Sabtu, Mei 8, 2021

Desember Bulan Gus Dur

Pelarangan Ibadah Haji Bagi Jama’ah Indonesia Bukan Hoaks

Catatan kali ini saya akan menjelaskan secara khusus tentang pengumuman pemerintah Saudi atas pembukaan pelaksanaan ibadah (iqamat al-hajj) haji tahun ini. Saya menganggap penting...

Kenapa Kaum Hijrah Senangnya Meresahkan Rakyat?

Baru-baru ini beredar 50 daftar pekerjaan yang diharamkan yang disebarkan di media kita. Sederet jenis pekerjaan itu antara lain pelawak, bintang model, satpam di...

Covid 19 dan Matinya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Pengumuman Presiden Jokowi bahwa Indonesia sudah tidak bebas dari Corona membuat kita sedih namun sekaligus lega. Sedih karena virus berbahaya itu kini sudah benar-benar...

Dakwah Asbun yang Berjibun

Setelah fenomena ustadz Evie Effendi yang viral karena bacaan al-Qur’annya yang jauh dari benar dan fasih, padahal dia mengaku berguru pada Rasulullah, kini muncul...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Desember itu identik dengan bulan Gus Dur. Sejak kemangkatannya pada 2009, bulan di mana beliau meninggal selalu dijadikan sebagai bulan untuk mengenang, merefleksikan dan mengambil pelajaran dari sosok Gus Dur. Kehidupan Gus Dur bukan hanya bermakna bagi kaum Nahdliyyin saja, namun bagi keseluruhan rakyat Indonesia.

Kaum minoritas di Indonesia selalu menjadikan Gus Dur sebagai ikon mereka. Ikon manusia terbuka, manusia pluralis, manusia yang mengutamakan penghormatan hak asasi manusia dan demokrasi.

Bagi hampir seluruh komunitas agama dan juga keyakinan, Gus Dur adalah bapak mereka. Gus Dur pada masa hidupnya adalah tempat mengadu segala jenis manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Latar belakang agama, politik, dan kaya-miskin. Catatan saya kali ini ingin menyoroti sosok Gus Dur, perannya yang penting dijadikan sebagai cermin untuk mengurai masalah kehidupan sosial, politik dan keagamaan masa kini.

Ya, memang benar. Gus Dur adalah sosok yang dicintai hampir oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kepergiannya pada Desember 2009 tidak hanya dihantar oleh ratusan juta mata memandang upacara pemakamannya, namun juga diingat. Meskipun demikian, ada saja dari bagian masyarakat yang tidak suka dengan Gus Dur.

Pada masa Orde Baru, Gus Dur tidak disukai Suharto dan pejabat negara pada umumnya karena sikap kritisnya yang terus menerus terhadap Suharto. Gus Dur menggalang perlawanan pada Suharto lewat aliansi-aliansi demokratis dengan pelbagai kelompok masyarakat sipil.

Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi sebagai ruang publik untuk mengkritik dan memberikan saran pada Suharto bagaimana dia sebaiknya menjalankan pemerintahannya. Akibat perlawanan yang gigih, Suharto kali ingin menjegal dan mengakhiri kepemimpinannya sebagai orang nomor 1 di PBNU.

Puncak kedongkolan Suharto adalah Muktamar NU 1994 di Cipasung dimana Suharto merekayasa aparatnya untuk menghalangi Gus Dur terpilih lagi sebagai ketua umum PBNU. Upaya Suharto gagal. Meskipun secara politik Gus Dur berlawanan dengan Suharto, namun secara manusia, Gus Dur tetap berhubungan baik dengan Suharto.

Satu pelajaran penting dalam kaitannya terhadap posisi kritis pada rezim Suharto saat itu, Gus Dur tidak pernah menggalang kekuatan dengan kelompok yang menurutnya tidak demokratis. Kelompok yang tidak demokratis antara lain, jika kita bercermin pada Gus Dur adalah kelompok yang menggunakan politik identitas –islamisasi negara–dan SARA.

