Dahulu kala gula adalah simbol kesederhanaan yang melambangkan sebuah perayaan manis dalam hidup manusia. Gula hadir dalam dua sendok teh di dalam cangkir atau sebagai hadiah cokelat bagi anak yang bekerja dengan baik. Namun masa itu sudah lama berlalu karena sekarang gula telah berubah menjadi sebuah indikator identitas sosial yang sangat kuat bagi semua orang. Gula memberi tahu dunia tentang siapa Anda serta di mana Anda tinggal dan seberapa besar isi dompet Anda saat ini.
Fenomena ini terjadi karena pola konsumsi gula di seluruh dunia sedang mengalami pembelahan yang sangat tajam antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Negara maju mulai menjauh dari rasa manis sementara negara berkembang justru semakin terikat dengan bahan pangan ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perbedaan mencolok tersebut menceritakan kisah yang lebih besar mengenai kondisi ekonomi global serta cara manusia modern mengonsumsi nutrisi.
Selama puluhan tahun lamanya terdapat satu aturan baku yang selalu dipercaya oleh para ahli ekonomi dunia. Aturan tersebut menyatakan bahwa semakin kaya sebuah bangsa maka semakin tinggi pula tingkat konsumsi gula penduduknya secara keseluruhan. Namun aturan kuno itu sekarang sudah tidak berlaku lagi bagi peradaban modern kita.
Mari kita lihat Amerika Serikat sebagai contoh utama dalam pergeseran tren kesehatan global yang sangat drastis ini. Tingkat konsumsi gula di Amerika Serikat merosot tajam sebanyak empat persen hanya dalam kurun waktu dua tahun terakhir saja. Hal yang serupa juga terjadi di wilayah Eropa Barat dengan penurunan angka mencapai hampir tujuh persen dalam periode yang singkat.
Permintaan gula secara global pun menunjukkan tanda kelelahan yang nyata bagi industri pangan dunia. Pertumbuhannya saat ini hanya berada pada angka nol koma lima persen saja setiap tahunnya. Angka ini merupakan sebuah perubahan paradigma yang sangat masif karena selama setengah abad sebelumnya gula selalu tumbuh konsisten pada angka dua persen setiap tahun.
Sekarang konsumsi terus jatuh dan pertumbuhan semakin melambat secara signifikan di berbagai belahan bumi. Bahkan banyak pabrik gula di negara barat yang terpaksa gulung tikar karena tidak sanggup lagi bertahan. Harga gula pun anjlok hingga mencapai level terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini.
Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan tren penurunan drastis ini terjadi di tengah masyarakat modern? Jawabannya terletak pada dua faktor utama yaitu kebijakan pajak pemerintah dan kemunculan obat penurunan berat badan yang revolusioner. Saat ini sudah ada lebih dari seratus negara yang secara resmi menerapkan pajak tinggi untuk minuman manis. Daftar negara tersebut mencakup Inggris serta Prancis dan Meksiko hingga Afrika Selatan yang mulai membatasi akses gula bagi warga mereka.
Jika sebuah minuman ringan memiliki kandungan gula yang sangat tinggi maka harganya pun akan menjadi jauh lebih mahal bagi konsumen. Kebijakan pajak ini memaksa perusahaan besar untuk melakukan langkah radikal dengan mengurangi kandungan gula dalam produk mereka secara besar-besaran. Perusahaan juga diwajibkan untuk memasang label peringatan serta merumuskan kembali resep lama agar lebih sehat bagi publik.
Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah kehadiran obat-obatan medis seperti Ozempic atau Mounjaro di pasar kesehatan global. Obat-obatan ini mengubah cara manusia makan hingga ke tingkat biologis yang paling mendasar dalam tubuh mereka. Cara kerjanya tidak hanya sekadar mengurangi nafsu makan saja namun juga menghilangkan keinginan otak untuk menikmati makanan manis atau berlemak. Orang yang menggunakan obat ini secara rutin akan mengonsumsi kalori jauh lebih sedikit daripada manusia normal pada umumnya. Meskipun saat ini hanya ada satu persen populasi dunia yang memakainya namun keberadaan obat ini sudah cukup untuk membuat para petinggi industri gula merasa sangat cemas.
Tren konsumsi ini menunjukkan pola yang sangat jelas antara si kaya dan si miskin di peta dunia. Di negara kaya gula telah dianggap sebagai musuh utama bagi kesehatan masyarakat karena jumlahnya yang terlalu berlebih. Gula bersembunyi di balik kaleng soda serta sereal sarapan dan berbagai macam saus yang dikonsumsi setiap hari. Bahkan Anda bisa menemukan gula dalam berbagai camilan yang diklaim sebagai makanan sehat oleh produsen nakal.
