Sabtu, Mei 15, 2021

Di Mana Keluarga Saat Si Anak Memperkosa?

Mempersoalkan Klaim Keselamatan Eksklusif [Menyambung Mun’im Sirry]

Tulisan ini berangkat dari pembacaan dari artikel Profesor Mun’im Sirry, "Memahami Ayat-Ayat Polemik dalam Bible” (Geotimes, 15 Juli 2016). Artikel itu berisi tentang ayat-ayat...

Bencana Asap dan Kejahatan Korporasi

Bencana asap kembali melanda Indonesia, lebih masif dari tahun lalu. Tahun 2015 ini kebakaran melanda Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah--dengan...

Buya Syafii dan Buya Azra: Obituari Abdul Malik Fadjar

Tidak hanya Muhammadiyah, tetapi juga bangsa ini telah kehilangan salah satu putera terbaiknya, Prof. Abdul Malik Fadjar. Tepat pada tanggal 7 September 2020, beliau...

Posisi NU dan Keseimbangan Sosial-Politik

Senar gitar itu kalau terlalu kencang akan mudah putus. Tetapi kalau terlalu kendor, suaranya akan sumbang. Maka, diperlukan sikap yang moderat, plus bacaan yang...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

perkosa”Seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak,” kata pepatah Nigeria. Kalimat ini kemudian dikutip Hillary Clinton, menjadi judul bukunya It Takes A Village pada 1996. Saat itu dia masih The First Lady Amerika Serikat.

Nyaris sama dengan pepatah Nigeria yang dikutipnya, buku itu menyoroti pentingnya peran lingkungan di luar keluarga untuk membesarkan anak. Seolah Hillary ingin mengingatkan publik Amerika Serikat yang kian individualis dan tak peduli pada pentingnya semangat gotong royong dalam mendidik anak. Sampai-sampai dia mengadopsi budaya Nigeria yang menganggap bahwa seorang anak merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata keluarga inti yang bersangkutan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohanna Yembise sempat dicerca netizen saat berkomentar atas kasus perkosaan dan pembunuhan Yuyun di Bengkulu. “Kasus Yuyun itu yang salah orangtua. Orangtuanya sudah beberapa hari di kebun. Bagaimana mau memperhatikan anak itu?” kata Yohana seperti dikutip banyak media.

Kontan publik kita mengecam keras komentar yang menyudutkan keluarga korban ini. Dari situ jelas terlihat, masyarakat Indonesia masih punya spirit kebersamaan ketika ada anak yang jadi korban mengenaskan. Bisa jadi memang tradisi asli kita tak jauh berbeda dengan Nigeria yang menganggap bahwa keluarga inti bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pembimbingan dan pendidikan pada anak. Ada keluarga besar, kemudian tetangga, lingkungan sekitar, dan sekolah. Semua sama-sama sangat berperan dalam membesarkan seorang anak.

Kasus perkosaan terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku anak remaja juga, menjadi bukti bahwa keluarga inti, keluarga besar, tetangga, lingkungan maupun sekolah sudah bersikap abai terhadap mereka. Semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, dan selalu faktor ekonomi menjadi alasan utama.

Jangankan di kota besar, di desa kecil seperti tempat tinggal Yuyun di Rejang Lebong, Bengkulu, pun warganya tersinyalir tak peduli pada pendidikan anak. Keluarga inti 14 remaja pelaku perkosaan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak tahu betapa nakalnya mereka selama ini.

Begitu juga keluarga besar mereka, paman, bibi, kakek, nenek. Mungkin mereka tahu kenakalan anak-anak itu, tapi cenderung meremehkan dan mengabaikan. Menganggap itu kenakalan biasa. Tetangga dan lingkungan sekitar pun setali tiga uang. Sekolah bisa jadi sudah putus asa, tak punya waktu untuk mencermati moral anak didiknya.

Kembali ke pepatah Nigeria, yang sesungguhnya juga berlaku di keluarga Indonesia zaman dulu. Ya, zaman dulu, sebelum bangsa kita terdegradasi oleh pesatnya kemajuan teknologi, hingga menganggap mengurus anak adalah memberikan mereka gadget terkini. Atau memberi mereka uang jajan agar merasa senang di mal bersama teman-teman. Kerisauan Hillary Clinton di tahun 1996 atas makin memprihatinkannya pola asuh warga Amerika sudah menjadi kerisauan saya atas publik Indonesia hari ini.

Nilai-nilai budaya kita kian terkelupas zaman. Idealnya, setiap orang dalam keluarga berpartisipasi dalam membesarkan seorang anak. Ayah, ibu, anak-anak yang lebih besar, mengasuh anak yang lebih kecil. Kemudian keluarga besar, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, ikut mengawasi si anak. Inilah budaya yang banyak berlaku di sistem kekeluargaan suku-suku di Nusantara sejak lama.

Maka, ada yang namanya rapat keluarga besar, untuk memutuskan solusi jika seorang anak terbentur masalah. Kemudian tetangga dan lingkungan sekitar pun turut serta membimbing si anak, sehingga kita mengenal istilah “Ketua Adat”, orang yang disegani di suatu lingkungan.

Sama seperti di suku-suku Nusantara, kelahiran seorang anak dirayakan secara spesial juga di suku-suku Afrika. Anak dianggap sebagai anugerah dari Tuhan bagi seluruh lingkungan. Maka, lingkungan itu bertanggung jawab atas pengasuhan si anak. “Tak cukup satu tangan saja untuk merawat anak,” demikian pepatah Swahili.

Sayang berjuta sayang, budaya luhur itu makin terlupakan di masa kini. Alih-alih kota besar, kota-kota kecil pun sudah membuat para ayah, ibu, paman, bibi, terperangkap dalam kesibukan mereka sendiri. Mencari nafkah sebanyaknya, memperluas koneksi bisnis, bersosialisasi sana-sini, hingga mereka kian jarang di rumah.

Dipikir, seorang anak bisa tumbuh baik dengan sendirinya di bawah pengawasan baby sitter, nanny, pembantu dari yayasan populer. Keluarga besar terpencar di kota-kota yang saling berjauhan. Tetangga? Bisa jadi tidak kenal. Sekolah pun hanya akan peduli jika SPP tertunggak atau nilai anak merosot, atau memberi teguran ala kadarnya pada kenakalan anak.

Lunturnya budaya “membesarkan anak bersama-sama” ini tak heran melahirkan generasi yang juga abai pada sekitarnya. Tak peduli ketika ada anak tetangga beramai-ramai menonton film porno. Merasa biasa saja saat segerombolan remaja pria menggodai perempuan belia. Ayah dan ibu mereka? Sedang sibuk pastinya. Paman dan bibi atau kakek dan nenek? Entahlah.

Jangan heran jika angka perkosaan dengan pelaku dan korban anak di bawah umur terus bertambah. Sebab, keluarga inti, keluarga besar, lingkungan, dan sekolah, kian bersikap abai terhadap perkembangan seorang anak. Kalau hal ini terus dibiarkan, seberat apa pun hukuman bagi pemerkosa anak, tidak akan memunculkan efek jera.

Ke mana gerangan spirit membesarkan anak secara bersama-sama seperti yang pernah berlaku di masyarakat kita? Apakah anak kian menjadi “produk tak disengaja” atau “produk tak diharapkan”, dan bukan anugerah dari Tuhan?

Ya, apa saja yang dilakukan sebuah keluarga saat ada anak-anak di bawah umur memperkosa sesamanya? Sungguh, sebuah fenomena yang sangat miris.

 

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.