Jadi, jangan bayangkan ketidaksukaan Gus Dur terhadap Suharto lalu dia akan menggalang koalisi dengan siapa saja termasuk dengan kelompok dan tokoh radikal. Ormas-ormas seperti FPI dan HTI dan tokoh-tokoh seperti Rizieq Shihab dan Abu Bakar Ba’asyir, meskipun keduanya mungkin benci pada pemerintah, namun sudah dipastikan jika Gus Dur masih hidup beliau tidak akan berkoalisi dengan mereka ini. Sikap inilah yang tidak saya temukan pada para tokoh-tokoh demokrasi dan HAM pada masa ini.

Jangan dengan Rizieq dan Abu Bakar Ba’aysir yang jelas-jelas menghalalkan politik kekerasan, dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang memperjuangkan islamisasi negara dengan cara damai saja, Gus Dur tidak mau berkoalisi dengan mereka. Bahkan jika boleh saya ingin mengatakan bahwa karena sikap Gus Dur yang keras, ICMI menjadi kelompok cendekiawan yang tidak menyukai Gus Dur. Sikap Gus Dur sederhana dan tegas bahwa beliau tidak menginginkan “Islam politik” mendapat tempat di kekuasaan.

Gus Dur adalah tokoh yang paling keras menolak Islamisasi birokrasi dan juga tantara. Dalam kosa kata zaman Gus Dur, ungkapannya diisitilahkan dengan “ijo royo-royo.” Artinya birokrasi dan tantara menghijau. Namun meskipun kritiknya yang pedas atas pemerintah dan juga tantara, Gus Dur selalu mengingatkan kita agar taat hukum. Dalam pelbagai kesempatan Gus Dur selalu memenuhi undangan pemeriksaan oleh aparatus negara.

Kelompok-kelompok seperti FPI, HTI, MMI, Lasykar Jihad adalah kelompok yang juga tidak menyukai Gus Dur. FPI dan HTI benar-benar tidak menyukai Gus Dur. Rizieq Shihab adalah orang yang dengan sombong mengumpat Gus Dur di ruang publik. Padahal Gus Dur adalah orang yang pengetahuan keagamaan jauh lebih dalam dibandingkan Rizieq Shihab.

Gus Dur adalah pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Kontribusi Gus Dur dibanding dirinya —maksudnya Rizieq Shihab—tidak bisa dibandingkan karena Gus Dur terlalu besar untuk dirinya. Lalu juga, kenapa orang seperti Abu Bakar Ba’asyir –tokoh penting organisasi teroris Jama’ah Islamiyyah–juga tidak menyukai Gus Dur?  Padahal, sikap Gus Dur terhadap Ba’asyir biasa saja, bahkan ketika Ba’asyir diperlakukan tidak adil dalam perspektif hak asasi manusia, Gus Dur membela Ba’asyir.

Ternyata, alasan utama kelompok dan tokoh-tokoh yang benci pada Gus Dur karena Gus Dur menjadi penghalang perjuangan mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mereka cita-citakan. Mereka mencita-citakan Indonesia sebagai negara agama. Gus Dur dan NU adalah juga penghalang bagi sikap semena-mena mereka pada kaum minoritas yang mengatasnamakan agama. Gus Dur dan NU adalah penghalang mereka untuk bertindak sebagai polisi akidah pada kelompok-kelompok minoritas di dalam Islam seperti Syiah dan Ahmadiyyah. Keadaan ini semua yang menyebabkan mereka menganggap Gus Dur sudah melenceng akidahnya, sudah keluar dari Islam dlsb.

Sebagai catatan, jika kita ingin menyelesaikan carut marut hubungan agama, negara dan demokrasi, maka Gus Dur adalah inspirasi yang perlu kita ambil. Pemerintah dan rezim sekarang perlu untuk mengambil ketegaran dan konsistensi Gus Dur dalam memandang hubungan negara dan agama pada satu sisi dan demokrasi dan hak asasi manusia pada sisi yang lainnya.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.