Warga Amerika saat ini masih mengonsumsi sekitar seratus dua puluh gram gula setiap harinya secara rata-rata. Padahal organisasi kesehatan dunia atau WHO telah menetapkan batas aman hanya sebesar lima puluh gram saja per hari. Itu artinya konsumsi gula mereka sudah mencapai lebih dari dua kali lipat dari batas yang disarankan oleh para ahli kesehatan internasional.
Sebaliknya situasi yang sepenuhnya berbeda terjadi di negara-negara berkembang yang sedang berjuang dengan ekonomi mereka. Di sana gula memainkan peran yang sangat vital sebagai sumber kalori paling murah yang bisa ditemukan oleh masyarakat kelas bawah. Gula membantu memberikan rasa kenyang serta menjadi bahan bakar utama bagi para pekerja kasar untuk terus bergerak sepanjang hari.
Bahan ini juga menjadi kompensasi bagi pola makan yang sangat rendah lemak atau protein karena harganya yang sangat terjangkau. Angka konsumsi gula di negara berkembang terus meroket seiring dengan proses urbanisasi yang terjadi di berbagai wilayah. Makanan olahan pun menjadi primadona baru di pusat-pusat kota yang baru berkembang pesat tersebut.
Fenomena transisi nutrisi ini merupakan sebuah fase yang harus dilewati oleh setiap negara dalam perjalanan menuju kemakmuran. Ketika kekayaan sebuah bangsa tumbuh maka konsumsi gula akan ikut naik dengan sangat cepat sebelum akhirnya regulasi pemerintah mulai mengetat. Hal ini membuat tingkat konsumsi gula menjadi sebuah indikator kesenjangan sosial yang sangat akurat bagi para peneliti. Di negara makmur gula adalah sebuah pilihan gaya hidup yang mulai ditinggalkan karena alasan kesehatan jangka panjang. Namun bagi masyarakat miskin gula adalah bahan bakar krusial untuk bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi dunia yang tidak menentu.
India menjadi contoh yang paling sempurna untuk menggambarkan kontradiksi besar mengenai konsumsi gula ini di mata dunia. Secara rata-rata satu orang penduduk India mengonsumsi sekitar dua puluh kilogram gula setiap tahunnya. Angka ini sebenarnya masih berada jauh di bawah rata-rata konsumsi penduduk dunia secara keseluruhan. Namun angka rata-rata tersebut menyembunyikan sebuah jurang perbedaan yang sangat lebar di antara lapisan masyarakatnya. Kelompok kaya di India mulai berhenti mengonsumsi gula putih dan beralih ke alternatif lain yang dianggap lebih menyehatkan bagi tubuh. Sementara itu kelompok miskin di India masih sangat bergantung pada gula pasir sebagai sumber energi utama yang paling murah.
Sebagian besar gula di India sekarang masuk ke dalam industri makanan olahan serta minuman kemasan yang diproduksi secara masif. Angka ini terus melonjak tajam dalam kurun waktu lima tahun terakhir seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat urban. Meskipun demikian pemerintah India belum berani menerapkan pajak gula nasional karena harus menjaga keseimbangan yang sangat rumit. Bagi sebagian rakyat India kelebihan gula memang menjadi masalah kesehatan yang serius seperti diabetes atau obesitas.
Namun bagi sebagian rakyat lainnya tantangan utama yang mereka hadapi adalah masalah ketahanan pangan dan kelaparan. Kebijakan negara harus mampu mengakomodasi kedua kelompok orang ini tanpa merugikan salah satu pihak. Selain itu India juga merupakan eksportir gula terbesar kedua di dunia sehingga aspek ekonomi tetap menjadi pertimbangan utama bagi para pembuat kebijakan di sana.
Singkat cerita gula sekarang bukan lagi hanya tentang soal rasa manis yang memanjakan lidah kita semua. Gula telah menjelma menjadi soal pilihan hidup serta akses terhadap kesehatan dan kualitas nutrisi yang berbeda bagi tiap kelas sosial. Di negara kaya gula kini dianggap sebagai tembakau baru yang sangat dihindari oleh masyarakat yang sadar akan kesehatan. Di negara miskin gula tetap menjadi sumber energi yang tak tergantikan bagi mereka yang sedang berjuang melawan kemiskinan. Selama harga makanan bergizi masih belum bisa terjangkau secara merata bagi semua orang maka gula akan terus membelah dunia melalui setiap sendok yang kita gunakan.
