Selasa, Mei 18, 2021

Haruskah Aktivisme Mengikuti Zaman?

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Bhinneka Tunggal Drama

Ben Anderson, pengkaji Indonesia yang paling masyhur mungkin, pernah menandaskan, bangsa ada berkat kapitalisme cetak. Media massa—koran, buku—memungkinkan insan-insan yang tak saling mengenal merasa...

Parkir Syariah van Depok dan Agamaisasi Layanan Publik

Kebijakan Pemerintah Kota Depok yang memisahkan tempat parkir laki-laki dan perempuan mengundang kontroversi. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok Dadang Wahana, keberadaan tempat parkir...

Pemecatan Julen Lopetegui dan Rutinitas Real Madrid

Real Madrid memecat Julen Lopetegui. Ah, tak adakah berita yang lebih menarik dari itu? Sepanjang sejarahnya, Real Madrid menunjuk dan memecat pelatihnya segampang mereka...
Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.

Berada di tengah situasi sulit karena pandemi ini, mungkin kita semua merasakan bahwa banyak hal yang perlu kita hadapi dan benahi bersama-sama. Tentu dengan memikirkan kondisi kesehatan kita dan orang terdekat sebagai prioritas utama, rupanya agak iba dan tak enak hati juga jika kita masih melihat terdapat orang-orang yang jangankan memikirkan kesehatan, dapat mengisi perutnya dengan makanpun rupanya masih kebingungan.

Situasi pandemi seperti ini memang tak dapat dengan mudah untuk diprediksi kapan akan hadir dan berakhir, sehingga sulit bagi kita untuk mempersiapkan dan beradaptasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bukan hanya kita sebagai individu, namun juga negara.

Segala kalang-kabut yang terjadi akibat pandemi Covid-19 ini, membuat negara menjadi ikut kalang-kabut pula dalam menanganinya. Mungkin analogi bahwa terdapat seseorang yang ingin tenggelam akibat ketidakpastian dan ketidakstabilan lantas secara acak mencari pegangan untuk membuat dirinya selamat, cocok untuk menggambarkan negara pada situasi saat ini.

Upaya untuk mencari pegangan agar tak tenggelam tersebut lantas menelurkan berbagai sikap, kebijakan dan keputusan yang justru mengkerdilkan partisipasi publik. Seperti pembahasan tertutup dan terus dijalankannya Omnibus Law −hingga membayar influencer, dikeluarkannya RUU PKS dari daftar prioritas padahal banyak terjadi kasus kekerasan seksual di lapangan, ditangkapnya terduga kelompok Anarko dan melakukan peradilan kepadanya yang ternyata tak adil, hingga praktik dari Kementerian Pertahanan yang berencana mengerahkan komponen cadangan guna membangun lumbung pangan di Kalimantan Tengah tanpa menimbang faktor budaya dan kebutuhan setempat.

Ya, sebenarnya masih banyak kebijakan dan implementasi negara yang terjadi terlepas dari berbagai contoh yang telah disebutkan diatas, dan hal itu mungkin saja bisa kita susun menjadi sebuah blueprint yang berjudul “Implementasi Negara yang Mengarah Kepada Otoritarianisme Di Masa Pandemi”. Bisa saja karena memang hal tersebut ada, dan itu nyata. Lantas, bagaimana kita harus menyikapinya?

Media Sebagai Kontrol Informasi

Di tengah keterbatasan ruang saat pandemi ini, media sosial menjadi ruang utama bagi seseorang dalam beraktivitas maupun mengeksplorasi berbagai hal. Dimulai dari aktivitas kantor seperti meeting, belajar online, sekedar sambat, hingga saling sikut membela idola yang dicintainya.

Padatnya laju informasi di sosial media ini lantas diperkeruh dengan hadirnya pula berbagai informasi yang tidak independen dan disinyalir memiliki kepentingan negara untuk menghegemoni masyarakat. Dalam paragraf sebelumnya telah disinggung, bahwa beberapa waktu yang lalu sempat ramai bahwa banyak artis dan influencer ramai-ramai mengkampanyekan tagar #IndonesiaButuhKerja, yang usut punya usut ternyata tagar tersebut merupakan salah satu bagian dari instrumen kepentingan pemerintah dalam mengesahkan Omnibus Law.

