Senin, Mei 17, 2021

Kasus Audrey: Potret Kekerasan dalam Masyarakat

Saatnya Mereformasi Partai Politik

“Tidak ada demokrasi tanpa politik, dan tidak ada politik tanpa partai” (Clinton Rossiter) Urat nadi demokrasi ialah partai politik. Ya, karena partai politik merupakan cikal bakal...

Jokowi, Pengampunan Pajak, dan Kemiskinan

Pemerintahan Joko Widodo resmi memberlakukan pengampunan pajak (tax amnesty) sejak 18 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017. Payung hukumnya telah ditetapkan, yaitu Undang-Undang Nomor...

Warisan Dawam Rahardjo

Aku mengenal Mas Dawam Rahardjo melalui buku Pergolakan Pemikiran Islam, catatan harian Ahmad Wahib. Di awal kuliah di jurusan Aqidah Filsafat, IAIN/UIN Jakarta, buku...

Membedah Otak Kaum Fundamentalis-Ekstremis

Indonesia darurat intoleransi. Ya, sesuai hasil survei Wahid Institute, intoleransi, radikalisme, dan fundamentalisme agama rawan terjadi di Indonesia. Hal ini merebak beberapa tahun belakangan...
Avatar
Anzi Matta
Hobi menulis dan menggambar

Audrey, seorang pelajar SMP berumur 14 tahun di Pontianak, Kalimantan Barat mengalami perisakan dan kekerasan seksual oleh beberapa pelajar SMA hingga harus dirawat di rumah sakit. Tiga di antaranya melakukan kekerasan terhadap Audrey sementara sembilan di antaranya menjadi penonton—sesuatu yang tidak ada bedanya juga dengan tiga pelaku lainnya.

Setelah kasus Audrey ramai diperbincangkan, akun-akun media sosial pelaku pun di-hack dan masyarakat—ayalnya tak lebih dengan pelaku perisakan—melakukan perisakan (bullying) melalui media sosial, membongkar seluruh kehidupan pribadi pelaku. Katakan saja hukuman sosial, tapi apa bedanya jika pada akhirnya kita hanya sekedar melakukan witchhunt? Mudah bagi kita untuk memperlakukan seseorang dengan kejam jika orang tersebut memiliki hubungan yang tidak dekat dan tidak terikat secara personal dengan kita, khususnya dalam platform media sosial.

Perisakan diartikan perilaku agresif dan pada umumnya dilakukan oleh seorang pelajar yang menyebabkan kekerasan fisik, psikologis, sosial atau akademik. Perisakan harusnya tidak lagi dilihat sebagai perilaku remaja yang normal, walaupun perisakan umumnya terjadi di sekolah menengah, perisakan tidak hanya dilakukan oleh antara pelajar dan pelajar.

Perisakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Perisakan adalah perilaku kekerasan dan apapun bentuknya tetaplah kekerasan. Apabila kebanyakan netizen mempertanyakan bagaimana bisa para pelaku tidak memiliki empati, sebenarnya masyarakat harus kembali melihat dalam diri mereka. Lihatlah keluarga dan lingkungan sekitar, apakah mereka telah absen sebagai role model bagi anak-anak?

Di antara lembaga-lembaga lain, lembaga keluarga adalah agen dari yang paling kuat dalam memberikan represi psikologis seorang anak. Tanpa disadari, orang tua sering melakukan dan mengatakan sesuatu di depan anak-anak mereka, yang mana dalam alam bawah sadar si anak juga meniru apa yang orang tua lalukan.

Dr. Tracy Vaillancourt, seorang profesor Universitas Ottawa dan Ketua Penelitian Kanada untuk Kesehatan Mental Anak dan Pencegahan Kekerasan, mengatakan bahwa mendefinisikan intimidasi dapat membantu bagaimana kita mengatasinya. Vaillancourt mengatakan bahwa kadang-kadang, orang dewasa melakukan hal-hal dengan berperilaku agresif, bergosip, merendahkan orang lain di depan anak-anak mereka, mendorong anak-anak mereka untuk menyerang atau membiarkan persaingan saudara kandung yang menyebabkan represi psikologis pada anak.

Kita cenderung menyukai dan berusaha untuk menggapai kekuasaan dalam bentuk apapun yang kita tidak sadari, privilese kelas atau dalam banyak kasus, popularitas. Sikap perisakan adalah bagian dari sisi primitif manusia, sebagaimana kita berusaha mencapai kekuasaan demi kekuatan, tetapi itu tidak membenarkan perisakan.

