Selasa, April 20, 2021

Zenius: Akses Pendidikan Tanpa Kualitas Sama Saja Menyebar Racun

KPK Akan Usut Ribuan Izin Tambang Bermasalah

Komisi Pemberantasan Korupsi akan mengusut ribuan izin usaha pertambangan (IUP) yang belum memenuhi status clean and clear. Rencana itu dimatangkan melalui fungsi koordinasi supervisi...

Jerman Desak China dan Rusia Tekan Korut Soal Serangan Rudal

Berlin, 9/8 - Jerman pada Rabu meminta China dan Rusia melarang Pyongyang melakukan kebijakan yang akan menyebabkan peningkatan gerakan militer di Semenanjung Korea setelah...

Menteri Jonan Kunjungi AS untuk Percepat Perundingan Freeport

Jakarta, 31/7  - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melawat ke Amerika Serikat (AS) untuk mempercepat proses perundingan dengan PT Freeport...

Sekjen Aman: Masyarakat Adat adalah Pengelola Kawasan Konservasi

Masyarakat adat Baduy. it.avatar-nusantara.com Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan menilai kebijakan pemerintah terkait kawasan konservasi cenderung menempatkan masyarakat adat sebagai “calon kriminal”....
Redaksi
Redaksi

Zenius, sebuah perusahaan Edtech berbentuk platform belajar online untuk pelajar SD-SMA, baru saja menggelar forum bersama awak media pada hari Kamis (19/7) di Jakarta Pusat.

Di dalam forum tersebut, Wisnu Subekti selaku CEO dan Sabda PS selaku Founder berbagi pandangan mereka mengenai pendidikan di Indonesia dan bagaimana Zenius hadir sebagai solusi atas beberapa persoalan fundamental.

Metode Belajar dan Literasi

Wisnu membuka pemaparannya dengan menceritakan latar belakang berdirinya Zenius. Pada waktu awal Zenius didirikan (2007), bimbingan belajar (bimbel) sedang marak-maraknya. Kebanyakan dari mereka sibuk mencekoki anak dengan rumus kilat, terutama untuk menjawab soal-soal Ujian Nasional (UN).

“Kita melihat, ada cara yang lebih baik untuk belajar,” ujar Wisnu.

Ia menjelaskan bahwa rumus kilat semacam itu tidak membuat anak betul-betul memahami ilmu yang ia pelajari, melainkan hanya masuk ke dalam memori sebagai hafalan tanpa makna. Di sinilah Zenius melawan arus utama dan muncul dengan prinsip “memahami konsep”.

Anak dituntun untuk memahami sebuah materi sampai ke akarnya. Ketika anak mengerti konsep, mereka akan ingat dengan sendirinya, karena materi menjadi sebuah rangkaian cerita yang menjelaskan cara kehidupan bekerja secara runut, bukan ujuk-ujuk keluar rumus yang tak jelas asal-muasalnya.

Cara belajar yang salah—instan, sekadar menghafal—juga berkontribusi signifikan pada jeblok-nya skor anak Indonesia dalam uji literasi berstandar internasional, yakni PISA. Tes tersebut menguji literasi matematika, literasi sains, dan kemampuan membaca (reading comprehension).

Hasil tes tahun 2012 menunjukkan hanya 24% anak Indonesia yang mencapai level 2 literasi matematika dalam skala 1-6. Sebagai perbandingan, persentase ini lebih rendah dari Malaysia (48%) dan jauh di bawah Vietnam (86%).

“Literasi membutuhkan pemahaman, bukan sekadar hafalan. Kalau kita mau memperbaiki ini, tidak bisa gonta-ganti kurikulum saja, tapi dari segi cara mengajar dan paradigma pengajar juga harus diubah,” ujar Wisnu menutup pemaparannya.

Pendidikan dan Demokrasi

Selanjutnya, giliran Sabda PS yang menyajikan pemaparan. Ia menambahkan penjelasan Wisnu mengenai latar belakang berdirinya Zenius.

“Tahun 2007 itu kan tahun resmi berdirinya Zenius. Tapi, idenya sendiri sudah jauh lebih awal dari itu, kira-kira tahun 2002. Pada saat itu, Indonesia baru saja demokratisasi. Kita punya kekhawatiran, apakah literasi masyarakat kita cukup untuk berdemokrasi,” ujar Sabda.

Sistem demokrasi membuat segala keputusan publik dilakukan secara bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Literasi publik yang buruk akan menghasilkan keputusan publik yang buruk pula. Hal ini menjelaskan mengapa kehadiran metode belajar yang membangun pemahaman dan kekritisan berpikir ala Zenius menjadi penting.

Diskursus publik dalam demokrasi berlangsung sebagian besarnya dalam bentuk tulisan, antara lain di media sosial dan situs berita online. Maka, orang perlu kemampuan membaca yang baik untuk dapat berdemokrasi dengan baik.

“Teman-teman wartawan di sini sering gak bikin berita apa tapi komentar orang-orang malah ngawur dan totally gak nyambung?” tanya Sabda disambut gelak tawa peserta forum.

Ternyata, kemampuan membaca masyarakat Indonesia memang bisa dikatakan parah sekali. Dalam laporan uji literasi dewasa berstandar internasional, yakni PIAAC, 70% orang Jakarta usia 15-26 tahun tidak mencapai level 1 kemampuan membaca dalam skala 1-5. Padahal, kemampuan yang diuji di level 1 itu hanya memahami makna harfiah sebuah kalimat.

“Kalau seperti ini ya gak heran masyarakat kita gampang kena hoaks atau berita yang headline dengan isinya gak ada hubungannya,” ujar Sabda.

Zenius didirikan dengan semangat mengembangkan metode belajar yang dapat membangun literasi dasar (matematika, sains, kemampuan membaca, dan logika) yang baik, bukan sebatas dapat nilai UN tinggi atau lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Selanjutnya, Sabda mengkritisi paradigma pengambil kebijakan yang fokus pada akses. Ia menjelaskan, pendidikan yang hanya fokus pada akses bisa menjadi bumerang jika isi pendidikannya menyesatkan—entah itu sesat sains, sesat logika, dan berbagai bentuk kesesatan lainnya.

“Akses, akses, akses. Kalo pendidikan ngaco malah jadi sama saja menyebar racun! Yang saya mau katakan di sini, akses penting, tapi konten jauh lebih penting,” ujar Sabda.

Ke depannya, sebagai market leader dengan 10,8 juta unique visitor sepanjang tahun 2017 dan peringkat 1 industri Edtech Indonesia dalam startupranking.com, Zenius bertekad menjangkau 60 juta anak Indonesia dengan cara belajar baru yang menyenangkan, bikin ketagihan, sekaligus membekali mereka dengan literasi yang mapan.

Harapannya, pemerintah juga mau mendukung dan bersinergi dengan Zenius, untuk demokrasi yang sehat dan menghasilkan keputusan publik berkualitas.

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.