Sabtu, Mei 8, 2021

Kisah Kuda dan Burung Gereja

Surat Buat Dandhy Dwi Laksono

Selamat sore, Cuk! Kamu memang dancukan. Masa orang hebat seperti Ibu Megawati Soekarnoputri kamu kritik. Bagaimana mungkin putri Bung Karno, Sang Proklamator, punya salah. Di mana...

Anggaran Bimbel Anggaran Salah Arah

Gubernur Jakarta terpilih Anis Baswedan menambah anggaran program pendidikan secara signifikan, sebesar Rp 46 miliar. Dia ingin siswa sekolah menengah kurang mampu yang selama...

Nawa Cita: Pak Jokowi Perlu Membaca Buku Usang Ini

Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) meluncurkan program "Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat" di Desa Larangan, Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/4). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari Saya tahu...

Saat Jokowi Makin Pro Investasi dan Anti Rakyat

Di samping pembangunan infrastruktur fisik, Pemerintahan Jokowi nampak benar terobsesi menggenjot investasi, baik domestik maupun asing. Pemerintahan ini percaya bahwa kedua hal itu akan mendorong...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

 

Umat manusia masih membutuhkan pengingat untuk menyemaikan keadilan dan perdamaian.

Jika kita memberi kuda makanan cukup banyak, sebagian remah-remah makanan itu akan menghidupi pula burung-burung gereja. Dalam ekonomi, “teori kuda dan burung gereja” itu dikenal pula sebagai “teori menetes ke bawah” atau trickle-down economics.

Teori itu begitu populer dalam 30 tahun terakhir baik di kalangan ekonom, presiden, maupun perdana menteri. Hampir mendekati mantra ajaib mereka mempercayai resep ini: permudah bisnis orang kaya, lewat pengurangan pajak, dan deregulasi, maka ekonomi akan tumbuh, yang pada akhirnya membuat makmur orang-orang miskin.

Teori itu buyar sekarang. Studi mutakhir oleh lima ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, “teori menetes ke bawah” adalah mitos belaka.

Juni lalu mereka menerbitkan hasil studi berjudul “Causes and Consequences of Income Inequality: A Global Perspective”. Menelisik data ekonomi lebih dari 150 negara untuk kurun 1980 – 2010, mereka menyimpulkan: “kekayaan tidak menetes”. Ketimpangan ekonomi dan pendapatan justru makin parah, baik antarnegara maupun di dalam negara masing-masing.

Anak-anak berenang di sumber mata air di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Jumat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Anak-anak berenang di sumber mata air di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Jumat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Ketimpangan tidak hanya memperparah kemiskinan dan memicu keresahan sosial politik. Ketimpangan itu pada akhirnya juga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan upaya kemakmuran bersama.

Para peneliti menemukan, ketika pendapatan 20 persen penduduk terkaya naik, ekonomi justru melambat. Sebaliknya, ketika pendapatan 20 persen penduduk termiskin naik, ekonomi tumbuh membaik.

Dalam bahasa lebih populer: persulit hidup orang miskin, maka ekonomi akan merosot. Ketimpangan pendapatan membuat orang miskin harus berjuang keras, dan umumnya gagal, untuk mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan bermutu bagus. Akibatnya, produktivitas mereka menurun, menarik turun pula produktivitas nasional, serta melukai semua komponen masyarakat.

Studi mutakhir itu pada dasarnya juga menampar muka IMF dan Bank Dunia sendiri, yang berbagai resep ekonominya diilhami oleh fatamorgana “menetes ke bawah”. Mereka terobsesi pada pertumbuhan semata, privatisasi, pengurangan anggaran publik dan peran negara, serta deregulasi bisnis dan investasi.

Program “pengencangan ikat pinggang” atau austerity ala IMF itu menemukan gaung dalam krisis utang yang membuat Yunani bergolak belakangan ini. Kisruh Yunani kemungkinan juga akan merembet ke Spanyol, Portugal, dan Irlandia dalam beberapa waktu yang akan datang.

Sejak 1980-an, resep beracun IMF dan Bank Dunia itu merasuk begitu luas ke seluruh dunia berkat kedigdayaan otot politik Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan dan Inggris di bawah Margaret Thatcher. “Reaganomics” dan “Thatcherism” menganjurkan pengurangan pajak orang kaya, privatisasi, penyunatan anggaran publik, serta deregulasi. Inilah kebijakan yang oleh para pengecamnya disebut kebijakan “neoliberal”.

Ekonom klasik John Kenneth Galbraith mengingatkan bahwa “teori kuda dan burung gereja” yang diterapkan pada 1890-an terbukti gagal memenuhi janjinya di Amerika Serikat sendiri. Teori itu bahkan memicu depresi ekonomi besar. Tapi, Reagan tidak belajar.

Tiga puluh tahun kemudian Presiden Barack Obama menuai getahnya. “Melebarnya jurang pendapatan merupakan tantangan terbesar ekonomi masa kini,” kata Obama. Tak hanya di Amerika Serikat, ketimpangan memburuk secara global. Saat ini harta 85 orang terkaya dunia setara dengan harta 3,5 miliar penghuni bumi termiskin dikumpulkan menjadi satu.

Problem ketimpangan juga menjadi perbincangan makin hangat secara internasional setelah ekonom Prancis Thomas Piketty menerbitkan buku terkenal Capital in the Twenty-First Century pada 2013.

Studi mutakhir ekonom IMF dan buku Piketty itu relevan untuk Indonesia. Di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono 10 tahun terakhir, negeri kita menyaksikan memburuknya ketimpangan ekonomi dan pendapatan, yang terparah sepanjang sejarah republik ini. Tampak ada tanda-tanda ketimpangan itu pula yang memperlambat pertumbuhan ekonomi pada periode kedua Presiden Yudhoyono.

Presiden Joko Widodo menikmati getahnya sekarang. Namun, agak sayang, pemerintahan baru ini tampak belum sepenuhnya menyadari akar masalah sebenarnya. Isu pemerataan, atau membangun Indonesia dari pinggiran, yang menjadi pilar manis Nawacita, dikaburkan oleh obsesi membangun megaproyek infrastruktur, yang dijamin akan lebih menguntungkan para kuda ketimbang burung-burung gereja.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.