Kekeliruan Biografi Abu Syuja’: Penulis Kitab Fikih Legenda

Muhammad Husein Fadhlillah
Muhammad Husein Fadhlillah
Pegiat Studi Islam dan Hukum Perbandingan. Penulis buku, juga aktif menulis dan menjadi narasumber di berbagai forum intelektual dan riset. Domisili di Ciputat.
- Advertisement -

Dalam khazanah keilmuan Islam, nama Abu Syuja’ barangkali lebih akrab di telinga para penuntut ilmu melalui karyanya yang legendaris, al-Ghayah wa at-Taqrib (Matan Taqrib) atau populer dengan sebutan Mukhtashar Abi Syuja’. Kitab ringkas ini telah menjadi gerbang pertama bagi ribuan santri di seluruh penjuru dunia dalam mempelajari fikih Mazhab Syafi’i. Namun, di balik kemasyhuran karyanya, siapa sebenarnya sosok di balik nama agung tersebut?

Dr. Naffa’ah Abdul Hakim al-Anis, seorang cendekiawan dari Levant yang meraih gelar doktor dari Fakultas Ilmu-Ilmu Islam Universitas Baghdad, telah melakukan telaah kritis terhadap catatan biografi yang selama ini beredar. Melalui artikelnya yang berjudul “Siapakah Pengarang Kitab al-Ghayah wa at-Taqrib?”, beliau mengungkap sejumlah kekeliruan yang perlu dikoreksi dalam pemahaman kita tentang sosok qadi agung ini.

Identitas Sang Fakih

Beliau adalah seorang imam, qadi, ahli fikih, serta sosok yang dikenal zuhud dan wara’: Abu ath-Thayyib Shihabuddin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad, al-Ashfahani al-Bashri, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Syuja’ rahimahullah ta’ala.

Faqih Abu Syuja’ dilahirkan di Bashrah, tumbuh besar di sana, dan mengabdikan hidupnya untuk mengajar Mazhab Imam asy-Syafi’i di kota tersebut selama lebih dari empat puluh tahun. Al-Hafizh as-Silafi meriwayatkan darinya sebuah hadis melalui sanad yang bersambung hingga sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

Barangsiapa membangun masjid karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah Ta’ala akan membangunkan untuknya yang serupa di surga.

Dalam Mu’jam as-Safar-nya, as-Silafi menuturkan: “Qadi Abu Syuja’ ini termasuk tokoh langka pada zamannya. Beliau mengajar Mazhab Syafi’i di Bashrah selama lebih dari empat puluh tahun. Beliau menceritakan hal ini kepadaku pada tahun 500 H, dan beliau masih hidup setelah itu selama jangka waktu yang tidak saya ketahui secara pasti. Saya bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, lalu beliau menjawab: Tahun 434 H di Bashrah. Ayahku lahir di Abadan, sedangkan kakek buyutku berasal dari Isfahan.”

Kekeliruan yang Perlu Dikoreksi

Imam al-Baijuri dalam Hasyiyah-nya mencatat biografi Qadi Abu Syuja’ dengan menisbahkan sejumlah keterangan yang kemudian diikuti oleh Imam al-Bujairimi dalam Hasyiyah ‘ala al-Khathib. Namun, Dr. Naffa’ah al-Anis mengungkap bahwa terdapat kekeliruan mendasar dalam pencatatan tersebut.

Menurut beliau, biografi yang dibawakan oleh al-Bujairimi—selain mengandung kesalahan dan keraguan—bukanlah biografi Qadi Abu Syuja’ yang sebenarnya, melainkan kutipan dari biografi Menteri Muhammad bin al-Husain al-Hamadani ar-Rudzrawari asy-Syafi’i yang juga dikenal dengan sebutan Abu Syuja’. Inilah pangkal timbulnya kekeliruan tersebut.

Kekeliruan ini diperparah dengan adanya kesamaan kunyah antara kedua tokoh. Menteri Zhahiruddin Abu Syuja’ Muhammad bin al-Husain wafat pada tahun 488 H dan dimakamkan di Pemakaman Baqi’ di Madinah. Adapun klaim bahwa beliau dimakamkan di masjid yang beliau bangun di dekat Kamar Nabi—sebagaimana disebutkan dalam sebagian catatan—adalah kekeliruan. Masjid yang dibangun oleh menteri tersebut sebenarnya berada di lorong rumahnya di Baghdad, bukan di dekat Bab Jibril di Madinah.

Sosok yang dimakamkan di dekat makam Nabi adalah menteri Isfahan yang lain, yaitu Jamaluddin Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Abi Manshur al-Ashfahani yang wafat pada tahun 559 H. Dahulu beliau dan Asaduddin Syirkuh telah saling berjanji: siapa pun di antara mereka yang wafat terlebih dahulu, maka yang hidup akan memindahkan jenazahnya ke Kota Rasulullah ﷺ untuk dimakamkan di sana. Maka Syirkuh memindahkannya, dan beliau dimakamkan di sebuah ribath di Madinah yang beliau bangun sendiri, dengan jarak sekitar lima belas hasta dari makam Nabi ﷺ.

- Advertisement -

Meskipun keharuman nama imam ini sangat masyhur dalam hal ilmu, fikih, kezuhudan, dan kewara’annya, namun sumber-sumber sejarah sangat minim mencatat rincian biografinya. Hal ini justru menjadi pengingat bagi kita bahwa kemasyhuran sejati tidak diukur dari banyaknya catatan sejarah, melainkan dari manfaat yang terus mengalir melalui karya dan ilmu yang diwariskan.

Muhammad Husein Fadhlillah
Muhammad Husein Fadhlillah
Pegiat Studi Islam dan Hukum Perbandingan. Penulis buku, juga aktif menulis dan menjadi narasumber di berbagai forum intelektual dan riset. Domisili di Ciputat.
Facebook Comment
- Advertisement -