Rabu, Juni 16, 2021

Bunuh Diri dan Keterasingan

Kontroversi Cadar, UIN Suka, dan Pelintiran Kebencian

Respons publik terhadap kebijakan Rektor UIN Sunan Kalijaga perihal pembinaan mahasiswi bercadar sangat semarak. Berbagai jenis tulisan dan ujaran yang menghiasi banyak kanal media...

Khalifah Sentris atau Ummah Sentris? [Bagian 3]

Di tulisan saya sebelumnya, saya menguraikan tentang realisme fikih siyasah yang lentur dan fleksibel. Dari perspektif fikih siyasah, kewajiban mendirikan khilafah tidaklah bersifat mutlak,...

Identitas Sosial, Terorisme, dan Dendam

Mungkin ada banyak orang yang beranggapan bahwa identitas sosial hanyalah sebuah label. Ia sekadar berfungsi selayaknya alat bantu untuk memudahkan orang lain mengenali siapa...

Mengenang Ahmad “Ate” Taufik

  "Tiadalah empat orang Muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke surga." Maka kami berkata: "Bagaimana jika cuma 3...
Avatar
Nadya Karima Melati
Coordinator and Researcher, Support Group and Resource Center on Sexual Studies, Indonesia. Menyukai belajar feminisme seperti menyukai dirinya sendiri.

Ilustrasi seorang laki-laki berupaya bunuh diri. [Shutterstock]
Sebelum dia menggantung dirinya sendiri, Naoko terlihat sehat sekali. Dia memotong rambutnya dan bicara banyak hal kepadaku, termasuk hubungan seksnya dengan kamu, Watanabe. Kemudian dia menangis mengatakan dia tidak mau siapa pun masuk ke tubuhnya lagi dan mengacaukannya dan aku menenangkannya sampai tidur.

Ketika aku terbangun ada notes bertuliskan, “Tolong berikan semua pakaian kepada Reiko-san.” Aku langsung mencari orang untuk mencarinya. Untuk dapat menemukannya perlu waktu lima jam, dan dia ternyata sudah membawa talinya sendiri.

Barusan itu adalah penggalan cerita Norwegian Wood karya novelis yang beberapa kali dinominasikan untuk mendapat Nobel Sastra, Haruki Murakami. Cerita tentang tokoh yang mati bunuh diri dalam sebuah roman memang sepertinya sudah sering sekali. Sebuah cerita memang menarik jika memiliki kisah tragis, seperti mengakhiri hidup atau cinta yang tidak dapat bersatu.

Mungkin itu formula agar sebuah kisah jadi laris manis. Bicara tentang bunuh diri, ada satu novel yang menarik lainnya tentang bunuh diri yang ditulis oleh Jay Arshen berjudul Thirteen Reasons Why. Membaca novel terakhir ini membuat kamu semakin depresi dan mampu mengaktifkan kehendak bunuh diri, jika kamu sudah memiliki bawaan passive suicidal thought.

Pada 10 September lalu, kita merayakan Hari Pencegahan Bunuh Diri se-Dunia. Apa yang kita ketahui tentang bunuh diri dan bagaimana bunuh diri dituturkan dari novel ke drama, ditambah bagaimana sudut pandang psikologi melihat gejala bunuh diri ini. Tulisan ini berusaha melihat sisi sosial tidak hanya psikologi untuk fenomena bunuh diri.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005, ada 50 ribu orang bunuh diri di Indonesia setiap tahun dan itu berarti 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri dalam satu hari. Cukup fantastis, bukan?

Atas kepedulian terhadap banyaknya kasus bunuh diri ini telah berdiri sebuah organisasi bernama Into The Light, yang berusaha memberikan informasi dan literasi untuk memahami tentang bunuh diri dan juga melakukan konseling pencegahan bunuh diri di Indonesia.

Konsep-konsep Keterasingan
Untuk itu, saya meminjam konsep keterasingan dari sudut pandang sosiologi. Emile Durkheim telah menulis buku berjudul Suicide. Seperti judulnya, buku ini memang menjelaskan tentang fenomena bunuh diri. Durkheim menyatakan, bunuh diri tidak hanya karena faktor psikologi tapi juga sosial. Faktor terasing dan kegagalan integrasi sosial seorang individu di masyarakat menjadi penyebab sosial terjadinya bunuh diri.

