Anak Pertama dan Beban yang Tak Terucap

- Advertisement -

Tahun 2021 adalah titik balik dalam hidup saya. Setelah lulus dari pondok pesantren, saya sebenarnya sudah memiliki rencana yang sederhana: mengabdi dan menjadi seorang ustadz. Jalan itu terasa jelas, bahkan terasa “cukup” bagi saya.

Namun, dua minggu sebelum wisuda, semuanya berubah. Orang tua saya datang menjenguk, lalu mengatakan satu kalimat yang tidak pernah saya lupakan: “Kamu itu anak pertama. Harus jadi contoh untuk adik-adik kamu. Kamu harus kuliah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengubah arah hidup saya sepenuhnya. Dalam waktu yang sangat singkat, saya harus mengejar ketertinggalan dari teman-teman yang sudah jauh hari mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Saya belajar dari nol, mencari informasi sendiri, dan mencoba memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya rencanakan. Singkat cerita, saya berhasil lolos.

Namun, perjuangan saya ternyata tidak berhenti di situ. Saya mulai kuliah di masa pandemi COVID-19, ketika semua sistem pembelajaran dilakukan secara daring. Waktu terasa lebih longgar, tetapi justru di situlah tekanan baru muncul. Setiap kali saya terlihat santai setelah kuliah online, saya sering dianggap malas—terutama oleh ayah saya.

Saya tidak pernah benar-benar tahu apa penyebabnya. Mungkin karena kejenuhan selama lockdown, mungkin karena tekanan ekonomi, atau mungkin karena ekspektasi besar terhadap saya sebagai anak pertama. Di tengah kondisi itu, muncul tuntutan baru: saya diminta untuk menjalankan bisnis MLM. Sebagai seseorang yang memahami nilai-nilai agama, saya memilih untuk patuh kepada orang tua. Saya menjalani kuliah sambil mencoba menjalankan bisnis tersebut. Namun, menjalankan dua hal sekaligus tanpa fokus yang jelas membuat saya goyah.

Di sisi lain, kondisi ekonomi saat pandemi memang tidak baik. Banyak orang kehilangan pekerjaan, dan secara perlahan muncul dorongan—meski tidak selalu diucapkan secara langsung—agar saya lebih fokus menghasilkan uang.

Akhirnya, kuliah saya mulai terbengkalai. Saya memilih fokus pada bisnis MLM, dengan harapan bahwa apa yang saya lakukan akan membawa keberkahan karena saya menjalankannya atas restu orang tua. Awalnya, semuanya tampak berjalan lancar. Saya mulai melihat hasil, dan saya berpikir bahwa mungkin inilah jalan saya.

Namun, saya salah. Bisnis MLM memiliki sistem yang tidak sederhana. Keuntungan terbesar ada di atas, sementara yang berada di bawah seringkali hanya mendapatkan sisa. Saya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres, tetapi semuanya sudah terlanjur berjalan.

Sampai suatu hari, semuanya berubah drastis. Saya didatangi oleh sekelompok anak muda yang marah. Mereka mengaku bahwa orang tua mereka mengalami kerugian setelah mengikuti bisnis yang saya jalankan. Dari situ, tekanan tidak hanya datang dari dalam rumah, tetapi juga dari luar. Hari-hari saya berubah menjadi penuh ketakutan. Saya diteror, didatangi, bahkan sampai ada yang melemparkan batu yang diikat dengan kain berisi pesan ancaman: “Jangan harap hidup lu tenang.”

Di titik itu, saya tidak hanya merasa gagal—saya merasa hancur. Yang lebih menyakitkan, di saat saya membutuhkan dukungan, orang tua saya justru semakin menyalahkan saya. Saya merasa seperti eksperimen yang gagal. Apa yang saya jalani bukan lagi tentang pilihan, tetapi tentang konsekuensi dari tekanan yang tidak pernah benar-benar saya pahami sejak awal.

- Advertisement -

Kuliah saya terbengkalai.Bisnis yang saya jalani justru membawa masalah. Dan saya kehilangan arah. Dari pengalaman itu, saya mulai menyadari satu hal: menjadi anak pertama bukan hanya tentang menjadi contoh, tetapi seringkali juga tentang menjadi beban harapan yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Dan tidak semua ketaatan berujung pada ketenangan.

Facebook Comment
- Advertisement -