Sabtu, Mei 18, 2024

Ketika Boelhouwer Tunggang Langgang di VII Koto, Afdeling Pariaman

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
Periset, penulis, dan pengajar sejarah

Dari sekian catatan-catatan penting yang ditinggalkan oleh Kolonial Belanda–yang menarik untuk disimak adalah catatan Belhouewer. J.C Boelhouwer yang lahir pada 1809 di Didam Belanda, menurut Suryadi (2009) dalam pengantarnya, menyebut bahwa, secara resmi datang ke Sumatra Barat di usia 21 tahun, ketika ia telah bergabung dalam dinas ketentaraan Kerajaan Belanda.

Seluruh ingatannya selama menjadi civiele en militaire commandant van Priaman, ia tulis kembali dalam sebuah memoar berjudul Henneringen van mijn verblijf  op Sumatra’s Westkust. Gedurende de jaren 1831-1834, bila diartikan dalam bahasa Indonesia, Kenangan saya tinggal di Pantai Barat Sumatera. Selama tahun 1831-1834.

Dalam beberapa catatan pentingnya semasa ditugaskan di Pariaman, Boelhouwer yang masa itu berpangkat Letnan Infantri, menulis kisah tragisnya dan hampir-hampir saja dibunuh, ketika ia dan empat opsir lainnya mengontrol keamanan di kampung VII Koto Afdeling Pariaman.

Kisahnya bermula di Kurai Taji

Pada  6 Juli 1831, tepatnya pada hari Senin, Boelhouwer bersama empat orang opsir tentara datang ke Kuraitaji. Hadirnya mereka disana, terkait dengan Pakan Sinayan (pekan Senin).

Masa itu, Nagari Kuraitaji merupakan bagian dari Afdeling Priaman dibawah pimpinan Tuangku Seriaman Sidi Soetan (Almanak van Nederlandsch Indie 1833: 70). Dalam catatannya Boelhouwer, disebutkan, bahwa dari pusat pemerintahan di Pariaman ke Kuraitaji, ditempuh dalam satu jam perjalanan.

Rombongan opsir yang dipimpin seorang Kapten ini, sampai di sebuah lapangan yang indah, ditumbuhi barisan pohon beringin. Dalam catatannya, dalam pekan itu, bisa dihadiri 3 – 4 ribu pengunjung yang berdatangan dari nagari di sekitar Kuraitaji, bahkan di luar Afdeling Pariaman itu sendiri.

Ada semacam penyesalan dari Boelhouwer, ketika ia dan opsir-opsir militer itu, tiga di antaranya tidak membawa pistol, untuk menjaga keamanan dirinya. Setibanya di Pasar Kuraitaji, Boelhouwer dan empat orang opsir yang mengendarai kuda itu,segera berkeliling. Dan, kondisinya, aman.

Tunggang Langgang di VII Koto

Ketika, mereka hendak keluar dari pekan yang telah dipadati pembeli itu, seorang opsir berpangkat Kapten, mengusulkan agar mencari jalan lainnya.

Ketika berjalan lebih kurang 50 meter, terdengar pekikan di belakang mereka.  Sang kapten meraba-raba sakunya, seperti ada yang tertinggal.

“Mungkinkan tuan-tuan ada yang kealpaan?” kata si pribumi.

Mereka pun menggeleng, dan terus saja berjalan mengendarai kudanya.

Ketika mereka terus mengendarai kuda, bersua lagi dengan seseorang. Si Kapten kemudian mencabut pedangnya dan sambil mengancamnya, untuk mencari informasi benteng yang ada di VII Koto Pariaman. Saking ketakutannya, ia pun memberikan informasi itu.

Tidak jauh dari mereka bertanya, ketika berbelok berjumpalah dengan benteng sederhana itu. Tidak tampak orang yang berjaga, dan mereka terus menuju ke tepian parit. Ketika mereka melintasi parit, Boelhouwer melihat batang-batang batuang (betung) dan sisi-sisi dinding dari benteng VII Koto.

Ketika mereka menuju rumah jaga, tiba berlompatanlah sejumlah orang sambil berteriak memanggil kawan-kawannya. Seseorang menghadang si Kapten dengan tombak. Belasan orang keluar dari rumah jaga tersebut, mengejar empat rombongan Belhoewer yang tidak bersenjata.

Belhoewer dan si kapten pun ciut. Mereka tidak mau mati konyol. Si Kapten memberi konde mundur dan memacu kuda sekencang-kencangnya. “Cepat, mereka mengejar” begitu perintahnya dalam catatan Boelhouwer menyebut orang-orang  yang mengejar mereka itu sebagai “musuh”.

Boelhouwer sendiri hampir saja  tertangkap. Kudanya tersungkur, dan ia terpelanting ke bawah. Mereka terus mengejar Boelhouwer dengan bersenjatakan ladiang. Ia pun dengan sigap berdiri dan kembali menaiki kudanya.

Opsir lainnya, juga terjatuh dari kuda. Tali kekangnya putus. Si Kapten berteriak,”Segera berpegang pada bulu tengkuknya!” Mereka pun kabur, kembali ke Pakan Sinayan Kuraitaji.

Pekan telah lengang. Perempuan-perempuan yang awalnya dominan menyemuti pekan, telah meninggalkan pasar dan kembali dari ke rumahnya masing-masing. Hanya tinggal belasan laki-laki yang menatap mereka nanar dan rasa bermusuhan.

Seorang kepala kampung yang bersimpati dengan mereka, hanya bisa menasehati, bahwa orang-orang VII yang mengejar mereka telah mendekati pekan. Ketika mereka hendak meninggalkan pasar Kuraitaji, mereka hanya mendengar sorak-sorai dan cemoohan untuk mereka.

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
Periset, penulis, dan pengajar sejarah
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.