Sabtu, Mei 8, 2021

Berdakwah Tidak Boleh Memaksa

Pelarangan Ibadah Haji Bagi Jama’ah Indonesia Bukan Hoaks

Catatan kali ini saya akan menjelaskan secara khusus tentang pengumuman pemerintah Saudi atas pembukaan pelaksanaan ibadah (iqamat al-hajj) haji tahun ini. Saya menganggap penting...

Menunggu Jawaban Partai Nasionalis

Nama Michael Buehler menjadi percakapan politik luas, isu Perda Syariah kembali menyita perhatian publik. Ini semua gara-gara pidato politik Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia,...

Mengutuk Teroris Bukan Islamophobia

Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM), Choirul Anam, memberikan pernyataan publik yang cukup kontroversial; masyarakat Indonesia siap menerima eks-ISIS karena di Indonesia tidak ada Islamophobia. Saya...

Dakwah Asbun yang Berjibun

Setelah fenomena ustadz Evie Effendi yang viral karena bacaan al-Qur’annya yang jauh dari benar dan fasih, padahal dia mengaku berguru pada Rasulullah, kini muncul...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Keluhan tentang mutu dakwah kita yang rendah masih saja mengemuka ke permukaan. Tidak hanya berkaitan dengan konten-konten yang disampaikan di dalam dakwah, keluhan dijumpai juga dalam gaya pendakwah dalam menyampaikan dalam ceramahnya. Gaya pendakwah yang intimidatif dan menganggap bahwa materi dakwah dialah yang paling benar adalah gejala umum dalam dakwah kita sehar-hari baik dakwah di langsung maupun dakwah melalui media sosial.

Model dan gaya dakwah mengumpat dan menghardik menjadi gambaran aktivitas dakwah para pendakwah kita, sebagaimana gaya Nur Sugik, terutama mereka yang memiliki kecenderungan politik identitas. Yang penting bagi pendakwah model gini adalah menghardik lebih dulu. Karenanya, tidak heran jika para mubalig yang caranya seperti ini banyak yang berurusan dengan kasus hukum. Tidak hanya berurusan, namun juga masuk penjara.

Sayangnya, sebagian kalangan dari kita, memang tidak besar jumlahnya, menganggap gaya seperti itulah yang disebut dengan dakwah. Jika ada dakwah yang retorikanya klemar-klemer, meskipun isinya bagus, karena tidak ada agitasi, mereka tidak menyebut sebagai dakwah. Bahkan penyampai dakwah yang demikian ini mereka sebut sebagai ulama. Pandangan sebagian masyarakat demikian ini tercipta karena asmosfer dakwah kita yang memang sudah lama dipenuhi oleh pemaksaan dan kebencian baik pada sesama Muslim maupun pada non-Muslim.

Fenomena pendakwah kasar dan agitatif sebenarnya model dakwah yang tidak mencontoh pada model dakwah Rasulullah. Bagaimana model dakwah Nabi Muhammad yang harus dijadikan sebagai pedoman menjalankan dakwah bagi para mubalig kita?

Muhammad Sayyid Thantawi (mantan Imam Besar al-Azhar dan Mufti Dar al-Ifta Mesir) dalam sebuah catatan kecilnya, La Ikraha fi al-Din, memberikan gambaran di mana pemaksaan agama dan keyakinan itu memang terjadi di dalam menyampaikan Islam di dalam kehidupan sehari-hari. Rupanya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di dunia Islam lainnya seperti Mesir dan negara-negara Timur Tengah.

Pertama, al-Qur’an menyatakan bahwa pemaksaan untuk mengikuti sebuah keyakinan atau akidah itu tidak ada manfaatnya. Beragama dan berkeyakinan itu masalah hati dan kecenderungan jiwa yang dibimbing oleh kebebasan. Menurut Sayyid Thanthawi, antara keyakinan dan pemaksaan itu dua hal yang bertentangan, keduanya juga tidak bisa berkumpul (al-ikrah wa al-i’tiqad, naqidlani la yajtami’ani). Karenanya, jika ada orang yang memaksakan keyakinannya pada orang lain, dengan cara mengancam misalnya kalau tidak menuruti maka akan masuk neraka Jahanam, maka itu cara yang tidak dianjurkan oleh Islam.

Tuhan sendiri tidak memaksa umat manusia untuk beriman sebagaimana ayat: “apabila Tuhanmu berkekehendak maka seluruh orang di atas bumi akan beriman semuanya.” Namun ini Tuhan tidak berkehendak, apalagi memaksakan. Sayyid Thanthawi mengatakan jika tugas Rasul itu menyampaikan (berdakwah), mengingatkan (tabsyir), membawa kabar gembira dan juga memberi kabar yang tidak menggembirakan.

Tidak ada cara dakwah Nabi yang memaksakan dan membelenggu untuk orang lain agar masuk Islam. Menurut Sayyid Thantawi, syariah Islam itu menghindarkan ucapan, perbuatan dan juga keyakinan yang datang karena pemaksaan. Biarlah keyakinan itu datang pada seseorang karena pilihan bebas mereka, kesenangan mereka, dan penerimaan mereka.

Jika saya kontraskan model dakwah Nabi Muhammad, sebagaimana digambarkan Sayyid Thanthawi, dengan kenyataan dakwah kita di lapangan maka praktinya berbeda. Di lapangan, dakwah tidak untuk memeluk orang, namun menjauhkan orang, tidak untuk menyatukan namun memisahkan, tidak untuk memberikan pilihan kebebasan namun memaksakan dan membelenggu. Lihat saja model dakwah yang dilakukan oleh Dzakir Naik. Dengan cara menyerang kitab suci agama lain dia sebenarnya ingin memaksakan agar pengikut kitab suci agama lain mengikutinya. Cara dakwah yang demikian ini jelas tidak bisa lakukan. Jangan dengan orang yang berbeda keyakinan, dengan keluarga sendiri seperti pada anak kita tidak diperkenankan memaksakan keyakinan kita.

Di dalam sebuah sebab peristiwa yang menyebabkan ayat “la ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam beragama) dan seterusnya terdapat cerita yang sangat menarik. Diceritakan, ada seorang laki-laki dari Bani Salim bin Auf yang memiliki dua anak. Keduanya tidak beragama Islam dan si bapaknya tadi sudah masuk Islam. Lalu, si bapak ini tanya ke Nabi Muhammad, apakah saya harus memaksa kedua anak saya untuk masuk Islam?

Lalu turunlah ayat di atas, “la ikraha fi al-din… Jelas ini merupakan pesan yang inklusif bagi kita semua yang sering menjajakan agama dengan cara yang memaksa. Ruang media sosial kita penuh dengan konten-konten dakwah yang memaksa pihak lain (the others). Hal ini bisa terjadi karena sebagian orang mengatakan bahwa dakwah itu jihad. Dakwah itu memang bagian dari perjuangan (jihad), namun dakwah tidak boleh dengan cara coercive (memaksakan). Dakwah itu persuasi karenanya masuk akal apabila dakwah tidak boleh dilaksanakan dengan cara-cara antagonistik.

Tingginya polarisasi dan disintegrasi di dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Muslim, itu disebabkan oleh kegagalan dakwah kita yang memakai model jihad di atas. Obyek dakwah dianggap sebagai obyek perang. Perbedaan keyakinan disikap dengan penyerangan, bukan disikapi dengan pendekatan yang baik. Bagaimana satu sama lain tidak semakin memanas apabila psikologi dakwahnya adalah psikologi penaklukan. Jadi ungkapan-ungkapan yang ofensif di dalam corong dakwah ditujukan untuk menaklukkan keyakinan pihak lain. Hal yang paling kongkrit selain menyebabkan polarisasi, dakwah antagonis tidak menyebabkan orang kita menjadi lebih maju dan sejahtera.

Sebagai catatan, kita sekarang harus memulai mengubah model dakwah kita. Cara memaksa, menaklukkan, mengancam, dlsb, itu sudah tidak zamannya lagi. Orang akan lari dengan cara seperti itu.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.