Sabtu, April 17, 2021

Di Balik Kemenangan Hassan Rouhani

Saat Perempuan Iran Ramai-Ramai Melepas Hijab

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia dan Iran saat ini terkait cadar, hijab, dan...

Setahun Kudeta Berdarah di Turki

Hari ini, 15 Juli 2017, rakyat Turki merayakan dan memperingati perjuangan masyarakat sipil bersama pihak kepolisian yang berhasil menggagalkan kudeta militer setahun lalu. Salah...

Donald Trump dan Fenomena Politik Anomali

Pemilihan Presiden yang baru saja berlangsung di Amerika Serikat memberi kita pelajaran penting. Kemenangan Donald Trump telah "memukul" para pengamat politik dan juga para...

Indonesia di Tengah Tragedi Rohingya

Konflik di negara bagian Rakhine/Arakan, Myanmar, akhir-akhir ini sedang bereskalasi ke babak baru. Hal ini ditandai dengan aktifnya gerakan kelompok bersenjata Rohingya yang menamakan...
Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.

Para pendukung setia Calon Presiden Hassan Rouhani memegang potret Rouhani selama kampanye di Teheran pada 4 Mei 2017. AFP PHOTO/ATTA KENARE

Berakhir sudah Pemilu Iran yang berlangsung pada Jumat 19 Mei 2017. Sang Presiden petahana Hassan Rouhani terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden Iran. Rouhani meraup suara dengan perolehan 57 persen. Ia unggul jauh dari pesaing terberatnya, Ebrahim Raisi, dari kaum konservatif yang hanya mendapatkan suara 39 persen. Dengan capaian tersebut, kaum reformis kembali menguasai pemerintahan Iran untuk kedua kalinya.

Dari target 50 juta pemilih, ada sekitar 42,5 juta orang yang menggunakan hak pilih dalam Pemilu Iran kali ini. Suara Rouhani mencapai 23,5 juta pemilih, sedangkan Raisi mendapatkan 15,8 juta suara. Sisanya terbagi kepada dua calon yang suaranya tidak mencapai 1 persen, yaitu Mir Salim dan Hashemi Taba. Dengan perolehan suara Rouhani yang lebih dari 50 persen, tak perlu ada pemilu jilid kedua yang rencananya akan dilangsungkan pada 26 Mei.

Perihal kemenangan tersebut, sejatinya banyak yang memprediksi bahwa Rouhani akan memenangkan pemilu. Melihat dari catatan sejarah, setiap presiden Iran selalu berhasil memenangkan periode kedua mereka sejak tahun 1981. Hal ini pun diperkuat dari jajak pendapat yang sempat dilakukan oleh Badan Mahasiswa Iran pada awal Mei bahwa Rouhani masih unggul 42 persen dibandingkan dengan Raisi yang hanya mendapatkan 27 persen.

Kemenangan Rouhani pun disambut sukacita oleh masyarakat Iran. Citra Rouhani sebagai pemimpin reformis seakan meneguhkan bahwa rakyat Iran memang membutuhkan perubahan. Janji-janji perubahan tersebut telah tampak dalam empat tahun kepemimpinan Rouhani jilid pertama.

Kesepakatan nuklir yang telah dilakukan bersama dengan negara-negara Barat dianggap sebagai pencapaian prestisius bagi pemerintahan Iran. Dengan adanya kesepakatan tersebut, Iran terbebas dari sanksi internasional yang selama ini memberatkan ekonomi mereka.

Tantangan Rouhani
Berbekal pengalaman Rouhani dalam memimpin Iran pada empat tahun pertama, ia berusaha mengangkat kembali perekonomian Iran. Meningkatkan hubungan dagang adalah prioritas utama dengan sejumlah mitra supaya menekan inflasi dan menaikkan pertumbuhan PDB negara.

Ada beberapa tantangan yang harus benar-benar diperhatikan Rouhani dalam menjalankan pemerintahannya jilid kedua. Pertama, tekanan oposisi internal. Kaum konservatif akan berusaha menekan dan membangkitkan kembali semangat 1979. Apalagi klaim kaum konservatif bahwa mereka didukung penuh oleh tokoh dan ulama besar Iran, yaitu Ayatollah Ali Khamanei.

