Jumat, Maret 1, 2024

Quakerisme dalam Film Amerika: The Quack Quakers dan High Noon

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Keterlibatan kaum Quaker dalam pelbagai lakon di Inggris terjadi setelah terbentuknya Religious Society of Friends (selanjutnya disebut Friends) pada pertengahan abad ke-17. Menurut cerita secara turun-temurun, 1652 adalah tahun berdirinya Friends. Sementara, gambaran tentang sosok kaum Quaker mulai diceritakan dalam berbagai karya fiksi, terutama novel di Amerika, pada abad ke-18 and 19.

Keterlibatan kaum Quaker di Amerika sebagai stock character terkait dengan adanya hubungan kompleks antara pasifisme yang dianut kaum Quaker dan abolisionisme yang muncul dalam era Perang Revolusi dan perbudakan. Tokoh-tokoh Quaker mendapatkan peran-peran sangat penting dalam perkembangan film-film Amerika pada awal abad ke-20, dimulai dari periode era awal film (1900-1920) hingga masa film-film Hollywood dengan biaya yang sangat besar pada pertengahan abad ke-20.

Dalam tulisan ini, penulis hendak menyajikan perkembangan dan keterlibatan kaum Quaker dalam dua film di Amerika, yakini The Quack Quakers (1916) dan High Noon (1952). Lewat profil masing-masingnya, pembaca akan melihat bagaimana perkembangan dan lawatan kaum Quaker atau nilai-nilai Quakerisme dalam mendialogkan keyakinannya pada zaman yang berbeda. Bisa dikatakan, perkembangan yang terjadi sebetulnya merupakan respons kaum Quaker terhadap semangat zaman (zeit geits) yang mereka hadapi.

The Quack Quakers (1916)

The Quack Quakers (1916), sebuah film Amerika besutan sutradara prolific Harry F. Millarde (1885-1931). Film ini adalah sebuah komedi yang mengisahkan seorang aktor Broadway, bernama Tom Perkins, yang hampir putus asa mencari seorang gadis penari panggung yang cantik, yang disebut sebagai “ratu yang akan memandu kelompok” (queen to lead the bunch) lewat pertunjukan musikal yang disebut Peaches and Cream.

Setelah meneliti segenap gadis penari panggung yang ada di Broadway, Morris, sang manajer panggung yang sedang marah, memerintahkan Tom untuk mencari sang gadis. Bila perlu Tom harus menyisir seisi kota untuk mendapatkan apa yang disebutnya “seorang gadis yang cukup cantik dan bisa menari seperti tornado” (Find a girl that’s pretty enough and that can dance like a tornado!).

Ketika berjalan-jalan di sebuah pantai, Perkins segera menemukan seorang wanita muda yang cantik, bernama Rosie Pinkham. Ia ingin jadi artis dan mengundang Perkins datang ke rumahnya untuk menyaksikan bagaimana kemampuannya menari. Kedatangan Perkins dan manajer panggungnya, Morris ke rumah Rosie berbuah kekecewaan. Rosie yang sebelumnya berbusana tipis dan mempesona, kini justru berpakaian tradisional dan sederhana ala Quaker di hadapan tamu lainnya, yakni paman Rosie bernama Ezra.

Sang paman adalah seorang Quaker taat yang kebetulan berkunjung pada keluarga Pinkham. Morris, bosnya Perkins, kecewa dan menuduh Perkins bodoh karena percaya bahwa gadis Quaker tersebut adalah seorang calon bintang yang hebat. Ia mengatakan, “You thought a Quaker was going on the stage? That’s your Peach? Tom, my boy, the heat has gone to your head. You lead me up here on a wild goose chase to meet a family of Quakers!’ To which, Perkins can only muster a befuddled protest that: ‘But they weren’t Quakers this afternoon. . .they were just regular folks, just as I told you”.

Persoalan itu terjawab ketika Perkins menelpon Rosie malamnya. Rosie menjawab bahwa ia berpakaian demikian hanya untuk mengelabui pamannya, Ezra, yang sudah 20 tahun tidak mengunjungi keluarga mereka. Paman Ezra, seorang penganut Quaker yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional Quaker, tidak menyadari bahwa Rosie dan ayahnya sudah tidak mengamalkan lagi keyakinan dan tradisi masyarakat Quaker. Mereka mengikuti hidup sesuai standar kosmopolitan dan pengaruhi duniawi, seperti berjemur di pantai dengan bikini, nonton teater, dan mengumpulan karya-karya seni.

Di saat Paman Ezra menginap di sana, karya-karya seni itu—lukisan dan koleksi patung—dibungkus rapat-rapat dengan kertas tebal agar tidak ketahuan. Keluarga Pinkham hanya ingin mempertahankan citra dan penampilan mereka seolah-olah masih memegang teguh keyakinan Quaker. Tak kalah pentingnya, Rosie menyatakan bahwa sikap demikian juga dikarenakan status sosial paman yang lebih baik daripada mereka karena kekayaan yang dimilikinya. Sesuai dengan penuturan Rosie kepada Perkins, “Well, we just scurried around to get ready. We hid all the cards, and covered the pool table, and screened the pictures and draped the statuary, and dressed ourselves up [in Quaker clothes] and got it all done just in time… Besides, [Uncle Ezra’s] awfully rich!

