Minggu, April 18, 2021

Antivaksin: Menolak Umara dan Ulama

Ceramah Salib Somad dan Pentingnya Pemahaman Antar-Iman

Dalam sebuah video viral di media sosial, Somad atau Ustaz Abdul Somad (UAS) menjawab pertanyaan jemaah, “Apa sebabnya ustaz kalau saya menengok salib, menggigil...

Kapolri Baru dan Nasib Papua

Apakah Papua penting bagi Anda? Jika ya, maka kehadiran Kapolri baru perlu Anda cermati secara seksama, karena sebagian besar persoalan Papua dibebankan di pundak...

Seperti Soesilo Toer, Mari Jadi Pemulung

Di media sosial banyak orang share berita tentang Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, yang jadi pemulung sampah. Mukim di Blora, Jawa Tengah, Pak...

Ahok, Fahri Hamzah, dan PKS: Antara Moral dan Citra

Salah satu yang paling dikeluhkan dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah komunikasinya yang keras, selain statusnya yang non-Muslim. Ia kerap mengeluarkan...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Wabah penyakit karena virus seperti campak dan rubela menyerang berbagai tempat. Bagi saya yang tumbuh besar di zaman Orde Baru, situasi ini terasa sebagai sebuah kemunduran besar. Di masa Orde Baru bisa dipastikan anak-anak sampai ke daerah pelosok mendapat imunisasi, khususnya terhadap penyakit cacar. Anak-anak yang lahir di dekade 60-70 semua memiliki tanda bekas koreng di lengannya, sisa imunisasi. Kini bahkan anak-anak di kota banyak yang tidak diimuninasi, kemudian terserang penyakit.

Apa masalahnya? Satu hal yang berubah cukup mendasar adalah menurunnya kinerja pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan kesehatan masyarakat. Harus diakui bahwa administrasi pemerintahan zaman Soeharto yang bersifat top-down cukup efektif dalam mengeksekusi hal-hal semacam ini. Demokratisasi mengendorkan iklim itu di tubuh birokrasi, dan sisi buruknya adalah menurunnya kinerja.

Soal lain adalah soal kepatuhan pada pemerintah. Reformasi dan demokratisasi membuka peluang pada anggota masyarakat untuk bersuara bertentangan dengan pemerintah. Tidak ada lagi kepatuhan berbasis tekanan. Orang bisa bebas bicara dan bersikap. Sayangnya, kebebasan itu seringkali tidak dilandasi pengetahuan dan kadar intelektual yang memadai.

Dalam hal vaksin, muncul kelompok-kelompok antivaksin. Mereka menganggap vaksin itu haram, karena ada bagian dalam prosesnya yang melibatkan enzim yang berasal dari babi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri menyatakan bahwa vaksin itu tidak halal. Sudah cukup lama MUI terus mengumandangkan keberatan soal vaksin, dan terus menuntut pemerintah untuk mengusahakan adanya vaksin halal.

Masalahnya, membuat vaksin halal itu tidak mudah. Bukan hanya soal vaksin sebenarnya. Dalam soal enzim secara keseluruhan, memang sulit untuk mendapatkan enzim yang bukan dari babi. Ada alternatif misalnya dengan memakai sumber-sumber dari sapi, tapi hasil yang didapat sangat sedikit, sehingga produktivitasnya rendah, dan harganya jadi sangat mahal.

Masalah itu masih ditambah lagi dengan informasi sesat berbasis teori konspirasi sesat. Banyak orang menyebarkan isu bahwa vaksin itu tidak hanya dibuat dari zat haram, tapi juga dibuat dengan tujuan untuk mencelakakan umat Islam. Dengan vaksin umat Islam akan bodoh, gampang kena penyakit, dan akan disingkirkan dari kehidupan. Mereka akan gampang dijajah.

Ada orang-orang yang dengan enteng menyebarkan kabar bohong semacam itu dari mimbar-mimbar masjid dan pengajian. Itu dipercayai oleh sebagian umat, sehingga mereka enggan memakai vaksin. Menolak vaksin sudah menjadi sesuatu yang ideologis. Mereka yang menolak ini biasanya juga beranggapan bahwa pemerintah sekarang adalah pemerintah yang jahat terhadap umat Islam, dan sedang menjalankan agenda jahat kaum kafir melalui vaksin. Ringkasnya, antivaksin nyaris identik dengan antipemerintah.

