OUR NETWORK
Jumat, Desember 3, 2021

Menasehati Tokoh Agama Lebih Sulit, Padahal Ilmu Mereka Juga Terbatas

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Baru-baru ini pimpinan PBNU, Kyai Said secara publik mengeluhkan adanya kyai-kyai yang masih tidak percaya Covid-19. Bayangkan, pernyataan ini dikeluarkan oleh seorang pimpinan organisasi terbesar Islam di Indonesia bahkan di dunia. Kyai-kyai yang seharusnya menjadi garda depan menyadarkan umat akan bahaya Covid-19 malah berbalik tak meyakininya. Tidak hanya pada Covid-19, mereka juga yakin pada manfaat vaksinasi sebagai jalan menghadapi bahaya Covid-19. Vaksin dianggap sebagai barang rekayasa, penetrasi asing dan sengaja dibuat untuk membunuh orang Indonesia.

Keadaan yang dikeluhkan oleh Kyai Said di atas sangat membuat kita prihatin. Sudah barang tentu, ini bukan sikap keseluruhan para kyai-kyai atau tokoh agama. Saya mencoba melihat masalah ini dari kacamata sosiologis dan politik. Tapi, sikap mereka atas Covid-19 dan vaksin di atas itulah yang memang menghinggapi sebagian para kyai.

Hal inilah yang memang cermin para pimpinan agama kita, yang memiliki kecenderungan menjadi manusia super. Seolah-olah dengan ilmu agama yang dimiliki dia mengetahui segalanya. Seolah-olah dengan ilmu agama yang dikuasainya, ilmu-ilmu lain bisa ditundukkannya. Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya ilmu yang mereka kuasai itu ada batasnya.

Secara umum, karakter pemimpin agama yang kaku, ingin benar sendiri serta tertutup pada kebenaran lain memang tidak hanya terbatas pada ketidak percayaan mereka pada bahaya Covid-19 dan manfaat vaksin, namun juga pada masalah lain. Sikap denialisme (penyangkalan) seperti itu busa terbangun karena karena para kyai atau tokoh agama dididik dan berkembang di dalam lingkungan yang memang anjuran-anjuran dogmatis begitu kuat mengitarinya.

Sejak dari awal, mereka memang mempelajari perbedaan (khilafiyah), namun perbedaan itu sifatnya internal di dalam Islam. Pengetahuan tentang penghargaan atas perbedaan tidak mengubah cara pandang soal kebenaran. Bagi mereka, kebenaran selalu berada di pihak mereka.

Ketika terjadi fakta baru, dan bahkan fakta itu sudah menyebabkan banyak kerugian dan kematian, mereka tetap saja menyangkal fakta baru itu. Fakta bahwa Covid-19 itu memakan korban, mematikan, dan lain sebagainya, mereka tolak, demi keyakinan mereka, termasuknya banyaknya kyai-kyai yang wafat karena virus ini. Fakta bahwa vaksin itu membantu kita selamat dari Covid-19, mereka juga tolak karena demi keyakinan mereka. Mereka membela keyakinan yang mereka yakini, padahal boleh jadi keyakinan mereka terbuka pada fakta baru di atas. Itulah yang sering saya katakan bahwa mereka lebih beragama dari agama itu sendiri.

Sikap denialisme mereka pada Covid-19 dan vaksinasi mengingatkan saya pada sikap denialisme mereka pada gerakan terorisme dan radikalisme. Mereka tidak percaya jika ada umat Islam yang bisa membunuh umat Islam lain yang didorong oleh keyakinan mereka. Mereka tidak percaya jika Jama’ah Islamiyah itu ada. Mereka tidak percaya jika ISIS itu ada. Mereka tidak percaya jika al-Qaedah itu ada. Dan masih banyak kasus-kasus lain.

Tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kita terus menerus memberikan penyadaran bagi mereka, sebagaimana Kyai Said inginkan. Ada beberapa langkah yang mungkin perlu kita lakukan untuk menyadarkan mereka.

Pertama, karena pihak yang menolak adalah mereka yang datang dari lingkungan orang yang mengerti agama, maka argumen keagamaan harus dibawa untuk meyakinkan mereka. Hal ini perlu karena orang-orang yang tertutup ini menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang paling ngerti sehingga mereka menganggap keahlian yang ada dipihak mereka. Keahlian dalam bidang agama bagi mereka adalah keahlian yang paling tinggi sehingga mereka anggap keahlian lain itu di bawah otoritas mereka. Bahkan penjelasan para saintis akan mereka tolak karena seberapa benarnya penjelasan saintis itu harus mendapatkan kesesuaian dengan doktrin agama yang mereka yakini. Sementara doktrin agama yang mereka yakini itu bagi mereka bersifat mutlak.

Kedua, karena kebanyakan tokoh agama yang berpikir denialism atas Covid-19 dan vaksinasi itu memiliki pemahaman keagamaan yang konservatif, maka penjelasan saintifik itu harus dilakukan oleh kalangan yang mereka anggap otoritatif dalam bidang ini. Kita memiliki wakil presiden yang dipandang otoritatif dalam penguasaan agama, maka seharusnyalah wakil presiden yang mengambil peran ini. Saya melihat bahwa wakil presiden (Wapres) memerankan sebagian peran untuk masalah ini, namun mengapa masih ada saja kyai atau tokoh agama yang menganggap enteng Covid-19? Apakah kalangan ini sudah tidak menganggap otoritas keagamaan yang dimiliki secara pribadi oleh Wapres ini?

Namun, lepas dari itu semua, kini saya menjadi paham bahwa memberi pengetahuan baru pada kalangan tokoh agama, kyai, ulama atau lainnya, ternyata memang jauh lebih sulit dibandingkan pada masyarakat awam. Mengajari hal baru atau kebenaran baru pada mereka ternyata tidak lebih mudah dibandingkan memberikan kebenaran baru pada orang biasa. Padahal bersikap tertutup akan kebenaran baru itu sebenarnya tidak dipuji oleh agama.

Agama selalu menganjurkan jika umat manusia untuk selalu berpikir (taffakkur) dan maju dalam membaca gejala alam. Bagaimana dengan tokoh agama atau kyai karena alasan tertentu, entah itu politik ataukah memang keyakinan mereka seperti itu, menganggap bahwa Covid-19 tidak berbahaya dan tidah usah vaksin? Jelas itu berbahaya, bukan hanya pada dirinya dan keluarga mereka sendiri, namun pada masyarakat secara umum. Bayangkan kalau masyarakat mengikuti cara pandang mereka? Berapa banyak yang akan menjadi korban. Saya secara pribadi pasti akan meninggalkan model tokoh agama yang seperti itu untuk dijadikan sebagai suri tauladan.

Apabila mereka menjadikan sikap mereka sebagai alat protes terhadap rezim yang berkuasa katakanlah Jokowi-Ma’ruf Amin–maka sudah sepantasnyalah mereka tidak menggunakan cara yang madaratnya besar sekali. Mengapa mereka tidak mencari diskursus lain yang tidak membahayakan keberlangsungan hidup?

Sebagai catatan, pada kyai atau tokoh agama yang sering kita banggakan menjadi panutan, namun apabila pemikiran mereka masih menganggap Covid-19 tidak berbahaya dan vaksin tidak perlu, maka tidak usah mengikuti nasehat mereka. Pada perihal kehidupan yang sangat penting saja mereka tidak mau menerima kenyataan, apalagi pada hal-hal lain, dalam kehidupan sehari-hari. Carilah tokoh agama atau kyai yang mau berpikir berdasarkan nalar sehat dan saintifik.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.