Senin, April 19, 2021

Apa Bagusnya Nonton Sidang Jessica?

Ahok, Penistaan Agama, dan Defisit Percaya Diri Kaum Muslim

Gelombang demonstrasi yang akan dimobilisasi Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok Islam garis keras lain menggambarkan defisit percaya diri kaum Muslim yang kian akut....

Muhammad: Dilahirkan Sekali, Setelah Itu Abadi

Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa rahmat bagi alam semesta dan seisinya. Bahkan sebelum putra Abdullah dan Aminah ini dilahirkan, namanya telah tersiar di...

Meng-FPI-kan HMI, Meng-HMI-kan FPI

ilustrasi (doc. 2.bp.blogspot.com) Tidak terlalu lama sebelum pembubaran diskusi Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pekanbaru yang bekerja sama dengan Jaringan Aktivis Filsafat Islam (Jakfi) terberitakan, dalam...

Ancaman Global ISIS di Indonesia

Terorisme Beirut-Paris adalah bagian pementasan panjang Islamic State (IS) yang diakhiri dua babak kontras: satu dilakukan pada pengungsi Palestina dan Syiah di Beirut (12/11),...
Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

“Justru berita kematian yang saya inginkan akan ada di halaman pertama koran…”

Sekelumit dari humor-humor jenaka yang dikumpulkan dalam Mati Ketawa Daripada Rusia ini sedikit banyaknya menggambarkan bagaimana sebuah tragedi diciptakan dalam media. Dalam buku tersebut pula, ada argumen yang sangat mengena: jika hal buruk terjadi pada masyarakat, itu sial—sementara yang terjadi pada pejabat negara adalah tragedi.

Tersangka kasus pembununan Mirna Salihin, Jessica Wongso (kiri), bersama para kuasa hukumnya mendengarkan keterangan saksi dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Mirna Wayan Salihin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (31/8). Dalam sidang tersebut, JPU hanya sanggup menghadirkan satu saksi ahli, yaitu ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM),Budi Sampurna, dari tiga saksi ahli yang dijadwalkan hadir dalam persidangan. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/pd/16.
Tersangka kasus pembununan Mirna Salihin, Jessica Wongso (kiri), bersama para kuasa hukumnya mendengarkan keterangan saksi dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Mirna Wayan Salihin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. [ANTARA FOTO/ Rosa Panggabean]
Jika berkaca pada siaran televisi, koran, hingga media digital, tentu memang benar. Jika sudah berada di tahap figur publik, maka segala hal baik akan dirayakan dengan parade. Pula dengan duka yang diisi dengan isak tangis yang penuh duka. Semuanya harus jadi perayaan nasional.

Dalam sebuah kisah, ia mampu memonopoli sebuah siaran televisi dengan pernikahan sepasang selebritas hingga berhari-hari. Sampai-sampai harus membuat kru televisi pusing karena rundown acara televisi yang telah tertata rapi harus dirombak. Di kisah lainnya, wafatnya seorang figur publik kemudian dijejalkan agar kita turut ditayangkan berhari-hari. Dan untuk mempertegas rasa sedih itu, umumnya, akan menanyakan sang figur ke berbagai kalangan. Mulai yang berhubungan hingga yang tak ada hubungannya.

Jika menyaksikan semua itu, kasus Mirna—menghadirkan Jessica sebagai karakter antagonis—muncul sebagai sebuah anomali. Kasus ini, misalnya, tak begitu penting sesungguhnya. Kemudian kasus ini memang mencengangkan. Namun, di balik kasus-kasus ketidakadilan yang ditutup-tutupi oleh negara hingga kasus yang pernah ditayangkan persidangannya di televisi seperti kasus Gayus, tentu tak ada keharusan kenapa satu negara harus tahu Jessica bersalah atau tidak.