Belum lama juga sempat heboh mengenai komika yang mengkritik kejanggalan proses hukum yang menyangkut Novel Baswedan, justru diserang oleh buzzer dengan tuduhan bahwa komika tersebut mengkonsumsi narkoba. Hal ini jelas memancing rasa skeptis kita bahwa terdapat upaya pengontrolan terhadap informasi yang tak lain dilakukan oleh pemilik kepentingan.

Chomsky pun pernah menyebutkan bahwa demokrasi yang berjalan −demokrasi secara faktual-praktik, kerap kali tidak sesuai dengan demokrasi secara ideal-normatif. Dalam penerapannya, bagi Chomsky, demokrasi berkembang karena memang berisi berita-berita dan teks propaganda-propaganda yang bersifat politis dan massif, hal itu membentuk suatu batasan dalam ruang demokrasi yang berkembang saat ini.

Propaganda yang dibuat memang tak pernah terlepas dari kepentingan-kepentingan sistematis yang dibuat dalam teknik tertentu. Hal tersebut adalah suatu upaya untuk mencapai tujuan tertentu dengan merekayasa opini yang telah dibumbui oleh unsur-unsur politis. Tentu, itu menciptakan −dan diciptakan, kelompok pandir yang menjadi pengikut kebijakan dan ikut mereproduksi wacananya.

Jika kita telisik memang yang menjadi diskursus di sosial media berhubungan secara dialektis dengan pemberitaan yang terjadi di media massa. Sebagaimana pula yang dipahami Chomsky, media massa adalah hasil rekonstruksi dan olahan para pekerja redaksi. Dimana informasi yang disajikan hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat, yang semuanya tentu sangat tergantung orang dibalik media tersebut. Terlepas dari segala penerapan teknik-teknik jurnalistik yang presisi.

Senjakala Aktivisme

Kini, aktivisme memang berjalan dengan bentuk yang berbeda-beda. Namun terdapat suatu pernyataan yang menyatakan bahwa aktivisme haruslah sejalan dengan perkembangan zaman. Premis-premis yang dikemukakan biasanya adalah mengutuk tindakan demonstrasi jalanan; orasi, pemogokan, pemboikotan, hingga pendudukan. Semua itu bisa dilakukan di sosial media, katanya. Kampanye online, donasi, hingga menggalang solidaritas dengan tanda tangan petisi.

Tidak ada yang salah dengan itu, aktivisme haruslah berkembang dan dapat dinamis-adaptif dengan konteksnya. Namun apakah dengan begitu serta-merta menghilangkan metode dan cara lama? Bagi saya, tidak juga. Hal ini karena melihat kenyataan bahwa media kerap memiliki afiliasi kepentingan dan berkecenderungan untuk berorientasi pada keuntungan. Terlebih, buzzer adalah benteng kekuasaan yang nyata.

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali perbedaan yang tak bisa dipahami dari satu atau dua sudut pandang yang skematik. Sebagai ilustrasi adalah bahwa kita tidak bisa menilai aktivisme lingkungan di Kalimantan karena memang mereka berdiri pada friksi-friksi yang berbeda, dan itu tak perlu dipermasalahkan ‘kemurniannya’.

Sehingga bukan tentang bagaimana kegiatan aktivisme ini dilakukan, lantas dikontraskan dengan perkembangan zaman. Media sosial memang bisa menjadi ruang, namun polusi informasi dan batas-batas kepentingan yang ada justru menjelas menjadi polusi baru yang menjauhkan tujuan dari aktivisme itu sendiri.

Lebih dari itu, tindakan aktivisme adalah mengembalikan kembali kepada abstraksi dan biarkan untuk mengorganisir diri. Jika terdapat argumentasi bahwa untuk meningkatkan partisipasi publik dan melakukan aktivisme haruslah sesuai dengan zaman, tanya saja, haruskah?

Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.