Meskipun Rouhani memenangkan pemilu, kebijakan maupun keputusan tertinggi tetap berada pada Khamanei. Hal ini yang akan menjadi kerikil sandungan bahwa tak sepenuhnya platform kebebasan yang dibawa Rouhani akan selalu mulus dijalankan pada pemerintahan Iran jilid kedua.

Kedua, tekanan oposisi eksternal. Sejak Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan “normalisasi” imigran, Iran adalah salah satu negara yang terkena dampak dari kebijakan tersebut. Hal ini ditengarai bahwa Presiden AS Donald Trump tidak terlalu suka dengan kesepakatan nuklir antara AS dan Iran. Ia lebih memilih dengan segera mencabut hasil kesepakatan yang telah dibuat Obama bersama pemimpin Barat lainnya dengan Rouhani.

Iran juga dianggap membahayakan sahabat terbesar AS, yaitu Arab Saudi dan Israel. Sudah menjadi rahasia umum ada jalinan romantis antara AS dengan Arab Saudi dan Israel. Bahkan lawatan Trump untuk pertama kalinya ke luar negeri berkunjung ke dua negara tersebut, Arab Saudi dan Israel.

AS juga tidak akan membiarkan Iran mengembangkan nuklirnya. Apalagi klaim AS bahwa nuklir Iran “sengaja” diarahkan ke Arab Saudi dan Israel. Jika berita tersebut benar adanya, bukan tidak mungkin AS akan turun tangan seperti invasi AS ke Irak pada tahun 1991.

Ketiga, konflik Timur Tengah. Kawasan Timur Tengah tidak bisa terhindarkan dari konflik kepentingan. Entah itu kepentingan yang dibawa oleh negara-negara Barat maupun kepentingan yang dibawa masing-masing negara wilayah Timur Tengah. Entah itu kepentingan yang berujung ekonomi maupun kepentingan yang berbalut agama. Hal yang patut diwaspadai Rouhani adalah penurunan daya jual beli ekonomi dan permainan aliran agama.

Penurunan daya jual beli ekonomi adalah salah satu pemicu yang berhasil menggerakkan anak muda untuk melakukan demonstrasi besar-besaran di Timur Tengah hingga melahirkan gelombang Arab Spring. Gerakan tersebut menjadi masif hingga akhirnya mereka berhasil menurunkan penguasa seperti Ben Ali di Tunisia. Ini seharusnya menjadi perhatian jika melihat kaum konservatif dalam kampanye selalu mendengungkan ekonomi Iran yang terus bergejolak tak menentu.

Selain itu, permainan konflik aliran agama antara Sunni yang diwakili Arab Saudi dan Syiah yang diwakili Iran akan semakin menggelora. Beberapa konflik yang terkait Arab Spring seperti negara Suriah telah diwacanakan oleh beberapa media arus utama bahwa kaum Syiah dan Sunni saling berkonflik.

Terlebih dalam kasus Suriah, petahana Assad didukung oleh Iran dan Rusia, sedangkan oposisi didukung oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat. Namun, jika dilihat lebih teliti dan seksama, lebih banyak pertarungan kepentingan ekonomi yang sedang terjadi di Suriah.

Hassan Rouhani boleh sedikit jumawa dengan kemenangannya yang lebih dari 50 persen. Masyarakat Iran pun boleh sedikit membusungkan dada bahwa adanya sinyal kebebasan seperti negara-negara Barat bisa menikmati akses Facebook dan Twitter kembali. Namun, ancaman dari pihak internal dan eksternal akan terus bermunculan.

Setelah Iran menyatakan kemenangan Hassan Rouhani, selang beberapa jam kemudian Arab Saudi dan Amerika Serikat telah menyepakati penandatangan persenjataan senilai US$110 milliar selama 10 tahun. Petanda positif atau negatif? Menarik ditunggu!

Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.