Sebagai seorang pelakon, Rosie Pinkham melewati semua harapan yang ada. Sebagai seorang aktris dengan insting yang tajam, ia bersandiwara secara meyakinkan di hadapan pamannya Ezra sebagai seorang Quaker taat. Tak kurang Perkins dan Morris—dua orang yang sudah sangat veteran dalam dunia teater—juga ikut terkelabui oleh penampilannya. Perkins sempat berkata karena tercengang, “Why, you never flickered and eyelash. You looked like the real article, all right”. Peristiwa ini menyadarkan Morris bahwa ternyata orang-orang Quaker memiliki kemampuan acting yang luar biasa. Kemampuan ini juga diikuti oleh kemampuan lainnya, seperti menari.Morris mengakui, “Rosie had been as a Quakeress, as a dancer she was a veritable whirlwind”.

Kemampuan Rosie dalam menari bisa digunakannya di atas panggung untuk hiburan. Talenta dan kemampuannya dalam bersandiwara di hadapan sang paman  menunjukkan adanya potensi sinisme lebih luas dalam kalangan dalam kelompok Quaker sendiri yang mulai mempertanyakan relevansi dan kemampuan praktik-praktik tradisional Quakerisme dalam menghadapi godaan duniawi dan kehidupan urban. Inilah yang hendak dipertegas dalam film The Quack Quakers lewat teater musikal abad ke-20.

Agaknya, film The Quack Quakers menyiratkan, karena dorongan teater musikal dan kesenangan hidup urban, bahwa Paman Ezra sendiri—yang melakukan perjalanan dari Missouri dan untuk kunjungan mendadak kepada keluarga Pinkhmas eks-Quaker—boleh jadi akhirnya juga dipengaruhi untuk membuang atau meninggalkan pakaian sederhananya, pembicaraan yang aneh serta kaku, dan keyakinan lamanya untuk diganti dengan  petualangan Broadway yang sarat nilai-nilai hedonistik dan duniawi.

High Noon (1952)

High Noon (1952) dianggap sebagai film Amerika paling berpengaruh tentang etos Quaker. High Noon telah memenangkan hadiah Oscar untuk Best Picture pada tahun 1953. Mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyebut bahwa High Noon adalah film favoritnya.

High Noon mengisahkan seorang sheriff bernama Will Kane (Gary Cooper) yang siap meninggalkan tugasnya sebagai penegak hukum di sebuah masyarakat Hadleyville. Ia juga akan menikah dengan seorang wanita muda dan cantik dari kelompok Quaker, Amy Fowler (Grace Kelly), yang meminta Kane agar meletakkan jabatannya. Amy meyakini bahwa pekerjaan seorang sherif bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianutnya sebagai seorang Quaker yang cinta damai (pacifism). Sebelumnya ia menyerahkan lencananya buat selamanya, tiba-tiba Kane mendengar bahwa seorang tokoh penjahat, bernama Frank Miller yang telah dijebloskannya ke dalam penjara, telah dibebaskan dan akan sampai di kotanya dengan menggunakan kereta api siang.

Keberhasilan Kane menaklukkan komplotan penjahat, yang membuat suasana kota Hadleyville kembali aman bagi kehidupan domestik dan perdagangan, cukup mengejutkan. Tetapi, kehadiran Amy Fowler Kane—seorang wanita Quaker yang masih memegang erat nilai-nilai Quakerisme—pada adegan terakhir menjadi elemen penting dalam simbolisme cerita-cerita mistik Amerika.

Miller terbunuh oleh tembakan Kane. Tembakan itu dilepaskan ketika Miller menjadikan Amy Kane sebagai sandera atau perisai dirinya. Sebelum Miller ditembak mati oleh Kane, kedatangan Amy didorong oleh suara tembakan yang didengarnya di atas kereta api. Ia memilih untuk menolong suaminya dan melepaskan keyakinannya sebagai seorang Quaker yang cinta damai yang terlarang membunuh.

Momen paling penting berlangsung di saat Amy melepaskan tembakan mematikan kepada salah seorang komplotan penjahat. Dalam film itu terlhat bahwa tembakan tersebut bukan saja mengakhiri hidup si penjahat secara instan. Bahkan ia melakukannya secara brutal dan penuh insting dengan satu tembakan dari jarak yang sangat dekat.

Film High Noon berperan melestarikan perdebatan dan percakapan ratusan tahun seputar prinsip-prinsip Quaker. Hal ini tercermin dalam sosok Amy, seorang wanita Quaker, yang mengalami transformasi moral luar biasa. Peristiwa yang dialaminya menunjukkan betapa insting yang dipunyainya telah menaklukkan kesalehan yang dijaganya sepanjang hidup, seperti terlihat ketika ia memilih untuk membunuh penjahat demi menyelamatkan suami dan  masyarakatnya.

Seperti halnya kisah-kisah fiktif kelompok Quaker Amerika pada masa awal colonial, High Noon menggunakan sosok Quaker sebagai stock character. Keterlibatan dan penggunaan karakter tersebut bekerja sebagai rambu-rambu moral maupun sebagai peluang untuk mentransformasikannya menjadi karakter baru yang menggunakan kekuasaan dan kejahatan. Kisah Kane dalam film ini menegaskan betapa kekekerasan telah menundukkan pasifisme, lewat keterlibatan tokoh Quaker sendiri—Amy—yang dikenal dengan kayakinannya yang tak tergoyahkan.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.