Ketika keadaan sudah cukup genting barulah MUI bersuara. Bagi saya, suaranya tidak cukup meyakinkan. Menurut MUI, vaksin yang ada saat ini tetap haram. Hanya saja, MUI memfatwakan keadaan darurat, yang membolehkan orang memakai barang haram sekalipun. Fatwa itu disampaikan setelah keadaan cukup parah.

Apakah efektif? Saya khawatir tidak. Mudah-mudahan saya salah. Orang sudah telanjur terpaku pada pesan pertama, yang selama ini digaungkan oleh MUI. Sikap MUI selama ini lebih menekankan bahwa vaksin itu haram, dan mendorong pemerintah untuk mencari alternatif. Mendorong tanpa menyadari kesulitannya.

Di tengah masyarakat yang sudah terbiasa dengan pola pikir menolak vaksin akibat sikap MUI itu, tidak mudah untuk membuat mereka tiba-tiba menerima perubahan sikap MUI tadi. Menerima sesuatu yang diharamkan dengan alasan darurat itu ibarat mnyuruh orang melompat dari gedung tinggi saat ada kebakaran. Mereka enggan, meski di bawah sana sudah disediakan jaring pengaman.

Di sisi lain, sudah makin banyak pula orang-orang yang menganggap MUI tidak perlu didengar. Paradoks? Ya, sekilas terdengar seperti paradoks. Tadi dikatakan ada orang-orang yang terpengaruh oleh sikap MUI, tapi juga dikatakan menolak sikap MUI. Memang begitulah kenyataannya. Dalam banyak kasus, orang bisa bersikap seenaknya terhadap MUI. Ketika MUI mengatakan sesuatu yang sesuai dengan preferensi, mereka mematuhinya, dan memakai nama MUI sebagai pembawa label otoritas. Ketika tidak sesuai, mereka dengan enteng menolaknya. Rumit memang.

Benarkah vaksin itu dibuat dengan memakai bahan dari babi? Ini soal kesalahan memaknai sesuatu. Orang tidak membuat vaksin dengan bahan daging babi. Yang dipakai adalah sesuatu yang ada di level molekuler. Itu pun bukan sesuatu yang diambil dari babi kemudian langsung dipakai. Babi hanyalah “starting material”. Molekul yang diambil dari babi, direaksikan melalui serangkaian reaksi kimia yang panjang, yang mengubah susunan asalnya. Meski berasal dari babi, bisa dikatakan zat itu sudah berbeda dari zat yang ada di tubuh babi, karena molekulnya sudah berubah.

Dalam contoh fikih, jus buah bisa mengalami fermentasi sehingga jadi memabukkan. Jus tadi menjadi haram. Kenapa haram, padahal asalnya adalah halal? Karena sudah mengalami reaksi kimia yang mengubah wujud kimia asalnya. Selanjutnya jus itu bisa berubah lagi menjadi cuka yang tidak lagi memabukkan, sehingga menjadi halal.

Anak-anak SMA pun diajari soal reaksi kimia, yaitu proses perubahan ikatan antaratom penyusun bahan. Besi itu bahan yang bisa ditarik oleh magnet. Tapi ketika ia mengalami oksidasi, yang kita kenal dengan karat, ia tak lagi ditarik oleh magnet. Oksidasi, sebuah reaksi kimia, telah mengubah sifatnya. Besi tadi bukan lagi besi. Demikian pula seharusnya molekul yang tadinya diambil dari tubuh babi. Setelah mengalami sejumlah reaksi kimia, secara molekuler ia bukan lagi substansi yang ada di tubuh babi.

Sayangnya para pakar di MUI tidak mau mengambil sikap ini. MUI tetap bertahan dengan sikapnya bahwa vaksin itu haram. Meski menambahkan keterangan bahwa boleh dipakai dengan alasan darurat, tetap saja pesan “haram” tadi jauh lebih kuat.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.