Sabtu, April 17, 2021

Bendera ISIS, Bendera Islam?

Pendidikan di Tengah Covid-19

Dampak Covid-19 sangat luas, menguncang semua sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor pendidikan. Banyak persoalan muncul, mulai dari banyaknya mahasiswa yang terancam tidak dapat melanjutkan...

Syekh Hasyim Asy’ari dan Spirit Hari Santri

Tanggal 22 Oktober yang dikukuhkan dan dideklarasikan sebagai Hari Santri oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah momentum untuk menghidupkan kembali salah satu peran...

Bom Oikumene dan Jihad sebagai Jalan Hidup, Bukan Mati

Minggu, 13 November 2016, bom molotov dilemparkan oleh seorang berkendara motor ke Gereja Oikumene di Samarinda. Pelaku yang ditangkap dalam kondisi luka, mengenakan kaos...

Tantangan Pendidikan Dasar Era Digital

Pendidikan dasar kita menjadi aktor penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia masa depan. Di tengah persoalan bangsa yang semakin kompleks antara lain disebabkan semakin melemahnya...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

bendera-isis-okHari-hari ini kita kembali diributkan oleh pemberitaan tentang simbol palu arit. Mulai dari polisi dan tentara yang menyita kaos bergambar lambang palu arit, buku-buku berorama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ditemukan ataupun dijual di toko-toko di banyak tempat hingga kasus warga asing asal Rusia di Bali yang diamankan karena mengibarkan bendera palu arit.

Entah bagaimana tiba-tiba orang-orang yang menggunakan lambang palu arit dicurigai dan ditangkap aparat karena dianggap menggunakan atribut PKI, partai yang sudah lama bubar dan “haram” di Indonesia. Ada banyak pro dan kontra, terutama terkait tindakan aparat tersebut.

Mereka yang kontra menganggap tindakan aparat berlebihan, apalagi sampai menyita buku-buku yang dianggap berbau PKI. Tindakan aparat dikritik sebagai akibat dipengaruhi oleh kuatnya doktrin masa lalu rezim Orde Baru.

Lambang palu arit muncul dalam Revolusi Rusia pada 1917 yang melambangkan kaum pekerja dan petani. Lambang ini terus digunakan sebagai lambang komunisme di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kaos bergambar palu arit yang disita di pasar di Jakarta, misalnya, ternyata tidak terkait dengan PKI. Gambar kaos tersebut diambil dari sampul kaset band  Kreator, grup musik beraliran metal tahun 90-an. Sementara WNA Rusia yang diamankan aparat di Bali ternyata mengibarkan bendera Uni Soviet yang memang ada lambang palu aritnya. Dan dia tidak tahu jika simbol palu arit merupakan “barang haram” di Republik ini.

Pro dan kontra menyikapi lambang palu arit adalah lambang bendera PKI mengingatkan saya dengan bendera hitamnya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang beberapa waktu lalu juga memicu pro dan kontra di masyarakat. Ketika itu masyarakat didukung aparat sempat gencar menghapus simbol-simbol yang identik dengan bendera ISIS. Di Solo, polisi juga menurunkan bendera ISIS yang dikibarkan orang tidak dikenal. Banyak kasus aparat menyita bendera ISIS dan menangkap dan memeriksa pemiliknya.

Meski tindakan aparat yang menyita bendera ISIS dan menghapus simbol-simbl ISIS itu didukung masyarakat, ada juga pihak-pihak yang menentangnya dengan alasan itu bukan simbol ISIS. Sesuai dengan kalimat dan simbol dalam bendera warna hitam tersebut, bahwa itu simbol/bendera Islam. Benarkah?

Dalam bendera warna hitam yang dipakai ISIS itu, ada dua hal yang mencolok. Pertama, tulisan Arab berwarna putih di bagian atas bendera, itu adalah kalimat syahadat, Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan Selain Allah).

Sedangkan di bagian tengah bendera itu tiga kata dalam warna hitam yang diurut dari atas ke bawah: Allah, Rasul, Muhammad. Jika di baca dari bawah adalah Muhammad Rasulullah yang artinya “Muhammad Utusan Allah”, sebagai tiga kata dalam syahadat. Simbol ini dikenal sebagai segel atau stempel Nabi.

Konon, Nabi Muhammad menggunakan segel itu pada surat-surat beberapa abad lalu saat mengajak raja-raja Persia, Romawi Timur, dan Mesir untuk memeluk Islam. Salinan surat Nabi Muhammad SAW dari stempel tersebut disimpan di Istana Topkapi, Turki.

Kalimat syahadat digunakan juga pada bendera nasional Kerajaan Arab Saudi. Hanya saja kalimat itu tidak pernah ditulis dengan latar belakang hitam, melainkan dalam kaligrafi Arab. Berbeda dengan tulisan syahadat dalam bendera ISIS yang dibuat seolah alami tulisan tangan untuk mengesankan tulisan itu tua dan mistis.

Jadi, dalam bendera hitam ISIS tersebut termuat syahadatain (dua syahadat): Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad Utusan (Rasul) Allah. Asiem El-Difraoui pengarang buku The Jihad of Images menegaskan, “ISIS berhasil membajak simbol agung umat Islam.”

Jika kita pernah menonton video klip lagu berjudul Muhammad (PBUH) yang dinyanyikan oleh artis pop asal Swedia berdarah Libanon, Maher Zain, kita akan menemukan simbol stempel Nabi Muhammad (yang kini dipakai ISIS dalam benderanya). Di video klip tersebut Maher Zain memperlihatkan cincin replika Nabi yang ia kenakan. Bahkan di bagian akhir video klip ditutup dengan gambar simbol cincin Nabi dengan layar hitam. Lagu tersebut diluncurkan pada 2011  dalam album Maher Zain bertajuk Forgive Me.

Saya menyukai video klip dan hafal lagu itu. Saya bahkan membeli cincin seperti yang dikenakan Maher Zain saat lagu itu masih nge-hits. Saya dapatkan cincin itu di Mekkah, Arab Saudi. Di Arab Saudi, khususnya di tanah suci, ketika itu memang banyak toko-toko perhiasan menjual cincin replika Nabi. Tapi kini cincin ala segel Nabi itu menghilang di toko-toko di tanah suci, seiring simbol tersebut diselewengkan ISIS jadi benderanya. Cincin itu kini saya simpan.

ISIS bukan satu-satunya militan yang menggunakan bendera hitam itu. Selain ISIS, ada militan radikal lain yang juga menggunakan bendera persis seperti bendera ISIS. Misalnya kelompok Al-Shabab di Somalia dan Al-Qaidah Jazirah Arab (Yaman). Tapi kedua militan ini bermusuhan dengan ISIS.

Meskipun menggunakan kalimat syahadat ditambah simbol segel Nabi dalam benderanya, tak otomatis itu menjadi bendera Islam. Menurut saya, mengada-ada jika ada pihak-pihak yang mendengungkan itu bendera Islam atau tauhid. Itu bendera ISIS karena ISIS sendiri yang mendesainnya.  Sama seperti bendera Arab Saudi yang juga menggunakan kalimat syahadat, bukan berarti itu bendera Islam. Tetap saja itu bendera nasional Arab Saudi.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.