Kekerasan Sistematis dalam Masyarakat
Selain lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat juga terlibat di dalam terbentuknya kekerasan. Dalam sekolah, misalnya, para pengajar sering gagal bertindak serius dalam kasus-kasus perisakan dan menganggap bahwa perisakan dalam bentuk olok-olokan, intimidasi, dan permusuhan dalam beberapa kelompok pelajar adalah sesuatu yang normal dari perilaku remaja.

Dalam satu penelitian oleh Lee & Song (2012) mengenai perisakan yang terjadi dari anak-anak Korea Selatan, pengasuhan yang otoriter cukup umum terjadi dan anak-anak mereka mengatakan bahwa: “Orang tua saya melakukan bentuk disiplin dengan hukuman fisik” dan “Orang tua saya ingin memiliki kendali atas hampir setiap aspek hidup saya “.

Kita harus mengenali peran orang tua dan anggota keluarga lainnya ketika anak-anak mereka terluka, apakah ‘rasa sakit’ yang mereka hadapi—entah secara emosional atau fisik—itu terkait dengan perisakan atau tidak. Sebagai contoh, di Australia, berdasarkan penelitian Rigby dan Slee (1999) melaporkan bahwa ide bunuh diri—yang umumnya terjadi kepada korban perisakan yang parah—tidak terjadi di antara anak-anak yang menerima dukungan sosial dan emosional dari keluarganya.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Italia mengungkapkan bahwa perisakan jarang terjadi dalam antara anak-anak yang memiliki hubungan positif dengan orang tua mereka.

Lembaga keluarga di Indonesia (dan di manapun pada umumnya) menempatkan kekuasaan pada ayah sebagai kepala rumah tangga. Sistem yang diterapkan adalah sistem patriarki—yang bahkan secara indegenous tak selalu patriarkis. Figur ayah adalah yang kerap menuntut anak untuk menjadi apa yang diinginkan, alih-alih bahwa mereka yang melahirkan dan membesarkan anak—termasuk figur ibu di dalamnya yang turut mengamini.

Lembaga keluarga meng-oedipal-kan sebuah keluarga di dalamnya yang membuat anak menjadi konformis terhadap ambisi ayah dan ibunya. Ketakutan anak untuk tidak mengkoreksi apa yang orang tua mereka katakan karena secara hirarkis, otoritas tertinggi ada pada orang tua, di mana anak diharuskan untuk patuh. Kepatuhan dan ketakutan menggambarkan bagaimana kondisi sebuah lembaga keluarga di Indonesia pada umumnya.

Tak hanya juga di lembaga, bentuk hirarkis ini terjadi di sekolah dan umumnya dilakukan pengajar. Pengajar yang memberi umpatan ketika muridnya tidak patuh atau tidak mampu mengikuti pelajaran sebagai bentuk ‘disiplin’. Untuk itulah kita perlu membahas bagaimana penyalahgunaan oleh orang dewasa dapat dikatakan perisakan. Namun kita jarang melihat perisakan yang dilakukan oleh orang dewasa dilihat begitu kompleks. Salah satunya adalah kesulitannya kita untuk mengidentifikasi dan mengatasi perisakan oleh orang dewasa karena otoritas yang dimiliki orang dewasa, secara hirarkis. Beberapa waktu lalu sempat ramai di media sosial kasus kekerasan yang dilakukan guru kepada muridnya yang berujung ke ranah hukum. Jelas-jelas sang guru telah menyalahgunakan kekuasaan, tapi justru banyak masyarakat yang menganggap bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan guru terhadap muridnya adalah sesuatu yang normal.

Kecenderungan kita adalah mengikuti begitu saja aturan-aturan dalam lembaga pemerintahan, lembaga masyarakat, atau bahkan lembaga keluarga, dikarenakan lembaga-lembaga tersebut dianggap memiliki otoritas untuk menentukan benar atau salah. Masyarakat justru memberikan kesempatan untuk penyalahgunaan otoritas, kekuasaan itu dengan memilih diam dan justru menjadi pelaku perisakan sendiri. Jika begitu, maka perisakan dan kekerasan yang lainnya akan terus terjadi.

Avatar
Anzi Matta
Hobi menulis dan menggambar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.