Sangat janggal, misalnya, menyaksikan televisi negeri ini kemudian memberikan porsi khusus dengan tajuk “Breaking News” terhadap kasus ini. Dalam Media dan Kekuasaan-nya Ishadi SK, disebutkan bahwa media sendiri memang tak sesuci apa yang kita pikirkan. Ada berbagai hal yang dapat berkonfrontasi antara satu dengan yang lain. Antara jurnalis dan kebijakan media itu sendiri. Maka, pertanyaan seperti “Are you news man or businessman” adalah pilihan yang sungguh sangat dilematis.

Kasus Mirna dan drama sianida ini tentu sudah sampai di tahap hiperbola yang sangat menggelikan. Mulai dari opini psikologi yang sangat nonsense—mengatakan bahwa dari cara menaruh bungkusannya, Jessica sudah patut dicurigai. Atawa tentang bagaimana isu sianida ini dikomersialisasi dalam wujud siaran sinetron yang kemudian menggunakan sianida sebagai olok-olok dan kopi sachet yang sempat viral dengan tajuk “bebas sianida”.

Tentu hal-hal ini kemudian mengantarkan kita kepada dua hal jika mengacu kepada publisitas dari isu ini: sianida itu berbahaya dan Jessica jelas bersalah, kendati belum adanya keputusan hukum.

Lalu, apa faedahnya untuk mengetahui apakah Jessica bersalah atau tidak? Tentu dengan mengetahui apakah Jessica bersalah takkan berdampak pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sempat melonjak hingga Rp 15 ribu lebih dahulu. Mungkin betul bahwa pemberitaan model ini akan menggambarkan borok dari hukum negeri kita jika pada akhirnya Jessica tak bersalah.

Namun, apakah sudah sering kita menyaksikan hal semacam itu? Pun terjadi sebaliknya, hal ini takkan membuat kita berhenti skeptis karena masih kelewat banyak ketidakadilan yang belum terungkap di negeri ini.

Kasus Mirna dan persidangan Jessica terlalu digembar-gemborkan seperti Liga Inggris mendaku sebagai liga terbaik di dunia. Apa yang ditunjukkan dalam persidangan Jessica adalah gambaran seberapa kuatnya media mengontrol isu yang kita bicarakan sehari-hari. Ia bisa membuat Jessica—yang tak dikenal—menjadi seorang yang dibicarakan seantero negeri. Secara masif semua orang mengetahui apa yang terjadi pada kasus ini.

Hal ini didukung pula dengan banjir bandang informasi yang terjadi di era kini. Akses yang cepat dan budaya komentar kita yang ligat membuat proses framing bisa terjadi. Kendati banjir, sayangnya, media kerapkali hanya satu suara terhadap suatu isu yang terjadi. Hanya bersifat afirmatif terhadap premis yang telah dibuat.

Tentu memang betul bahwa karakter bangsa kita memang suka hiperbola dan terpancing atas isu apa pun dengan meresponsnya secara berlebihan. Akan tetapi, kiranya kurang bijak bilamana menggunakan media hanya untuk menggunakan alat “trial by the press”—upaya media hanya menyudutkan satu pihak dengan memberikan argumen yang sifatnya bias—terhadap isu yang sesungguhnya bisa dieksplorasi agar masyarakat lebih teredukasi.

Semisal menekankan pada kandungan sianida mengapa ia berbahaya—daripada membuat publik awam menduga-duga tanpa mengerti sepenuhnya apa yang terjadi sebenarnya.
Bagi saya, tentu tetap saja kembali lagi ke awal: yang membuat aneh dari kasus ini adalah bahwa Mirna dan Jessica bukan siapa-siapa pada mulanya.

Jika mengacu pada pernikahan selebritas dan acara liga-liga top Eropa yang ada kaitannya membayar dan dibayar, kasus Mirna dan persidangan Jessica sendiri jelas untung dalam eksposur macam ini. Atau jangan-jangan, selama ini Jessica membayar/dibayar sehingga patut diberitakan hingga berhari-hari?

Entahlah, saya sudah pusing—saya masih mencari ide penelitian untuk skripsi saya apa—jangan buat saya tambah pusing!

Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.