Selasa, April 20, 2021

Tentang Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Jilid II

Sudah Mabrurkah Hajimu?

“Semoga menjadi haji mabrur!” Inilah doa yang selalu kita panjatkan pada saat mengetahui ada teman, sahabat, atau keluarga yang berangkat ke tanah suci untuk...

Mengkaji Apa itu Islam

Pertanyaan apa itu Islam dan apa itu islami, penting dan aktual buat kita di Indonesia, yang berdebat apakah orang itu Muslim, atau kafir; apakah...

Guru Spiritual dan Candu Popularitas

Dalam buku Ragawidya: Religiusitas Hal-hal Sehari-hari, YB. Mangunwijaya menempatkan religiusitas sebagai salah satu dimensi—selain religi dan religius—yang paling pokok dalam kehidupan kita. Sebab, religiusitas...

Lagi, Puasa dan Kesinambungan Agama

Tema ini sudah menjadi perbincangan luas setiap Ramadhan dan saya tak yakin ada hal menarik lain yang dapat saya tambahkan. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa...
Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Belakangan ini saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang berhimpun di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Kami mendiskusikan berbagai problema, isu-isu mutakhir, guna menyegarkan kembali wacana pemikiran Islam yang dirasa mulai lesu di organisasi berlambang matahari terbit ini.

Dulu, kelahiran JIMM oleh sebagian kalangan warga Muhammadiyah dituduh sebagai komunitas yang tidak sesuai dengan “suara resmi” Muhammadiyah. Keberadaannya dianggap sebagai “benalu” yang harus disingkirkan.

Mereka menilai, secara teologis JIMM sudah keluar dari sumber otoritatif Islam, yakni al-Qur’an dan Hadis. Dan tentu masih banyak stigma negatif lain yang disematkan kepada JIMM yang anggotanya dari kaum muda terdidik.

Nah, sebagai komunitas yang tidak ada hubungan secara struktural dengan Muhammadiyah—sekalipun personel-personel JIMM aktivis Muhammadiyah—kiprah intelektual JIMM tidak bisa dianggap enteng.

Sudah banyak karya akademik yang lahir dari rahim intelektual anak-anak muda ini. Tak heran, jika Intelektual sekaliber Buya Syafii Maarif, Moeslim Abdurrahman (almarhum, lahu ’l-fatihah) dan Amin Abdullah, tiada henti-hentinya mendorong anak-anak muda progresif ini untuk terus berkarya dan melakukan terobosan intelektual.

Anak-anak muda ini terus mendorong agar Muhammadiyah membuka diri terhadap pikiran-pikiran progresif, sehingga tidak menjadi organisasi Islam yang eksklusif-tekstualis. Anehnya, sejauh yang saya lihat, para elite Muhammadiyah belum memberikan ruang kebebasan sepenuhnya untuk berwacana dan mengekpresikan ide-idenya.

Dan, saya kira, karena alasan itulah kaum muda Muhammadiyah lebih memilih ”jalan lain” di luar organisasi, meskipun juga tak berarti terhindar dari benturan-benturan dengan kelompok konservatif yang berada di internal Muhammadiyah.

Sisi lain, kondisi yang tampak adalah kurangnya intensitas pertemuan antara generasi muda dengan generasi tua. Bahkan ada kesan generasi tua merasa sudah begitu senior, bahkan lebih superior dibanding generasi mudanya.

Sangat wajar jika sampai hari ini ketegangan antara kaum tua yang lebih puritan dan kaum muda yang lebih dinamis masih sangat terasa. Kondisi seperti ini seharusnya tak boleh terjadi, sebab masa depan Muhammadiyah tak cukup dibebankan hanya kepada kaum tua.

Perkembangan wacana pemikiran Islam yang demikian cepat makin menjelaskan bahwa gaya konservatif tidak lagi memadai untuk merespons masalah aktual yang terus bergulir. Lambatnya kaum konservatif Muhammadiyah merespons masalah-masalah aktual, salah satunya disebabkan oleh adanya monopoli tafsir. Kecenderungan ini merupakan kensekuensi logis dari klaim kebenaran yang menyebabkan sakralisasi terhadap tafsir keagamaan.

Anak-anak muda ini terus melakukan terobosan dengan mengangkat gerakan intelektual di tengah arus perubahan politik yang demikian cepat. Merumuskan kembali prinsip purifikasi dan dinamisasi Islam dengan berbagai problem dan perkembangan zaman.

Anak-anak muda Muhammadiyah perlu kembali mewarnai kembali tradisi progresif-liberal KH Ahmad Dahlan sebagai the founding father Muhammadiyah. Mereka perlu melanjutkan ijtihad kaum modernis pada level yang lebih populis.

Saatnya, Muhammadiyah mempelopori kembali gerakan pembaharuan keagamaan dan transformasi sosial di Indonesia. Segera!

Kolom terkait:

Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam: Dimulai dari Mana?

AM Fatwa adalah Api di Luar Sekam

Darurat Demokrasi, Anti-Intelektualisme, dan Moralitas Budak

Muhammadiyah dan Tantangan Jihad Digital

Menjadi Muhammadiyah Milenial

Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.