Durkheim membagi bunuh diri menjadi empat jenis: (1). Anomic Suicide (2). Altruism Suicide (3). Egoistic Suicide, dan (4). Fatalistic Suicide.

Anomic suicide adalah bunuh diri yang disebabkan oleh perasaan bingung karena keterputusan sosial dan tidak merasa menjadi bagian dari masyarakat. Saya sendiri merasa anomic suicide adalah bom waktu untuk beberapa orang yang memiliki gangguan kepribadian yang memicu passive suicidal thought.

Sedangkan altruism suicide adalah bunuh diri untuk pengorbanan seperti yang dilakukan penerbang pesawat terbang Jepang di masa Perang Dunia II, Kamikaze. Kita juga bisa melihat altruism suicide pada jihadis yang melakukan teror bom. Dalam motivasi yang sama dan kerangka yang berbeda, perilaku bom bunuh diri juga bisa dimasukkan dalam bunuh diri juga, kan?

Egoistic suicide terjadi karena perasaan terpisah dari lingkungan kerja, komunitas, dan ikatan sosial lainnya. Kematian Kizuki mungkin menjadi penyebab Naoko dalam Norwegian Wood merasakan keterasingan ini. Selain itu, banyak dari kita yang terpikir bunuh diri setelah kehilangan orang yang kita cintai, akui saja.

Terakhir, fatalistic suicide adalah keadaan di mana orang berpikir lebih baik bunuh diri karena tidak ada pilihan lain, seperti prajurit pada masa perang yang penuh dilema, atau ingat kisah 49 Ronin? 49 samurai tanpa daimyo memutuskan untuk bunuh diri massal setelah membalaskan dendam kematian tuannya.

Rasa terasing yang menjadi penyebab bunuh diri barangkali bisa menjadi sebab yang tidak bisa dipungkiri. Rasa terasing atau alienasi terjadi pada siapa saja. Karl Marx juga menjelaskan tentang konsep keterasingan ini. Keterasingan yang dialami para buruh terhadap produk yang dia hasilkan dan tidak bisa membeli hasil kerjanya sendiri.

Dalam teori feminisme, Julia Kristeva juga turut menjabarkan konsep keterasingan yang lebih dikenal dengan istilah abjeksi, yakni keterasingan terhadap sesuatu yang berasal dari diri tubuh dalam bentuk rasa jijik. Perasaan jijik muncul karena sesungguhnya kita terasing kepada muntah, tahi, pipis, dan darah menstruasi.

Dalam konteks perempuan, perempuan dianggap merasa jijik dan terasing dari tubuhnya sendiri, patriarki merebut kepemilikan tubuh perempuan. Tubuh perempuan tidak dimiliki oleh perempuan itu sendiri, melainkan masyarakat.

Masyarakat yang menentukan perempuan harus menggunakan pakaian apa. Berbagai argumen dilontarkan untuk membuat perempuan semakin terasing dari tubuhnya; mulai dari tafsir agama, pencegahan pelecehan sampai pencegahan terorisme. Perempuan terasing dengan bagian-bagian tubuhnya: payudara, pinggul, dan vagina di tubuhnya.

Walau begitu, mengapa angka bunuh diri perempuan lebih rendah daripada laki-laki?
Pertama, kita harus melihat bentuk-bentuk bunuh diri yang terjadi. Klasifikasi yang dilakukan Durkheim sangat membantu. Walau angka bunuh diri perempuan lebih rendah, bukan berarti tidak ada. Apakah masih hangat dalam kepala kamu kasus Putri, remaja asal Aceh, yang bunuh diri karena tidak tahan tekanan masyarakat yang menuduhnya sebagai pelacur?

