legislatif dan pemilihan kepala daerah, namun juga di roda kepemimpan partai politik.

Cengkeraman sistem oligarki tersebut secara langsung maupun tidak langsung telah menciderai esensi demokrasi dalam pemilu. Dalam konteks elektoral, demokrasi dapat dimaknai sebagai upaya memperoleh kekuasaan melalui perjuangan kompetitif (Schumpeter, 1987). Disebut kompetitif manakala setiap calon anggota legislatif, misalnya, punya peluang dan modal yang sama.

Persoalannya, tidak jarang para politisi muda yang maju dalam kompetisi politik bak bayi lahir yang tidak diinginkan. Meskipun secara integritas dan kompetensi mumpuni, jika tidak menjadi bagian dari politik kekerabatan dan tak punya sokongan “orang kuat”, mereka tak ubahnya hanya sebagai ornamen pemilu.

Terlihat misalnya caleg-caleg muda dalam Pemilu 2019 lalu, tidak semua partai memberikan nomor urut atas. Mengutip laman rumahpemilu.org, dari 16 partai politik peserta Pemilu 2019, hanya ada 7 partai yang memberikan nomor urut 1 pada caleg muda. Sementara dari 80 daerah pemilihan (dapil), hanya terdapat 22 caleg muda yang mempunyai nomor urut 1.

Selain itu, caleg muda juga banyak yang ditempatkan di dapil neraka—sebutan dapil yang diperebutkan oleh tokoh besar dan populer, sehingga wajar jika kemudian banyak caleg muda sulit lolos ke Senayan.

Kesadaran Regenerasi

Fenomena di atas menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya afirmasi pada politisi muda dan pentingnya regenerasi politik belum sepenuhnya tumbuh pada diri elite politik kita. Regenerasi politik masih berjalan lambat. Para politisi muda masih susah untuk tampil karena faktor bayang-bayang generasi lama.

Padahal, regenerasi sejatinya adalah suatu keniscayaan. Bangsa yang besar harus ditopang dengan regenerasi sumber daya manusia (SDM) yang seimbang. Keberimbangan generasi penting bukan hanya untuk roda estafet kepemimpinan nasional, lebih dari itu regenerasi diperlukan guna menjawab tantangan yang kompetitif.

Sebab, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, para pemimpin (di setiap sektor) yang mampu adaptif dengan perubahan zaman amat dibutuhkan. Tidak ada negara maju di dunia yang terus mempertahankan status quo generasi. Negara-negara maju selalu adaptif dengan perubahan yang ada, yang salah satunya dengan membuka selebar-lebarnya peluang regenerasi.

Akhirnya, sudah saatnya para elite politik punya kesadaran penuh akan pentingnya regenerasi politik. Partai politik sebagai instrumen penting demokrasi modern harus berada di garda terdepan dalam mendorong terciptanya regenerasi, bukan malah menjadi penyumbat utama regenerasi politik.

Baca juga

Pemilu 2019: Bukti Kegagalan Kaderisasi Partai Politik

Sekadar Catatan untuk Menteri Dian Sastro

Jokowi dan Kaderisasi Partai

Menyoal Keterpilihan Megawati

Pilpres 2019: Geliat Oligarki dalam Pesta Demokrasi

Ali Rif'an
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.