Sabtu, Mei 15, 2021

Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!

Adakah yang Salah dengan Penggemar Tik Tok dan Bowo Alpenliebe?

Tik Tok sempat diblokir Kominfo pada awal Juli silam. Alih-alih tertarik pada isu pembatasan berekspresi dan berkreasi dengan senjata narasi moralitas ala pemerintah, saya...

Disleksia Bencana

Jika salah mengeja, bencana akan terbaca bejana, atau kencana. Dua kata benda yang belum tentu ada hubungannya. Namun, bisa menjadi satu rangkaian cerita jika...

Ya Allah, Kami Tak Takut Mati

"Ke arah mana pun wajahmu berpaling maka kau akan kepergok virus corona". Ini kesadaran mengerikan yang diam-diam terbangun pada semua warga penghuni bumi. Ada begitu...

Senjakala Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

Belakangan ini hingga sekarang, kampus-kampus ternama di negeri ini sedang mengadakan rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Rangkaian penerimaan ini biasanya berjenjang mulai dari tingkat Universitas,...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

[nujateng.com]
[nujateng.com]
Sejak isu penistaan yang melibatkan nama besar calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bergulir, muncul banyak sekali ragam dukungan sekaligus penolakan yang tidak semestinya. Dan hal yang tidak semestinya ini tentu juga sangat patut mendapat respons ketimbang melulu mendebat soal isu yang sebenarnya sudah lama tuntas.

Sejauh yang bisa saya amati, entah dalam bentuk dukungan atau penolakan, tak jarang saya dapati orang-orang yang mendasarkan argumentasinya hanya dari “siapa yang berbicara”. Sedikit sekali di antara mereka yang mendasarkannya dari “apa yang dibicarakan”. Orang-orang semacam ini, meminjam istilah novelis Pramoedya Ananta Toer, adalah mereka yang tidak adil sejak dalam pikiran.

Coba kita ambil contoh tentang dukungan dan penolakan atas KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Sejumlah argumen yang ia tebar di berbagai jejaring sosial, terutama yang berhubungan erat atau rangkaian dari isu penistaan, selalu saja menuai pro-kontra. Baik yang mendukung ataupun menolak, sekali lagi, mendasarkan sikapnya dari “siapa dia”, bukan “apa yang disampaikan”.

Ya, yang mendukung Gus Mus tak lebih hanya karena dia adalah seorang ulama yang santun, bijak, lagi cerdas. Mereka melihat Gus Mus hanya dari sisi pribadinya semata. Mereka lupa bahwa seorang ulama sekalipun, meski dirinya santun, bijak, cerdas, dan segala nilai-nilai baik melekat dalam dirinya, tak berarti apa yang diungkapkannya selalu benar.

Tentu, tipe orang semacam ini bisa benar, bisa juga salah. Tapi ingat, dia bisa benar hanya dari “apa yang disampaikannya”. Dia bisa benar jika memang kata-katanya benar, bukan berlandas dari “siapa dia”.

Penilaian semacam ini tentu juga harus berlaku ketika kita mengambil sikap penolakan untuknya. Bahwa Gus Mus salah jika memang apa yang disampaikannya itu memang salah.
Sayangnya, kecenderungan orang untuk menilai dari sisi “siapa dia” membuat semuanya jadi buyar.

Seperti pada pendukungnya, mereka yang menolaknya pun tak lebih melihat Gus Mus dari sisi pribadi semata. Bahwa dia seorang ulama atau kiai yang cenderung liberal ketimbang fanatik; dia seorang inklusif daripada fundamental atau konservatif; dia seorang pluralis, anti-intoleransi; cap-cap semacam inilah yang membuatnya selalu salah di mata para penolaknya. Gus Mus, di mata mereka, selamanya adalah bagian dari “yang kafir”.

Sungguh, baik pendukung atau penolaknya, mereka tak mampu—jika bukan tak mau—melihat bahwa apa yang disampaikan Gus Mus, tanpa harus peduli kecenderungan sikap pribadinya, punya sisi kebenaran juga kesalahan. Ya, meski tetap harus kita pandang relatif sebagaimana konsep kebenaran/kesalahan yang kita yakini masing-masing.

Tentu, contoh di atas hanyalah puncak dari gunung es saja. Masih banyak contoh lain yang bisa kita ambil yang tak lebih baik relevansinya juga. Termasuk atas Ulil Abshar Abdalla di mana pendukungnya hanya melihat dia sebagai kader dari Partai Demokrat; penolaknya lebih melihat dirinya sebagai Muslim Liberal; yang jarang menelaahnya dari sisi apa yang disampaikannya ke khalayak publik.

Dengan bergulirnya tulisan ini, ke depan saya hanya bisa berharap bahwa tak ada lagi penilaian yang lahir berdasar “siapa yang berbicara”. Bahwa penilaian tersebut hanya akan lebih layak kita sebut “benar” atau “salah” jika itu benar-benar berdasar pada “apa yang dibicarakan”.

So, telaah dulu apa yang disampaikan. Jangan asal cap sana-sini hanya dari sosok pribadinya semata.

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.