Tekanan-tekanan dari masyarakat lebih nyata untuk memicu bunuh diri. Dan pemahaman sempit tentang konsep keterasingan penyebab bunuh diri oleh masyarakat awam sekadar konsep keterasingan para buruh yang dikemukakan Karl Marx. Dan agama menjadi opium, pengalih semu bagi rasa keterasingan yang membuat bunuh diri.

Untuk itu, kita sering sekali mendengar saran bagi teman yang mengalami depresi untuk “kembali pada agama” atau “coba ingat Tuhan”. Dan kadang, keinginan bunuh diri yang muncul dan diutarakan pada seseorang dianggap hanya sebuah becandaan, ancaman ingin mencari perhatian atau kurangnya ketakwaan kepada agama.

Keinginan Bunuh Diri Pasif dan Self Harm
Benny, konselor Into the Light, memberikan saya sebuah informasi yang amat menarik bahwa ada perbedaan antara self-harm dan passive suicidal thought. Passive suicidal thought adalah pikiran tentang bunuh diri dan perasaan bahwa tidak apa-apa jika mati esok hari. Untuk orang yang memiliki pikiran bunuh diri selalu berharap agar ia tidak bangun lagi jika ia tidur.

Biasanya, pemilik pikiran ini pernah melakukan percobaan bunuh diri atau paling tidak pernah mengutarakan keinginannya untuk bunuh diri kepada teman terdekatnya. Pasive suicide thought juga bisa jadi karena ada bawaan gangguan kepribadian seperti bipolar, major depresi, asperger, panaroia, atau post traumatic disorder (PTSD). Jangan sepelekan jika Anda memiliki teman seperti ini, karena kepasifan tersebut bisa mudah berubah menjadi aktif jika terjadi sesuatu yang menggoncang dirinya.

Sedangkan self-harm adalah perlakuan menyakiti diri sendiri bisa dengan mencakar, mengigit, membakar, memukulkan badan/kepala, menggunting, mengiris pergelangan tangan dengan benda tajam dan lainnya yang menimbulkan luka. Beberapa hal menyakiti diri sendiri menjadi pilihan untuk lari dari risiko hidup, tapi kebanyakan tidak berakhir dengan bunuh diri.

Meski amat jarang berakhir dengan mengakhiri hidup, self-harm mampu mengubah reaksi otak dan menyebabkan kecanduan melukai dan menyakiti diri sendiri. Kecanduan ini kadang dijadikan alasan untuk mencari perhatian bahkan mengancam.

Hal yang membedakan keduanya adalah intensi. Saya pernah berbincang dengan teman yang pernah melakukan percobaan bunuh diri kenapa dia gagal melakukannya. “Bunuh diri butuh keberanian. Ketika itu gue sudah beli tali dan bersiap untuk menggantung diri dan gue menyadari bahwa gue tidak punya keberanian itu. Tapi, jika suatu hari keberanian gue sudah terkumpul, mungkin gue akan melakukannya,” begitu katanya.

Akhirnya keterasingan-keterasingan yang dialami harus diatasi. Menerima keadaan dan mencoba memahaminya adalah salah satu upaya. Kita belum menyebutkan bagaimana peran negara menyikap perilaku bunuh diri warganya. Beberapa negara melalui otoritasnya membiarkan dan menjadi dalang dari bunuh diri. Negara yang diwakili elite sering sekali tidak memahami konteks sosial dan keterasingan bunuh diri.

Ketika negara hanya melihat warganya sebagai sumber daya manusia yang bisa dieksploitasi, negara menganggap bunuh diri adalah sekadar permasalahan psikologis personal. Dan dengan pemahaman sesempit itu pun tidak juga ada kemudahan atau bantuan, seperti subsidi obat-obatan bagi pengidap gangguan kepribadian/mental ataupun psikolog/psikiater yang mumpuni di tiap daerah.

Dan pada akhirnya, tulisan ini akan saya tutup dengan potongan lirik lagu dari System of A Down berjudul Chop Suey, “I don’t think you trust in my self-rightous to suicide.”

Avatar
Nadya Karima Melati
Coordinator and Researcher, Support Group and Resource Center on Sexual Studies, Indonesia. Menyukai belajar feminisme seperti menyukai dirinya sendiri.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER