Di Indonesia, datang terlambat itu bukan masalah—selama semua orang juga terlambat.
Masalahnya, ini bukan sekadar cerita satu dua orang yang lagi apes. Ini cerita yang terlalu sering kita lihat, tapi jarang kita akui sebagai masalah.
Awal April Kemarin, publik diramaikan dengan beredarnya video keributan di bandara. Belakangan diketahui, 29 dari 72 santri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Pasuruan, mengalami gagal terbang menggunakan Super Air Jet di Bandara Depati Amir, Bangka Belitung, pada 2 April 2026.
Awalnya netizen digiring untuk beropini bahwa hal tersebut adalah kelalaian maskapai dengan beredarnya klaim bahwa para santri telah mengantongi boarding pass namun setelah sampai di boarding gate, mereka dilarang masuk. Pengurus pondok pesantren/wali santri yang merasa mereka telah ditelantarkan, lalu menuntut maskapai dengan melaporkannya ke pihak kepolisian setempat (Polda Kepulauan Bangka Belitung).
Usut punya usut setelah pihak maskapai memberikan klarifikasi dan membeberkan hasil rekaman cctv, ceritanya jadi jauh lebih sederhana—dan mungkin lebih tidak nyaman untuk diakui: rombongan itu datang terlambat ke gate.
Itulah yang dialami mereka. Bukan karena cuaca buruk. Bukan juga karena pesawatnya tiba-tiba mogok. Sederhana saja: mereka datang terlambat.
Ujungnya bisa ditebak: rugi sudah pasti, jadi bahan omongan publik, dan rencana perjalanan berantakan. Semua berawal dari sesuatu yang kelihatannya sepele—terlambat beberapa menit.
Dari sekedar terlambat beberapa menit jadi sorotan dimuka publik. Masalahnya baru terasa kalau yang ditunggu bukan teman nongkrong, tapi pesawat. Dan seperti biasa, kita hampir selalu punya satu respons refleks: “Ya namanya juga manusia.” Padahal, kalau dipikir-pikir, justru di situlah masalahnya.
Ngaret Itu Santai, Sampai Tiket Hangus
Ngaret di Indonesia bukan lagi kebiasaan, tapi sudah naik kasta jadi budaya. Undangan jam 8 pagi? Datang jam 8.30 masih dianggap sopan. Janji jam 10? udah dianggap fleksibel, bisa 10 lewat, bisa juga jam 10 baru “OTW” dari kasur. Anggapannya “ah yang lain juga pasti telat”
Kita bahkan punya banyak cara kreatif untuk menormalisasi keterlambatan. Mulai dari “di jalan”, “sebentar lagi”, sampai “udah dekat”—yang entah dekatnya dari mana. Anehya, semua orang tahu ini bermasalah, tapi semua orang juga ikut melestarikan.
Datang on time dikira radikal. Terlalu niat. Terlalu serius. Kurang santai. Sementara yang datang terlambat? Disambut senyum, disuguhi minum, lalu dimaafkan tanpa syarat. Kita hidup dalam budaya yang sangat ramah—bahkan terlalu ramah terhadap keterlambatan.
Kasus santri yang tertinggal pesawat tadi sebenarnya bukan kejadian luar biasa. Justru sebaliknya, itu contoh yang terlalu “Indonesia banget”. Bedanya cuma satu: kali ini konsekuensinya tidak bisa dinegosiasikan. Pesawat tidak mengenal jam karet.
Ketika “Slow Living” Jadi Alasan Telat
Belakangan ini, keterlambatan juga punya “tameng” baru yang terdengar lebih intelektual: slow living. Konsep ini awalnya bagus. Ia lahir sebagai kritik terhadap hidup yang serba cepat, serba sibuk, serba kompetitif. Intinya: hidup lebih sadar, lebih seimbang, bukan sekadar mengejar waktu.
