Jumat, April 23, 2021

Air dan Kekacauan Mental

Kebebasan Berekspresi, Potret Kemalasan Berpikir?

Waspada, kelak merundung alias mem-bully di internet akan bisa berakhir di bui hingga 12 tahun. Lebay? Itulah draf Rancangan Undang-Undang Revisi UU Informasi dan...

Merayakan Toleransi

Terlalu banyak identitas yang gampang dilekatkan pada seseorang ataupun kelompok. Dari label agama, etnis, hingga hal-hal yang sifatnya remeh temeh. Semuanya adalah kesamaan pada...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Nalar Antiradikalisme

Sejumlah barang miliik pria berinisial CH yang diduga sebagai pendukung ISIS berhasil diamankan di Kodim 0701/Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (29/1). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria. Pemerintah terus...
Hamid Basyaib
Aktivis dan mantan wartawan; menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.

Jika seseorang mulai terlihat pelupa, mudah bingung, gelisah, emosinya tidak stabil, gampang tersinggung, bahkan merasakan nyeri dada, apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada dia?

Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran biasanya menjawab: mungkin ada tumor di otak orang itu, mungkin juga itu gejala Alzheimer. “Salah,” kata Dr. Arnaldo Lichtenstein, dari Universitas Sao Paolo, Brazil.

Ada tiga kemungkinan penyebab yang paling lazim, katanya: diabetes yang tak terkendali, infeksi saluran kemih, dan, ini yang paling mengejutkan dan mudah kita atasi: dehidrasi alias kekurangan cairan tubuh.

Pada usia 50, cadangan cairan di tubuh manusia bisa berkurang hingga 50 persen. Masalahnya: kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. Tampilan fisik mereka pun biasa saja, seolah tak ada problem apapun. Tapi di level mental, dehidrasi bisa berakibat fatal. Terjadi ketimpangan mekanisme internal.

Karena tidak merasakan sesuatu yang buruk, orang tidak merasa perlu minum banyak cairan untuk mengkompensasi defisit cairan yang alamiah itu. Mereka jarang minum. Lagi pula, mereka memang jarang haus. Jadi tidak ada dorongan untuk minum. Keluarganya pun, karena tidak mengerti dampak buruk dari kekurangan cairan tubuh, tidak mengingatkan pentingnya mengkonsumsi cairan (bisa air, buah-buahan, teh, dan sebagainya).

Kepada mereka yang mulai memasuki usia 50, Dr. Lichtenstein menyarankan: minumlah air (atau cairan lainnya) setidaknya dua jam sekali. Jika orang tersebut lupa, orang lain atau keluarganya penting sekali untuk mengingatkannya.

Dengan tindakan sederhana itu Anda bisa terhindar dari kekacauan mental, termasuk ketidakmampuan berpikir jernih — yang intensitasnya berbeda-beda.

Jika usia Anda di bawah 50, membiasakan diri minum banyak cairan pun tentu saja sangat baik. Enampuluhan persen tubuh kita berupa cairan. Menurut H.H Mitchel dalam Journal of Biological Chemistry 158, otak dan hati terdiri dari 73 persen air; paru-paru 83 persen, otot dan ginjal 73 persen. Bahkan 31 persen bagian dari tulang adalah air.

Logis sekali jika tubuh kekurangan elemen terbesar itu, apalagi hingga separuhnya seperti terjadi pada usia 50 (dan bisa terus berkurang jika ini tidak diatasi!), organ kita — terutama otak — berfungsi kurang dari separuh kapasitasnya.

Itulah penyebab pasangan Anda, orangtua, kerabat, dan mungkin Anda sendiri, suka uring-uringan, mengomel, gelisah, cemas, gampang lupa, mudah marah — ringkasnya: bermental kacau.

Hamid Basyaib
Aktivis dan mantan wartawan; menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.