Senin, Mei 17, 2021

Jika Saya Meiliana

Pendidikan Keadaban Lailatur Qadar

Tak dapat disangkal, pendidikan adalah kebutuhan subtansial umat manusia. Melalui pendidikan, seseorang akan menjadi terdidik dan tercerahkan. Maka, memiliki modal besar untuk mengetahui dan...

Bisakah Kita Memberi Maaf Pada Kezaliman?

Salah satu tradisi mulia umat Islam Indonesia dalam lebaran adalah memohon maaf. Memohon maaf adalah simbol rekonsiliasi sosial sekaligus ungkapan kerendahan hati. Karena tak memahami...

Pemecatan Julen Lopetegui dan Rutinitas Real Madrid

Real Madrid memecat Julen Lopetegui. Ah, tak adakah berita yang lebih menarik dari itu? Sepanjang sejarahnya, Real Madrid menunjuk dan memecat pelatihnya segampang mereka...

Selamat Mengembara di Alam Spiritual, Pak Tides

Si tou timou tumou tou yang artinya manusia baru benar-benar dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia lain adalah kalimat terkenal dari...
Binhad Nurrohmat
Penyair, mukim di Rejoso, Jombang.

Film The Message, disutradarai oleh Moustapha Akkad, tayang pertama kali pada 1976. Dalam film epik sejarah perjalanan Nabi Muhammad ini digambarkan kala pertama kali azan dikumandangkan di dunia oleh Bilal bin Rabbah, pada masa awal setelah Nabi Muhammad dan para pengikutnya hijrah dari Makkah ke Madinah.

Bilal, sang budak negro yang dibebaskan oleh Abu Bakar sejak di Mekkah itu, tampak berdiri bertelanjang dada melantunkan azan pada suatu hari di bawah langit terbuka yang terang. Terlihat dalam film itu kaum muslim di Madinah terkesima dalam diam kala suara azan diserukan di kota itu. Azan diserukan oleh Bilal kepada kaum muslim di Madinah sebagai tanda tiba waktu salat dan panggilan salat.

Sesudah Bilal melantunkan azan, dalam film itu, tak terlihat adegan atau suara lantunan pujian sebagaimana lazim terdengar di negeri ini sebelum ikamah dikumandangkan. Relevankah membincangkan keberadaan pengeras suara azan pada masa Bilal melantunkan azan di Madinah? Madinah pada abad ke-7 bukanlah Tanjungbalai pada abad ke-21.

Meiliana dari Tanjungbalai dipenjara bukan oleh suara azan. Meiliana pun tak dipenjarakan oleh pengeras suara masjid di Tanjungbalai. Meiliana dipenjarakan setelah diduga menista agama karena memprotes volume lantunan azan yang keras. Setelah ada protes itu, sebagian masyarakat Tanjungbalai gaduh. Pengadilan yang memutuskan Meilina bersalah atau tidak bersalah berdasarkan hukum yang berlaku. Pengadilan adalah perpanjangan tangan negara.

Pemenjaraan Meiliana adalah kontroversi. Namun hukum bukan satu-satunya cara “mengadili” kasus Meiliana.

Berhakkah Meiliana merasa terganggu oleh dan memprotes volume keras suara azan? Meiliana jujur berkata. Apakan kejujuran yang membuat Meiliana masuk penjara? Patutkah kejujuran diumbar kepada semua orang, kepada semua keadaan?

Alkisah, seorang pendeta berterima kasih kepada pelantun azan yang bersuara buruk. Terima kasih yang tulus dan mendalam sang pendeta haturkan kepadanya. Bukan memprotes atau mengeluhkannya. Seseorang bertanya kenapa sang pendeta berterima kasih kepada pelantun azan yang buruk suaranya itu? Sang pendeta memiliki seorang putri jelita yang jatuh cinta kepada seorang pemuda muslim. Suatu ketika sang pendeta mengajak putrinya mendengarkan lantunan azan yang buruk suaranya. Sang putri bertanya, “Itu suara apa? Betapa buruknya!” Sang pendeta menjawab bahwa itu suara panggilan sembahyang dalam tradisi agama kekasih putrinya. Sejak itu putri sang pendeta meninggalkan kekasihnya itu.

Andaikan Meiliana bersikap serupa pendeta dalam kisah itu tatkala mendengarkan suara azan yang keras dari masjid dekat rumahnya, untuk apa dan untuk siapa dia melakukan yang seperti pendeta itu lakukan? Demi kesabarannya? Kesabaran ini tak bijaksana diharapkan dari orang yang sedang merasa pekak telinganya.

Jika saya Meiliana, apakah saya akan berterima kasih karena dipenjarakan setelah mengeluhkan suara azan yang memekakkan telinga? Tidak. Saya tak akan mungkin berterima kasih. Apakah saya akan meminjam telinga Tuhan? Ini lebih tak mungkin lagi dilakukan.

Apakah pemenjaraan Meiliana akan meredakan suara azan yang keras menjadi lebih lirih? Protes khalayak luas atas pemenjaraan Meiliana lebih keras suaranya dan lebih panjang durasinya ketimbang suara azan di Tanjungbalai yang telah dikeluhkan oleh Meiliana. Barangkali gaduh ini terjadi karena anak-anak khalayak luas yang protes itu bukan kekasih pelantun azan yang keras volumenya.

Jika saya Meiliana hanya satu harapan saya: Keadilan—bukan kebisingan khalayak luas.

Binhad Nurrohmat
Penyair, mukim di Rejoso, Jombang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.