Diplomasi Buntu, Logistik Menipis: Mengapa AS Justru Bersiap untuk Babak Baru Perang?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Donald Trump kini menggunakan bahasa yang berbeda saat berbicara mengenai amunisi Amerika Serikat. Inilah presiden yang dulunya pernah mengatakan bahwa Amerika memiliki amunisi yang virtually unlimited (hampir tak terbatas); faktanya, ia sempat tidak percaya dengan laporan-laporan mengenai kelangkaan amunisi tersebut.

Lalu Pentagon mengungkapkannya secara hitam di atas putih: perang telah menciptakan defisit senjata strategis. Kini, terlihat pergeseran dalam pilihan kata Trump. Dalam sebuah wawancara baru, ia mengakui bahwa ketersediaan beberapa jenis amunisi “sedikit lebih rendah”—dari yang awalnya disebut “hampir tak terbatas” menjadi “sedikit lebih rendah.” Tampaknya, kata “tak terbatas” pada kenyataannya memang memiliki batas.

Meski begitu, Trump tetap bersikeras bahwa persediaan keseluruhan masih dalam kondisi prima. Namun di saat yang sama, Amerika mengirim gugus tempur kapal induk (carrier strike group) lain ke Asia Barat. Langkah ini berpotensi menempatkan tiga gugus kapal induk AS di kawasan tersebut pada akhir Oktober.

Selama berbulan-bulan, sebuah pertanyaan besar membayangi keterlibatan perang Amerika dengan Iran: Berapa banyak amunisi yang sebenarnya telah dihabiskan oleh Washington?

Peringatan sudah bermunculan jauh sebelum Pentagon angkat bicara pada bulan September. Berbagai laporan telah mengindikasikan menipisnya stok rudal-rudal kunci. Para analis militer terus memperingatkan laju konsumsi amunisi yang cepat, dan kekhawatiran ini kian sulit diabaikan.

Namun, Trump terus menepisnya. Ia menyatakan Amerika memiliki amunisi yang nyaris tak terbatas; sang Presiden AS bahkan menyerang laporan-laporan tentang kelangkaan tersebut. Tetapi kemudian terbitlah laporan dari Pentagon pada bulan September. Laporan itu mengonfirmasi bahwa perang telah menimbulkan defisit senjata strategis, sekaligus menemukan adanya hambatan (bottleneck) dalam kemampuan Amerika untuk mengisi ulang pasokan persenjataan tersebut.

Kini, Trump sendiri mulai mengubah gaya bicaranya. Dalam wawancara dengan majalah Time, ia mengakui beberapa jenis amunisi berada pada level sedikit lebih rendah dibanding yang lain—sebuah pergeseran dari virtually unlimited (hampir tak terbatas) menjadi a little bit lower (sedikit lebih rendah).

Ini adalah pengakuan yang dirangkai secara sangat hati-hati. Ia tidak mengatakan bahwa Amerika kehabisan senjata; sebaliknya, ia bersikeras bahwa stok keseluruhan dalam kondisi sangat baik dan AS terus menambah pasokan. Namun, pernyataan tersebut muncul setelah berbulan-bulan bersikeras menyangkal adanya kelangkaan serius, dan beban biaya yang timbul menunjukkan betapa pentingnya persoalan ini.

Antara 28 Februari hingga 30 Juni, Amerika Serikat menghabiskan sekitar $22 miliar hanya untuk amunisi. Total biaya perang yang lebih luas mencapai sekitar $33 miliar pada periode tersebut. Apa saja kerugian yang diderita Washington: sedikitnya empat jet tempur F-15E hancur; sebuah F-35A rusak terkena tembakan Iran; sebuah pesawat serang A-10 ditembak jatuh; sedikitnya tujuh pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 rusak atau hancur; sebanyak 30 drone tempur MQ-9 Reaper hilang.

Korban manusia juga tidak sedikit: sedikitnya 417 prajurit AS terluka dalam serangan-serangan Iran selama rentang waktu yang tercakup dalam laporan tersebut. Serangan Iran turut merusak atau menghancurkan ratusan fasilitas di instalasi-instalasi militer AS yang tersebar di delapan negara.

- Advertisement -

Namun, terlepas dari kerugian dan pengakuan tersebut, Donald Trump kini justru mengerahkan lebih banyak kekuatan militer ke kawasan tersebut.

Gugus tempur kapal induk AS yang ketiga kini tengah berlayar menuju Asia Barat. Armada ini mencakup USS Theodore Roosevelt, yang didampingi oleh sebuah gugus kesiapan amfibi (amphibious readiness group). Pengerahan ini melibatkan lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 anggota Marinir.

Dua kapal induk AS lainnya sudah lebih dulu berada di kawasan tersebut, yakni USS George H.W. Bush dan USS George Washington. Hal itu bisa menempatkan tiga gugus kapal induk sekaligus di wilayah itu pada akhir Oktober.

Trump juga telah mengindikasikan alasan di balik penumpukan kekuatan ini: ia dilaporkan menyatakan bahwa serangan baru terhadap Iran terbuka untuk dilancarkan setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) bulan November. Jadi, sesudah pemilu paruh waktu—bukan sebelumnya. Kalender politik, tampaknya, merupakan bagian dari strategi.

Pada saat yang sama, jalur diplomasi kembali membentur jalan buntu. Baru-baru ini Iran mengirimkan sebuah proposal ke Washington melalui mediator Qatar. Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus mengusulkan penghentian permusuhan dalam waktu tujuh hari. Sebagai imbalannya, Iran meminta pencairan dana beku mereka setidaknya sebesar $12 miliar, beserta pelonggaran sanksi ekspor minyak.

Akan tetapi, Trump menolak proposal tersebut. Kini, Teheran bersiap melancarkan respons yang jauh lebih keras apabila Washington kembali menyerang. Para komandan Iran tengah meninjau target-target potensial di luar aset-aset yang terafiliasi langsung dengan AS; negara-negara yang mendukung operasi militer Amerika juga berpeluang masuk dalam daftar pertimbangan. Lebih dari itu, Teheran melangkah lebih jauh: mereka telah menginstruksikan kelompok-kelompok sekutu mereka di Lebanon, Yaman, dan Irak untuk bersiap siaga.

Kendati demikian, para pejabat Iran masih membiarkan pintu negosiasi tetap terbuka. Kedua belah pihak dengan demikian bergerak ke arah yang saling berlawanan: satu pihak menambah aset militer, sementara pihak lain bersiap membalas. Tak satu pun dari mereka yang berhasil mengubah tekanan tersebut menjadi sebuah terobosan diplomatik.

Untuk saat ini, armada gugus kapal induk terus bergerak, pabrik-pabrik amunisi bekerja keras mengisi kembali persediaan, dan para komandan Iran tengah mematangkan rencana mereka masing-masing. Keputusan berikutnya akan menentukan apakah situasi ini sekadar unjuk kekuatan, atau justru menjadi babak pembuka bagi perang baru berikutnya.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -