Akhirnya, Pahom mati. Tepat ketika matahari terbenam. Pelayannya menggali tanah sebidang, sekitar 1,8 meter, untuk menguburkan tubuhnya. Sebagai petani yang awalnya miskin, dia mati bukan karena kelaparan, tapi karena kelelahan. Kekuatan tubuhnya tak sebanding dengan kekuatan ambisinya.
Pahom, petani yang selalu ingin memiliki lahan luas, tergiur pada tanah suku Bashkir, yang menjual tanah dengan harga murah. Suku itu hanya memberi syarat: seberapa banyak tanah yang bisa dikelilingi dengan jalan kaki dalam sehari, dari matahari terbit hingga terbenam.
Cukup bayar dengan harga murah, dan orang itu sudah bisa memiliki lahan seluas yang dia inginkan. Tapi Pahom berjalan terlalu jauh dari titik mula. Tubuhnya tak sanggup menopang ambisinya, hingga habis tenaga. Meski berhasil mencapai titik di mana ia bermula, tapi dia tak jadi memiliki tanah yang berhasil dikelilinginya.
Pahom mati. Dan, tubuhnya hanya butuh tanah sekitar 1,8 meter sebagai kuburannya.
*****
Leo Tolstoy sangat piawai membuat cerita pendek. Dan, Pahom, merupakan tokoh utama dari cerita buatannya yang berjudul Seberapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seseorang? Dari cerita itu, Tolstoy secara cantik menggambarkan bahwa, obsesi terhadap materi hanya akan menghancurkan diri sendiri.
Bagi kita warga desa di Indonesia dengan klaim masyarakat beragama, cerita yang dirangkai Tolstoy tersebut memiliki nilai religiositas yang dalam. Cerita itu membawa pesan: serakah tak membawa berkah bahkan pada tubuh yang telah tersungkur lelah.
Namun, cerita Pahom juga terjadi dalam dunia nyata di desa kita. Selalu ada, meski hanya satu atau dua, seorang petani yang terlalu tajam cangkulnya.
Cangkul tak hanya digunakan mengolah tanah dan menyiangi gulma, tapi juga mengikis batas yang disepakati. Sedikit demi sedikit. Segacrok demi segacrok, hingga hari berganti musim dan kambing beranak-pinak. Dan setelah bertahun-tahun, pemilik sawah di sebelahnya baru sadar ada yang berkurang dari ukuran sawahnya.
Cerita petani dengan cangkul yang terlalu tajam ini, hampir pasti ada di setiap desa. Ribut soal batas sawah pun terjadi. Para perangkat desa, sebagai tangan panjang pemerintah negara ini, kemudian menjadi juru damai, yang terkadang masalah itu bisa selesai, kadang juga tidak selesai.
Perjuangan kepemilikan lahan atau sawah kerap mengejutkan kita. Tak sedikit kasus antar saudara, saling kelahi sampai berkalang nyawa. Dan pemerintah telah bertahun-tahun menjadi penengah, dalam kisah kasus yang sama, yang berulang sepanjang sejarah.
Bisa jadi, sawah memang menyimpan dua cerita utama: sebagai sumber nafkah dan sebagai panggung bagi sifat manusia yang paling tua, yakni serakah.
*****
Mungkin, para petani tetangga kita tak pernah mendengar nama Pahom. Namun, cerita Tolstoy itu seperti pengulangan kisah yang sama, di setiap musim tanam, di setiap jengkal tanah yang memiliki aroma dan cuaca yang berbeda.
Karena itulah, Tolstoy tetap relevan sampai saat ini. Bahkan, di tanah yang berjarak ribuan kilometer dari tempat lahir sastrawan itu menuliskan karyanya.
Pahom, mati berlari mengejar tanah yang akhirnya tak berhasil ia nikmati. Sedang para petani di sini, berebut sepetak sawah hingga bisa berkalang tanah. Dan pemerintah, telah menjadi kanal untuk menambatkan dan menyelesaikan ini: masalah batas tanah.
Jika seorang petani bisa tergoda menggeser batas hanya untuk memiliki tambahan sejengkal sawah, pertanyaannya: apa yang terjadi ketika keserakahan yang sama dimiliki oleh pihak dengan alat jauh lebih besar daripada cangkul?
Sejarah tanah tidak hanya berisi pertikaian antarpetani. Ada saat ketika pemerintah tidak berdiri di tengah, tapi justru menjadi subjek bermasalah.
Mereka tak lagi jadi penengah. Dengan alat, modal dan kekuasaan yang besar, mereka memiliki kemampuan untuk mengubah ribuan hektar hutan di Kalimantan dan Papua menjadi hamparan sawah dan lahan dengan alasan ketahanan pangan. Dalam bentuk yang berbeda, pemerintah pun dapat tergoda oleh keyakinan yang sama: bahwa setiap persoalan pangan selalu dapat diselesaikan dengan menambah hamparan.
Barangkali, kebutuhan pangan memang nyata. Barangkali, sawah baru memang diperlukan. Tapi, jika di desa batas sawah bergeser karena cangkul, di Papua batas hutan bergeser karena buldoser. Alatnya berbeda, luasnya berbeda, pelakunya berbeda.
Namun, pertanyaannya tetap sama seperti yang diajukan oleh Tolstoy lebih dari seabad lalu: seberapa luas tanah yang kita butuhkan?
Pahom tidak mati karena kekurangan tanah. Ia mati karena tak pernah merasa cukup.