Tapi seperti banyak konsep bagus lainnya, ketika sampai di tangan kita, maknanya sedikit bergeser. Slow living yang seharusnya bikin hidup lebih terarah, malah sering berubah jadi alasan untuk tidak tepat waktu. Tidak terburu-buru diartikan sebagai tidak perlu disiplin. Menikmati hidup diterjemahkan sebagai bebas dari tanggung jawab waktu. Akhirnya, kita punya pembenaran baru: telat itu bukan salah, tapi gaya hidup. Padahal kalau jujur, ini bukan slow living. Ini lebih mirip slow responsibility.
Dari Telat Sedikit ke Rugi Banyak
Yang sering dilupakan dari budaya ngaret adalah: dampaknya jarang terasa langsung—sampai suatu hari terasa sekaligus. Dalam kasus santri tadi, dampaknya jelas: tiket hangus, rencana berantakan, rombongan terganggu. Tapi yang lebih menarik, ini bukan sekadar soal kehilangan pesawat. Ini soal bagaimana satu kebiasaan kecil bisa menghasilkan konsekuensi besar.
Dan kalau diperluas sedikit saja, dampaknya jadi lebih serius. Bayangkan kalau mentalitas ini dibawa ke dunia kerja. Rapat molor, proyek tertunda, pelayanan publik lambat. Semua terasa “sedikit terlambat”, tapi jika dikumpulkan, hasilnya adalah sistem yang tidak efisien. Kita sering ingin hasil yang cepat, tapi kebiasaannya yang justru lambat.
Kita Mau Indonesia Emas, Tapi Jamnya Masih Karet
Di saat yang sama, kita sedang sering bicara tentang Indonesia Emas 2045. Bonus demografi. Generasi unggul. Daya saing global. Semua terdengar besar, ambisius, dan optimistis. Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang jarang ditanyakan:
“Kalau urusan datang tepat waktu aja masih sering negosiasi, kita mau bersaing di level global pakai apa?”
Negara maju bukan cuma soal teknologi canggih atau gedung tinggi. Salah satu fondasi paling sederhana—dan paling membosankan—adalah disiplin waktu. Tepat waktu bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari profesionalitas.
Sementara kita? Masih sering menganggap telat sebagai sesuatu yang manusiawi, bahkan kadang dimaklumi dengan “biasa aja”. Masalahnya, masa depan tidak dibangun dari kebiasaan yang “biasa aja”.
Mungkin Kita Memang Perlu Mulai dari Hal Receh
Solusinya sebenarnya tidak rumit. Tidak perlu menunggu kebijakan besar atau revolusi sistem. Mungkin cukup mulai dari satu hal kecil: “berhenti menganggap telat itu wajar.”
Datang tepat waktu bukan soal jadi kaku atau terlalu serius. Ini soal menghargai orang lain. Soal memahami bahwa waktu bukan hanya milik kita sendiri.
Institusi pendidikan—termasuk pesantren, sekolah, kampus—punya peran penting di sini. Tapi jujur saja, tanpa perubahan cara pandang, aturan seketat apa pun akan selalu bisa dicari celahnya.
Dan soal slow living, mungkin memang perlu kita luruskan pelan-pelan. Hidup santai itu boleh. Tidak harus terburu-buru. Tapi santai bukan berarti seenaknya. Tenang bukan berarti lalai.
Kalau semua dibebaskan atas nama “menikmati hidup”, jangan heran kalau suatu saat yang hilang bukan cuma waktu, tapi juga kesempatan.
Pesawat Itu Tidak Menunggu
Kasus 29 santri yang tertinggal pesawat seharusnya cukup jadi pengingat sederhana: “ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa menunggu kita siap.” Waktu salah satunya.
Indonesia Emas 2045 juga begitu. Ia tidak akan datang hanya karena kita sering membicarakannya. Ia butuh kebiasaan kecil yang konsisten—termasuk sesuatu yang sering kita anggap sepele: datang tepat waktu. Karena pada akhirnya, masalahnya bukan pada siapa yang tertinggal pesawat. Masalahnya adalah, jangan-jangan kita semua memang masih nyaman hidup sedikit terlambat.
